Mengajak Anak Mengenal Pertanian Sejak Dini

Anak yang berada pada rentang usia mulai 1 tahun hingga 12 tahun merupakan fase yang tepat untuk tumbuh kembang anak. Fase anak-anak tersebut dibagi menjadi fase anak kecil (1-6 tahun) dan fase anak besar (7-12 tahun). Pada kedua fase inilah setiap hal yang dipelajari oleh anak akan membentuk karakter anak hingga dewasa. Tidak hanya akademik atau pelajaran-pelajaran yang diterima di sekolah formal saja, mengenalkan dan mengedukasi anak tentang alam juga penting, salah satunya mengenai pertanian.

Pada era modern yang penuh dengan teknologi ini, edukasi pertanian pada anak sangat penting untuk mengajarkan pada anak bagaimana cara menghargai serta menyayangi alam, menghargai pekerjaan petani, nelayan, dan peternak, serta cara melestarikan dan menjaga alam itu sendiri. Terdapat banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengenalkan anak pada pertanian, berikut merupakan beberapa tips mudah agar anak tertarik dan mau mempelajari berbagai aspek pertanian seperti cocok tanam maupun ternak hewan.

Mengajak Liburan ke Agrowisata

Ketika memasuki musim liburan, biasanya orangtua ingin mengajak keluarganya berwisata. Nah, tidak ada salahnya untuk mulai melakukan liburan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga dapat mengedukasi anak-anak, yakni dengan berkunjung ke agrowisata.  Agrowisata memadukan antara pariwisata dengan pertanian, sehingga tidak hanya berwisata, pengunjung juga dapat merasakan serta mempelajari bidang pertanian sekaligus. Di indonesia agrowisata mulai berkembang karena wisatawan peminat agrowisata semakin banyak, misalnya agrowisata perkebunan teh tambi yang berlokasi di Wonosobo, Jawa Tengah. Di sana, wisatawan dapat melihat hamparan perkebunan teh yang sangat luas, tidak hanya itu, wisatawan juga dapat melihat proses pembuatan teh dari pemetikan pucuk teh hingga menjadi bubuk dan di kemas. Selain perkebunan teh, agrowisata lain yang tak kalah menarik ada di Yogyakarta, yakni perkebunan buah naga di Sabila Farm, berlokasi di Kaliurang.

Beberapa agrowisata bahkan menghadirkan beberapa komoditas tanaman yang dibudidayakan, juga menggabungkan peternakan dan perikanan seperti di Caping Merapi, Yogyakarta, serta Kusuma Agrowisata yang berlokasi di Batu, Malang, Jawa Timur. Kedua agrowisata ini memberi kesempatan pada wisatawan untuk memetik hasil pertanian yang dapat dibeli dan dibawa pulang. Tidak hanya itu, di sana juga tersedia berbagai macam bibit agar wisatawan dapat menanam sendiri di rumah.

Selain itu, juga terdapat agrowisata lain yang mengajak wisatawan merasakan sensasi menanam padi di sawah, memberi makan ternak, maupun memancing ikan. Biasanya anak-anak sangat antusias pada kegiatan-kegiatan seperti ini, di samping itu juga agrowisata adalah tempat menarik untuk berswa foto sendiri maupun bersama-sama dengan keluarga atau teman.

Edukasi Melalui Permainan

Cara mudah untuk mengajarkan hal baru pada anak adalah melalui permainan. permainan dapat dilakukan melalui permainan papan (board game) dan aplikasi pada smartphone.

1.Board Game

Board game merupakan permainan yang dimainkan oleh dua orang atau lebih secara berhadapan dan saling mengatur strategi sesuai aturan untuk menjadi pemenang. Aturan permainan tergantung jenis board game yang dimainkan, contohnya monopoli dan ular tangga. Belum lama ini dikembangkan juga permainan pada board game yang bertema pertanian, diantaranya Ecofunopoly yang dimainkan seperti permainan monopoli, Agricola yang setiap pemainya berperan sebagai kepala keluarga petani, serta Cacao yang mengharuskan pemain berperan sebagai kepala suku yang harus menjamin kemakmuran suku dengan cara menanam dan berdagang kakao.

Board game cukup menarik karena tidak hanya bermain dan belajar, anak-anak juga dapat bersosialisasi dengan teman bermainnya.

2. Manfaatkan Teknologi Smartphone

Mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, tidak ada salahnya memanfaatkan perangkat smartphone untuk mengenalkan anak pada pertanian. Tahun 2000-an pada awal kemunculan permainan konsol seperti Playstation, terdapat salah satu permainan yang cukup terkenal dan menarik, yakni Harvestmoon. Seperti judulnya, dalam permainan tersebut tokoh utama yang dimainkan harus melakukan berbagai pekerjaan seperti bertani, beternak, memancing, dan sebagainya untuk bertahan hidup sehingga selain menghibur, permainan itu juga mengedukasi anak-anak mengenai pertanian serta merasakan menjadi petani dan peternak.

Saat ini, permainan semacam itu sudah tersedia pada berbagai aplikasi untuk perangkat smartphone, sehingga dapat dimainkan kapanpun. Beberapa aplikasi permainan tentang pertanian dan peternakan antara lain Animal Farm for Kids, Farm for Kids, dan lainnya cukup banyak tersedia di playstore. Tentunya diperlukan bimbingan dan pengawasan orangtua selama bermain.

Praktek Budidaya Langsung di Rumah

Kegiatan paling mudah dan menyenangkan untuk mengenalkan pertanian pada anak adalah melalui praktek langsung di rumah. Lakukan kegiatan cocok tanam dengan cara paling mudah, misalnya langsung menanam di pekaranngan rumah atau menggunakan polybag dan media tanam yang ada di sekitar rumah. Manfaatkan juga barang bekas yang ada, misalnya kaleng biskuit atau botol plastik bekas, kemudian diisi media tanam. Media tanam dapat di beli di toko pertanian apabila ketersediaan media tanam di rumah sangat minim.

Benih tanaman juga dapat dibeli di toko pertanian. Selain itu, mulailah dengan tanaman yang mudah ditanam seperti sayur-sayuran dan kenalkan pada anak pula nama setiap sayuran yang ditanam. Lakukan kegiatan menyiram secara rutin bersama anak hingga tanaman siap dipanen. Akan sangat menyenangkan apabila hasil budidaya tanaman di rumah ini dapat dikonsumsi langsung oleh anak-anak.

Kegiatan menanam langsung seperti ini akan mengajarkan banyak hal serta membentuk karakter penting pada anak mulai dari kedisiplinan, kesabaran, hingga bagaimana kerja keras dapat menghasilkan sesuatu yang diharapkan.

Pengenalan dunia pertanian pada anak memang sebaiknya dilakukan sejak dini, menurut Kepala BPTP-Balitbangtan Kalimantan Tengah, F. F. Munir, pengenalan edukasi pertanian sejak dini akan memunculkan kecintaan terhadap lingkungan sekitar mengingat mereka adalah generasi penerus pembangunan pertanian, maka perlu diarahkan pada sebuah mental yang mencintai lingkungan. Maka dari itu, diperlukan perilaku positif melalui pembentukan pola pikir anak-anak sejak usia dini.