Pesona Buah dalam Peribahasa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), peribahasa merupakan rangkaian kata atau kalimat yang tetap susunannya dan biasanya digunakan sebagai kiasan, ungkapan, atau perumpaan untuk hal tertentu. Di dalam peribahasa biasanya digunakan suatu objek tertentu seperti benda mati, hewan, hingga tumbuhan. Salah satu objek yang biasanya juga dijadikan sebagai kiasan dalam peribahasa adalah buah-buahan. Berikut ini merupakan beberapa contoh peribahasa yang menggunakan buah sebagai kiasan, beserta makna dan ulasan singkat seputar buah tersebut.

Bagai Buah Simalakama, Dimakan Ibu Mati, Tak Dimakan Ayah Mati

Maksud peribahasa ini adalah ketika kita berada di situasi yang pelik atau dalam keadaan dilema, keputusan apapun dapat berdampak negatif atau merugikan.

Buah simalakama dalam peribahasa tersebut benar-benar ada, simalakama banyak tubuh di Sumatera, sehingga namanya berasal dari bahasa melayu. Buah ini disebut juga buah mahkota dewa atau bahasa jawa menyebutnya makutadewa atau makutoratu.

Buah asli simalakama (Phaleria papuana) berbentuk bulat, berwarna merah dengan diameter 3-6 cm. Selama pertumbuhannya, buah simalakama berubah warna dari hijau menjadi ungu, kemudian berubah lagi menjadi merah ketika masak.

Buah simalakama menjadi perumpamaan ketika menghadapi situasi sulit karena ternyata buah ini mengandung racun yang dapat memberikan efek pada tubuh seperti sariawan di mulut hingga kematian apabila tidak diolah dengan baik.

Di samping kandungan racun yang tinggi, sesungguhnya buah simalakama juga kaya kandungan zat penting yang juga bermanfaat untuk berbagai penyakit. Zat yang terkandung dalam simalakama antara lain alkaloid yang berfungsi sebagai detoks racun dalam tubuh, saponin sebagai anti bakteri dan virus, meningkatkan kekebalan tubuh, mengurangi kadar gula dalam darah dan mencegah penggumpalan darah. Selain itu terdapat flavonoid yang dapat melancarkan peredaran darah, serta polifenol sebagai anti histamin (alergi).

Masak Buah Rumbia

Peribahasa ini bermakna sesuatu yang mustahil terjadi atau sulit diperoleh.

Buah rumbia pada kenyataannya adalah buah yang mulai langka. Pohon rumbia disebut juga pohon sagu,  rumbia banyak tumbuh di Sumatera, khususnya Aceh. Buah dengan bentuk fisik menyerupai salak dengan kulit buah bersisik namun ukuran sisik rumbia lebih besar dari salak. Buah ini banyak tubuh di rawa-rawa, aliran sungai, atau tanah bancah lainnya.

Buah rumbia yang masak diumpamakan sebagai sesuatu yang tidak akan terjadi, karena buah ini tidak terlihat matang atau masak meskipun sudah waktunya. Buah ini berwarna hijau meskipun telah masak dan rasanya sepat, meskipun rasa sedikit manis akan muncul ketika buah ini sudah tua. Karena rasanya yang sepat, masyarakat biasanya menyantap buah ini dengan diasinkan atau diolah menjadi rujak bersama dengan buah lainnya. Walau keadaan fisik dan rasa buah rumbia yang tidak begitu nikmat seperti buah pada umumnya, buah rumbia cukup banyak memiliki khasiat. Buah rumbia dapat dijadikan obat untuk masalah pencernaan, seperti perut kembung dan diare, juga dapat menjaga kesehatan gigi, serta aman dikonsumsi bagi penderita diabetes karena tidak meningkatkan kadar gula dalam darah.

Bagai Kena Buah Malaka

Peribahasa ini mengumpamakan rasa terkejut karena mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkan, seperti penghinaan dan semacamnya.

