Menghadapi Musim Hujan dan Bersiap Musim Kemarau

Musim hujan dan kemarau yang diprediksi petani seperti pada masa-masa sebelumnya menjadi tak menentu akibat perubahan iklim. Kini musim berlangsung lebih lama atau ditunggu terlalu lama. Jika tanaman banyak bergantung pada musim maka perlu perhatian khusus, baik untuk musim sekarang atau setelahnya. Pengetahuan tentang tanaman yang dirawat menjadi hal yang mutlak diperlukan jika ingin mendapatkan hasil yang memuaskan. Dalam satu waktu dapat dilakukan tindakan dengan dua tujuan untuk kini dan nanti. Kali ini akan ada beberapa informasi perlakuan tepat pada tanaman untuk menghadapi musim hujan dan bersiap musim kemarau.

Lama Musim Hujan

Dalam dunia pertanian, musim menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan. Musim merupakan waktu tertentu yang berkaitan dengan keadaan iklim. Wilayah tropis Indonesia hanya memiliki 2 musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Menurut BKMG awal musim hujan 2018/2019 dimulai bulan Oktober 2018 dan diperkirakan memasuki puncaknya pada bulan Januari hingga Februari 2019. Tanaman tetap perlu diperhatikan selama musim hujan meskipun alam telah membantu dalam penyiramannya.

Perlakuan Tanaman

Saat memasuki musim hujan tanaman mendapat air yang cukup. Pertumbuhan menjadi lebih mudah terutama pada bagian daun. Selain itu lingkungan juga menjadi lebih lembab dari biasanya. Agar tanaman memberikan hasil yang memuaskan beberapa perlakuan dapat dilakukan :

1. Pemangkasan

Daun muda yang tumbuh mengarah ke dalam batang tanaman dipangkas. Biasanya, daun muda ini sering disebut dengan istilah tunas wiwilan. Hasil pemangkasan dapat memperindah dan menyeimbangkan bentuk tanaman. Secara agronomis pemangkasan mengatur dan mengarahkan pertumbuhan, merangsang pertumbuhan bunga dan buah, menyelamatkan tanaman dari hama dan penyakit, menyuburkan dan menyehatkan, hingga memperpanjang usia sekaligus meremajakan. Namun tidak semua tanaman memerlukan pemangkasan. Jenis tanaman yang tumbuh merumpun seperti keluarga heliconia, kana, bromelia, dan jahe-jahean, dan keluarga palma tidak memerlukannya.

2. Irigasi

Hujan memberikan air yang berlimpah pada tanaman. Jika hal tersebut tidak ditangani dengan benar akan menyebabkan tanaman menerima air berlebih hingga menjadi layu bahkan menyebabkan munculnya penyakit. Tindakan yang bisa dilakukan adalah membuat irigasi terutama jika tanaman ditanam di tanah langsung (bukan pot/polybag). Dengan dibuatnya irigasi dapat mengurangi risiko saat hujan mengguyur terus-menerus selama beberapa waktu dan tanah menjadi tergenang. Risiko lebih tinggi jika tanaman tidak memiliki akar yang kuat dan tergenang dalam waktu lama. Selain itu penting juga membuat tanggul kecil mengelilingi tanaman untuk mengantisipasi tergerusnya hara tanah di sekitar tanaman.

[Baca Juga: Mengenal Berbagai Macam Jenis Irigasi Pertanian]

3. Pemupukan dan Hindari Pembusukan

Pemberian pupuk NPK tergolong mudah sehingga tidak ada alasan untuk melewatkan proses ini. Pupuk dipendam pada media tanam sejauh 15 cm dari batang tanaman. Pupuk ini akan larut dengan sendirinya ketika terkena air hujan. Jangan lupa juga untuk menggemburkan dan menyiangi tanah. Hal ini bertujuan untuk memperbaiki sifat tanah dan porositasnya. Saat hujan tanaman rawan mengalami pembusukan. Tindakan yang dapat dilakukan yakni sedikit mengurangi media tanam (khususnya tanaman pot). Pengurangan ini bertujuan untuk menghindari pembusukan pada akar dan batang. Ketika musim kemarau tiba media tanam dapat ditambahkan kembali. Jika tanaman berada dalam pot, posisikan pot lebih tinggi dari tanah, dapat dengan meletakkan di atas batu bata atau sejenisnya.

Menghadapi Musim Kemarau

Sebelum musim hujan berakhir, beberapa tindakan bermanfaat dapat dilakukan seperti panen air hujan. Menghadapi musim kemarau setidaknya kita telah memiliki pengetahuan tentang perawatan tanaman pada musim tersebut. Sebenarnya secara tidak sadar tindakan yang dimaksud untuk menghadapi musim hujan ternyata juga bermanfaat pada musim kemarau. Untuk itu perlu dipastikan tindakan-tindakan tersebut tidak terlewatkan. Tanaman memiliki siklus musiman, terutama yang tanaman tahunan seperti buah-buahan. Hujan yang turun saat musim kemarau (kondisi kering) memang tidak baik untuk tanaman buah tropis. Ini disebabkan setiap tanaman membutuhkan kondisi kering selama beberapa bulan untuk merangsang munculnya bunga.

[Baca juga: Cara-Cara Panen Air Hujan untuk Kebutuhan Pertanian]

Kondisi kering memang memacu pertumbuhan generatif tanaman, sedangkan kondisi basah menyebabkan munculnya tahap vegetatif. Di musim hujan, pertumbuhan daun dan ranting menjadikan tanaman tampil sangat bagus. Namun, efeknya ialah bunga dan buah tidak akan muncul saat itu, tetapi akan muncul saat musim kemarau berikutnya.

Agar bunga dan buah muncul, pertumbuhan vegetatif (daun dan batang) tanaman perlu dihambat dengan cara mengatur pemberian air. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pembuatan irigasi, dengan maksud saat hujan turun air akan langsung terbuang ke tempat lain. Jika pertumbuhan vegetatif terjadi maka pertumbuhan generatif akan terhambat. Perlakuan ini dapat diiringi dengan pemangkasan tunas yang tumbuh. Tujuannya ialah seluruh energi yang diperoleh dari hasil proses fotosintesis dapat dipakai untuk pembentukan bunga dan buah. Apabila panen telah dilalui, tanaman segera dirawat untuk mengendalikan kondisinya. Tindakan perawatan ini antara lain pemangkasan dan pemupukan dengan kadar N (nitrogen) yang lebih dominan.