Alih Fungsi Lahan, Tantangan yang Harus Dihadapi Pembangunan Pertanian Indonesia

Seiring perkembangan zaman, perkembangan sektor industri bertumbuh semakin cepat. Banyak lahan pertanian yang digunakan untuk kepentingan pembangunan infrastruktur industri. Alih fungsi lahan pertanian ini menjadi isu penting dalam konteks pembangunan pertanian nasional yang semakin terhambat. Lahan pertanian semakin sempit, padahal kebutuhan pangan semakin meningkat.

Swasembada pangan yang ditargetkan pemerintah dikhawatirkan semakin sulit terealisasi jika alih fungsi lahan masih marak terjadi. Pemerintah sebenarnya sudah memiliki payung hukum untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu pada Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2014 tentang konservasi lahan, Undang-Undang nomor 37 Tahun 2013 tentang perlindungan dan pemberdayaan petani, serta Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2009 tentang perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan dan air. Namun jika dilihat sekarang peraturan ini belum sepenuhnya terlaksana.

Banyak yang menjadi penyebab terjadinya alih fungsi lahan pertanian. Salah satunya adalah tuntutan kebutuhan dalam mengembangkan bisnis para investor yang memaksa menggunakan lahan pertanian untuk dijadikan target. Hal ini dapat terjadi karena petani yang hidup kurang sejahtera dari hasil lahan mereka. Terdapat ketidaksesuaian biaya operasional yang dikeluarkan dengan harga jual hasil pertaniannya. Petani juga tidak menerima jaminan dari pemerintah untuk mendapat kesejahteraan yang layak. Dan pada akhirnya petani terpaksa menjual lahan mereka kepada investor untuk beralih profesi agar mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik.

Generasi muda yang tidak ingin penjadi petani untuk meneruskan pekerjaan orang tuanya juga menjadi faktor utama tingginya alih fungsi lahan. Generasi muda cenderung memilih pekerjaan di luar bidang pertanian yang menurut mereka bisa lebih menghasilkan. Mereka lebih memilih menjual lahan untuk dijadikan modal usaha di bidang lain.

Dampak yang ditimbulkan dari alih fungsi lahan antara lain adalah menurunnya produksi pangan. Apabila tidak ada lahan maka ketersediaan pangan akan semakin sedikit. Hal ini akan menyebabkan semakin mahalnya harga pangan karena ketersediaan barang tidak sesuai dengan permintaan yang ada. Selain itu adalah para buruh tani yang kehilangan pekerjaan karena tidak ada lagi lahan yang mereka garap. Bagi alam, alih fungsi lahan ini mengancam keseimbangan ekosistem dan merusak lingkungan. Hal ini dapat menimbulkan bencana seperti banjir karena ketersediaan serapan air yang semakin berkurang.

Alih fungsi lahan bisa dikendalikan memperketat peraturan yang ada. Menteri Pertanian Amran Sulaiman sudah berjanji akan memperketat peraturan tentang alih fungsi lahan. Amran mengatakan jika hal tersebut berimbas pada menipisnya produksi bahan pangan. Kementan sudah berkoordinasi dengan kementrian lain untuk memperkuat aturan alih fungsi lahan, seperti Kementrian Agraria, Kementrian Tata Ruang, dan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Amran juga akan melakukan strategi cetak sawah baru untuk meningkatkan produksi pangan negeri.

Pengendalian alih fungsi lahan pertanian harus mencakup semua aspek dari mulai hulu sampai hilir. Cara ini bisa ditempuh dengan mengembangkan infrastruktur pertanian, seperti irigasi, jalan usahatani, dan gudang. Selain itu penyediaan input dan sarana pertanian yang mudah diakses petani. Dukungan terhadap pembiayaan atau permodalan juga perlu ditingkatkan. Hal lain yang tidak kalah penting alah jaminan pasar atas produk pangan yang dihasilkan petani. Perlindungan petani atas potensi kegagalan panen juga harus menjadi prioritas kebijakan dan program, seperti pengadaan asuransi pertanian. Semua hal ini harus mendapat dukungan maksimal dari pemerintah.

Banyak aspek harus bekerja sama dalam proses pengendalian alih fungsi lahan. Dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah harus tegas dalam penegakan peraturan yang ada. Perlindungan terhadap Petani dan lahan pertaniannya harus berkelanjutan untuk menstabilkan ketersediaan pangan dan mewujudkan swasembada pangan untuk Indonesia.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.