Pohon malaka (Phyllanthus emblica) berkerabat dekat dengan ceremei. Nama malaka berasal dari nama Kesultanan Melaka yang berkuasa di semenanjung Malaya dan pesisir Sumatera pada tahun 1402-1511 M. Diperkirakan tanaman ini berasal dari India atau Nepal.

Buah malaka menyerupai buah ceremei dengan bentuk lebih bulat, berwarna kuning, kuning kehijauan, atau kecoklatan. Rasa buah ini masam agak getir, rasa ini lah yang membuat buah ini dijadikan perumpamaan ketika memperoleh sesuatu yang mengejutkan dan tidak diharapkan. Untuk mengatasinya, buah malaka diolah menjadi manisan agar dapat dikonsumsi dengan nikmat.

Tanaman malaka ini juga memiliki banyak khasiat, baik daun, akar, maupun buahnya. Buah malaka sendiri mengandung berbagai zat aktif, salah satunya polifenol. Buah malaka biasa dimanfaatkan sebagai obat herbal untuk mengatasi batuk, batuk berdarah, kencing manis, sariawan, dan sakit gigi.

Seperti Buah Bemban Masak

Peribahasa tersebut adalah perumpamaan air mata yang jatuh bercucuran, atau kondisi ketika seseorang menangis hingga air matanya bercucuran.

Bemban (Donax canniformis) adalah tanaman berumpun dengan tinggi 3-5 m, banyak tumbuh di tepi sungai atau sekitar lembah dalam hutan, dan tempat-tempat yang basah. Buah bemban berbentuk bulat, berwarna hijau ketika muda dan berubah menjadi putih kekuningan ketika masak. Buah bemban yang kecil-kecil itu akan berjatuhan ketika sudah masak.

Tanaman bemban cukup banyak memiliki khasiat untuk pengobatan. Kandungan senyawa saponin, flavonoid, dan polifenol berkhasiat unuk berbagai penyakit, seperti untuk peradangan/pembengkakan, obat bisul, mempercepat penembuhan luka akibat gigitan ular, serta ekstrak daun bemban dapat digunakan sebagai obat tetes mata. Batang bemban juga dapat dimanfaatkan sebagai anyaman. Batang yang telah dibersihkan buku-bukunya kemudian disayat memanjang bagian kulitnya yang berwarna hijau, lalu diolah dan dikeringkan hingga berwarna kecoklatan. Batang bemban cocok sebagai bahan anyaman untuk berbagai kerajinan seperti keranjang atau tikar.

Tebak-tebak Buah Manggis

Buah manggis sudah menjadi buah umum yang dikenal masyarakat, yakni buah berbentuk bulat dengan kulit berwarna ungu tua yang agak keras dan tebal, warna daging buah manggis umumnya adalah putih. Peribahasa tebak-tebak buah manggis diartikan sebagai kiasan untuk memperkirakan atau menebak sesuatu yang tidak pasti.

Awal mula munculnya peribahasa ini adalah karena keistimewaan buah manggis itu sendiri. Jika diperhatikan, bagian bawah buah manggis terdapat sesuatu berbentuk bintang atau kelopak bunga. Bagian bawah ini lah yang dapat menunjukkan seberapa banyak ruas daging di dalam buah manggis tersebut dengan menghitung jumlah ruas bintang/kelopak bunganya.

Mengetahui keistimewaan buah ini, pemuda saat itu menjadikan buah manggis sebagai sebuah permainan dengan membuang tanda di bawah buah manggis ini kemudian meminta temannya untuk menebak berapa jumlah ruas daging buah manggis tersebut. Hal tersebut yang memunculkan peribahasa tebak-tebak buah manggis yang cukup terkenal itu hingga saat ini.

Ulasan mengenai peribahasa dan buah-buahan sudah terangkum dalam infografis di bawah ini.