Aroma Wangi Budidaya “Si Emas Hijau” Vanili

Budidaya vanili bisa menjadi salah satu alternatif yang menguntungkan.Terutama jika lahan berada di dataran rendah dengan tanah yang banyak mengandung humus dan bertekstur sandy loam (lempung berpasir). Karena harga julanya yang tinggi vanili sampai memiliki julukan “emas hijau”. Keuntungan budidaya dari perkebunan dengan luas satu hektar dapat menghasilkan keuntungan bersih Rp277.534.436 per tahun. Bagian paling ekonomis dari vanili adalah buahnya yang berbentuk polong dengan harga kering bisa mencapai lebih dari 3 juta rupiah per kg. Tanaman ini tumbuh memanjat dan batangnya menyulur. Biasanya tanaman ini dibudidayakan butuh naungan dan bisa digunakan paranet untuk mengatasinya.

Manfaat Vanili

Vanili dimanfaatkan sebagai pengharum makanan, permen, ice cream, dan minuman. Aroma sedap dari vanili ini juga bisa dimanfaatkan untuk aroma terapi, sedangkan di bidang kesehatan, jika dipadukan dengan madu akan lebih banyak manfaatnya, antara lain sebagai penambah nafsu makan, meningkatkan daya tahan tubuh dan stamina, serta memperlancar peredaran darah. Vanili merupakan salah satu tanaman rempah yang bernilai ekonomi cukup tinggi dan berorientasi ekspor. Kebutuhan dunia akan vanili sangat tinggi seiring dengan berkembangnya industri berbasis vanili.

Kualitas Vanili Indoensia

Tanaman vanili tumbuh lebih subur dan lebih produktif di Indonesia yang beriklim tropis, dibandingkan dengan negara asalnya (Meksiko) dan negara produsen vanili aslinya. Kualitas vanili Indonesia yang dikenal dengan “Java Vanilla Bean” masih yang terbaik di dunia. Hal ini didasarkan atas kadar vanilinya yang cukup tinggi, yakni sekitar 2,75%. Kadar tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan kadar vanili Madagaskar yang hanya 1,91-1,9% ; Tahiti 1,55-2,02%, Meksiko 1,89- 1,98%, dan Sri Lanka 1,48%. Faktor internal yang mendukung pengembangan vanili di Indonesia adalah lahan yang cukup luas dan jauh melebihi luas negara pesaing seperti Madagaskar dan Meksiko.

Posisi Vanili Indonesia

Ditinjau dari perspektif spasial dan bisnis, maka Indonesia unggul secara komparatif dibanding negara-negara produsen vanili lainnya di dunia. Secara umum, vanili bernilai ekonomis tinggi dan fluktuasi harganya relatif stabil jika dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya. Namun pada kenyataannya ironi, meskipun kualitas vanili Indonesia menduduki posisi paling tinggi di dunia, tetapi secara kuantitas Indonesia baru bisa memasok sebagian kecil dari total kebutuhan pasar dunia. Kesempatan tersebut harus dimanfaatkan sebaik mungkin dengan tindakan-tindakan seperti meningkatkan produktivitas yang dapat dilakukan dengan perluasan areal pertanaman vanili maupun rehabilitasi atau peremajaan.

Budidaya Vanili

Tanaman ini tidak dapat langsung menghasilkan pada awal masa budidaya. Umumnya memerlukan waktu 4 tahun hingga dapat menghasilkan keuntungan ekonomis. Pengeluaran biaya terbanyak terjadi pada tahun ke empat. Hal ini disebabkan oleh banyaknya kegiatan yang dilakukan antara lain mengawinkan bunga vanili yang membutuhkan banyak tenaga kerja sehingga mempengaruhi banyaknya biaya yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut. Umur ekonomis vanili idealnya 13 tahun, setelah memasuki waktu tersebut tanaman perlu diganti atau peremajaan. Meskipun baru menghasilkan keuntungan pada tahun ke empat (Payback Period), dalam artian tidak menghasilkan pada tahun pertama hingga ke tiga budidaya vanili tetap menguntungkan secara keseluruhan.

Prospek Bisnis

Prospek budidaya vanili Indonesia pernah diriset di daerah Sulawesi dan menunjukkan bahwa usahatan liayak secara finansial dengan berdasar pada kriteria penilaian investasi yang diperoleh nilai NBCR (Net Benefit Cost Ratio) sebesar 19,266, NPV (Net Present Value) sebesar 49,243, dan IRR (Internal Rate of Return ) sebesar 220,06%. Hal ini berarti kemampuan pembudidaya untuk mengembalikan modal cukup tinggi. Hasil penelitian tersebut menguatkan pernyataan bahwa bisnis budidaya vanili Indonesia menjanjikan. Pada akhirnya memulai untuk menanam vanili adalah langkah awal menuju kesuksesan. Tertarik mencoba?