Mikroplastik, Ancaman Bagi Industri Perikanan Indonesia

Plastik merupakan bahan penting yang paling sering digunakan manusia dan belum ada yang mampu menggantikan posisinya. Keunggulan dari segi keterjangkauan harga, bahan yang kuat dan mudah dibentuk membuat plastik menjadi pilihan umum untuk membuat suatu barang.  Plastik ada pada tas, kemasan makanan, semua jenis peralatan rumahan atau industri,pakaian, kendaraan, cat dan pewarna lainnya, bahkan dalam pasta gigi dan produk perawatan kulit.  

Selain keunggulan dan kebutuhannya, plastik merupakan bahan yang dianggap tidak ramah lingkungan. Sebab plastik sulit terurai secara alami di alam. Keadaan itu membuat plastik menjadi polutan yang mampu mengganggu ekosistem yang ada.

 [Baca juga : Masalah Sampah Plastik : Bagaimana dan Sampai Kapan ?

Ekosistem terbesar dan terakhir yang menampung polutan plastik adalah laut. Plastik yang masuk ke dalam laut berasal dari sampah yang terbawa aliran sungai dan yang dibuang langsung dari pinggir pantai. Pada titik yang lebih jauh, polutan plastik berasal dari jalanan dan sampah rumah tangga di perkotaan atau perkampungan yang terbawa oleh aliran hujan, lalu mengalir ke selokan-selokan / saluran air menuju ke sungai.

Mikroplastik

Saat ini, kekhawatiran akan dampak dari polutan plastik di wilayah perairan telah sampai pada bentuk plastik yang terurai menjadi ukuran kecil yang sering disebut mikroplastik. Mikroplastik memiliki ukuran dibawah 5 milimeter atau seperti ukuran beras sampai pada ukuran mikroskopik.

Penelitian terbaru menyatakan bahwa mikroplastik sudah ditemukan pada kotoran manusia. Penelitian kecil itu mengambil sampel dari 8 partisipan yang berasal dari jepang, eropa dan rusia. Ada lebih dari 9 jenis plastik yang berukuran antara 50 sampai 500 micrometer. 20 partikel mikroplastik ditemukan setiap 10 gram feses. Polypropylene dan polyethylene menjadi plastik yang sering ditemukan.

Hasil peneltian ini menunjukkan bahwa plastik sudah masuk pada rantai makanan manusia dan pada akhirnya masuk ke dalam tubuh. Namun dampaknya bagi tubuh saat ini belum bisa disimpulkan oleh para peneliti karena belum ada penelitian yang membuktikan. Bisa jadi mikroplastik akan menyebabkan peradangan dalam organ akibat bentuknya yang tajam, atau bahkan bisa masuk ke aliran darah dan merusak sistem dalam tubuh. Ada juga peneliti yang meyakini bahwa mikroplastik bisa menjadi seperti bahan kimia yang lain, yaitu ada dosis tertentu yang diperbolehkan masuk ke dalam tubuh.

Ancaman Bagi Industri Perikanan

Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton. Berada di urutan ketiga adalah Filipina yang menghasilkan sampah plastik ke laut mencapai 83,4 juta ton, diikuti Vietnam yang mencapai 55,9 juta ton, dan Sri Lanka yang mencapai 14,6 juta ton per tahun.

 sampah plastik di dasar laut / tribunnews.com

Data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut . Kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.

Polutan plastik bukan hanya menjadi ancaman besar bagi kesehatan ekositem di laut namun juga mengancam industri perikanan di Indonesia. Jika di masa depan nanti ditemukan bahwa mikroplastik ternyata memiliki dampak buruk bagi kesehatan manusia, maka masyarakat dunia danĀ  industri makanan akan semakin sadar dan perhatian pada hal ini sehingga memunculkan sikap selektif terhadap makanan yang dipilih.

Produk perikanan Indonesia terancam tidak diterima oleh pasar internasional karena ikan-ikan yang berasal dari laut Indonesia terkontaminasi oleh mikroplastik.  Ditambah dengan belum adanya teknologi yang dapat menanggulangi limbah mikroplastik, maka ancaman itu bisa menjadi semakin nyata.

Hanya ada upaya peventif yang bisa kita lakukan dari sekarang. Mulai dari mengurangi kantong dan kemasan plastik sekali pakai, memisahkan sampah plastik saat akan dibuang, dan disiplin membuang sampah pada tempatnya. Seruan dan kampanye terkait tiga hal tersebut juga harus selalu digaungkan oleh semua pihak. Pemerintah juga harus berkomitmen dengan mengeluarkan kebijakan yang dibutuhkan untuk mengurangi sampah plastik. Terakhir,menghadirkan industri produk inovatif yang dapat menggantikan penggunaan plastik.