Mengintip Produksi Benih Padi sebagai Agrobisnis Hulu (Bagian I: Penangkaran)

Proses Roguing

Produksi benih padi dilakukan untuk menjalankan usaha pemenuhan kebutuhan beras nasional. Kegiatan produksi benih padi adalah bentuk penyediaan input pertanian yang termasuk dalam bidang agrobisnis hulu. Pengertian agrobisnis sendiri adalah usaha komersial (bisnis) di bidang pertanian dalam arti luas dan bidang-bidang yang berkaitan langsung (direct) dengan pertanian tersebut. Benih padi yang dapat dikomersilkan harus memenuhi kriteria dan syarat-syarat benih bina tanaman pangan.

Benih bina tanaman pangan terdiri dari beberapa kelas. Klasifikasi kelas benih dibuat dengan tujuan agar ketersediaan benih mencukupi untuk kebutuhan para petani. Dengan klasifikasi ini produksi benih dilakukan secara berjenjang dan menjadi suatu alur produksi benih. Kelas benih bina yang dapat diproduksi ditentukan oleh alur produksi benih yang berbeda antar jenis benih. Produsen memproduksi benih dengan kelas Benih Pokok (BP). Benih Pokok adalah keturunan pertama dari Benih Dasar atau Benih Penjenis yang memenuhi standar mutu kelas BP dan harus diproduksi sesuai dengan prosedur baku sertifikasi benih bina atau sistem standardisasi nasional.

Benih padi diperbanyak melalui penangkaran yang harus diawasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB). Produsen benih dalam menjalankan usahanya perlu menerapkan fungsi manajemen yang terdiri dari perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, dan evaluasi pada proses produksi. Berikut ini merupakan artikel yang ditulis berdasarkan hasil pengamatan pada salah satu perusahaan produsen benih padi di Yogyakarta.

Perencanaan Proses Produksi

Kegiatan produksi benih padi perlu direncanakan minimal untuk satu tahun kedepan. Apabila perencanaan telah dibuat yang didalamnya termasuk varietas benih apa yang dihasilkan pada tahun berikutnya, berapa jumlah produksi dari varietas tersebut dan berapa biaya yang dibutuhkan. Kemudian produsen mengadakan pertemuan dengan kelompok tani untuk diajak bekerjasama dalam penangkaran benih padi. Hal ini dilakukan agar menguntungkan seluruh pihak.

Produsen bekerjasama dengan petani untuk mempermudah proses penangkaran, karena petani setempat lebih memahami kondisi lapangan. Bentuk kerjasamanya yakni petani menanam benih dasar di sawah mereka, hasil panen akan dibeli oleh produsen benih dengan MoU. Apabila petani tersebut sudah bersedia untuk bermitra sebagai penangkar, pihak produsen akan bertanya kepada masing-masing kelompok tani berapa jumlah anggota, dan luas lahan yang dimiliki oleh kelompok tani tersebut, dengan adanya kesepakatan antara kelompok tani dan produsen, barulah dirundingkan varietas apa yang cocok untuk ditanami pada lahan persawahan yang dimiliki oleh suatu kelompok tani.

Produksi Benih

Agar produk benih dapat dijual di pasaran, produsen harus mengantongi sertifikasi benih yang menandakan bahwa benih tersebut unggul dan bersertifikat. Dalam memproduksi benih tersebut tentunya melalui tahapan produksi terlebih dahulu sebelum benih padi dipasarkan. Dua kegiatan uatama produksi benih adalah penangkaran dan pengolahan calon benih.

Penangkaran

Kegiatan penangkaran memiliki beberapa tugas/ kegiatan pokok:

1. Pemilihan/ Penentuan Areal Penangkaran

Pemilihan lahan penangkaran harus subur dengan irigasi teknis atau yang memadai. Transportasi dapat dilakukan mudah dan dekat dengan jalan mobil/ truk. Daerah tersebut bukan daerah endemis hama dan penyakit. Serta sejarah lapangan harus jelas, bukan bekas tanaman sejenis yang berbeda varietas, serta berdekatan dengan lokasi pabrik benih.

2. Pemilihan/ Penentuan Kelompok Tani Penangkar

Kelomok petani yang dijadikan sebagai kelompok petani penangkar merupakan kelompok yang dapat dan mau diajak kerja sama dalam penangkaran. Kelompok tani tersebut memiliki kriteria sudah maju dan berpengalaman dalam budidaya tanaman, diupayakan lebih berpengalaman dalam penangkaran. Selain itu kelompok tani tersebut memiliki sejarah yang baik dalam berperilaku dan tidak bermasalah.

3. Pencatatan/ Administrasi Areal Penangkaran

Produsen melakukan pencatatan peta situasi lahan dan menyiapkan semua administrasi pendaftaran penangkaran ke BPSB.

4. Pelaksanaan Penangkaran dengan Baik

Sumber benih penangkaran dipastikan berasal dari kelas yang lebih tinggi, jelas asal usulnya, bermutu benihnya. Penangkar harus mengetahui dan memastikan tanggal semai dan tanggal tanam penangkaran.

5. Pelaksanaan Kegiatan Pemerikasaan Lapangan

Pemeriksaan lapangan (PL) meliputi:

  1. PL Pendahuluan, yaitu saat menjelang tanam.
  2. PL yang Pertama, yaitu pada fase vegetatif.
  3. PL yang Kedua, yaitu fase pertumbuhan.
  4. PL yang Ketiga, yaitu fase pada saat menjelang panen.

6. Roguing

Membuang tanaman yang berbeda dari varietas yang ditangkarkan sampai bersih. Sebaiknya dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemeriksaan lapangan. Selanjutnya dilakukan supervisi setelah pelasanaan roguing.

7. Pelaksanaan, Pengawasan Panen dan Pengangkutan Calon Benih dari Lahan ke Pabrik.

Peralatan panen dan kendaraan pengangkut harus bersih dari kotoran maupun sisa-sisa hasil panen sebelumnya. Karung penampung hasil panen harus bersih dari segala kotoran, biji tanaman lain, dan biji rerumputan. Karung yang dimaksud adalah karung hasil panen dari areal penangkaran. Pada lokasi dan waktu yang sama tidak dibolehkan panen lebih dari satu varietas. Hasil panen penangkaran harus langsung diangkut ke gudang pabrik, tidak diperbolehkan disimpan dahulu di lokasi/ kelomok tani. Seluruh kegiatan penangkaran harus dicatat dan didokumentasikan sesuai dengan peraturan yang berlaku secara tertib dan baik. Petugas lapangan dari produsen harus berkoordinasi dengan pihak intern maupun pihak ekstern untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan. Petugas lapangan wajib membuat laporan pekerjaan kepada kepala produsen.

[Selanjutnya: Mengintip Produksi Benih Padi sebagai Agrobisnis Hulu (Bagian II: Pengolahan Calon Benih)]