Bahan Bakar Alternatif dari Limbah Perikanan

Minyak ikan dan biodiesel / Biodisol.com

Kebutuhan akan bahan bakar minyak terus mengalami peningkatan. Saat ini, 80% kebutuhan energi global dihasilkan dari bahan bakar fosil, padahal penggunaan bahan bakar fosil yang sangat besar ini mampu menimbulkan perubahan iklim global, pencemaran lingkungan, dan masalah kesehatan. Tingkat konsumsi terhadap minyak rata-rata naik 6% per tahun. Hal ini diperkirakan akan terus meningkat setiap tahun, sehingga mengakibatkan persediaan minyak bumi Indonesia semakin menipis. (Hariyadi dkk., 2005).

[Baca juga: Biogas sebagai Sumber Energi Alternatif Pilihan]

Di negara berkembang seperti Indonesia, penggunaan bahan bakar minyak (BBM) masih sangat dominan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, antara lain untuk memasak, penerangan, kendaraan bermotor, serta sumber energi pembangkit listrik. Salah satu bentuk produk minyak bumi yang sekarang banyak dibutuhkan baik untuk industri maupun transportasi adalah minyak solar (petrodiesel). Laporan konsumsi BBM secara nasional periode 2016 yang dirilis BPH MIGAS menempatkan solar sebagai bahan bakar yang dikonsumsi tertinggi dengan jumlah 23 juta kiloliter diikuti Bensin jenis RON 88 sebesar 17 juta kiloliter. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengembangan bahan bakar alternatif yang dapat memenuhi kebutuhan minyak solar Indonesia.

Biodiesel sebagai Bahan Bakar Alternatif

Salah satu alternatif pengganti bahan bakar fosil adalah penggunaan minyak/lemak dari tumbuhan maupun hewan. Penggunaan minyak/lemak sebagai bahan bakar telah diuji coba dalam berbagai bentuk, mulai dari minyak nabati murni tanpa modifikasi (biofuel) hingga dalam bentuk metil atau etil esternya (biodiesel) yang memiliki sifat mendekati bahan bakar diesel.

Biodiesel merupakan salah satu solusi untuk memenuhi kebutuhan minyak solar di Indonesia. Biodiesel diolah dari minyak nabati dan lemak hewani yang mengandung trigliserida, yang terdiri dari tiga rantai asam lemak yang digabungkan oleh molekul gliserol. Proses pembuatan biodiesel merupakan proses reaksi molekul gliserol dengan methanol membentuk fatty acid methyl ester (FAME) yang disebut biodiesel. Melalui metode ini, trigliserida yang merupakan unit ester diubah ke dalam bentuk ester lain (alkil ester asam lemak) melalui pertukaran bagian alkoksida yang dikandungnya (Schuchardt dkk.,1998).

Produksi ikan di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya, maka akan meningkat pula limbah ikan yang dibuang. Apabila limbah tersebut tidak diolah tentu akan menyebabkan pencemaran lingkungan dan menimbulkan bau yang menyengat, karena proses pembusukan protein ikan. Sejauh ini pemanfaatan limbah ikan masih minimum. Limbah ikan yang melimpah, yaitu sekitar 20-30 persen dapat dimanfaatkan lagi, karena masih mempunyai kandungan minyak yang cukup tinggi, limbah ikan mengandung banyak asam lemak rantai sangat panjang dengan lebih dari 20 atom karbon yang sebagian besar mempunyai 5-6 ikatan rangkap (Samosir & Fadriyan, 2012).

Limbah Ikan untuk Biodiesel

Penelitian mengenai pemanfaatan limbah ikan untuk dijadikan biodiesel sudah banyak dilakukan. Mulai dari limbah ikan baung, ikan patin, jeroan ikan tuna sirip kuning, jeroan ikan nila hitam hingga minyak ikan lele dumbo. Beberapa penelitian itu sudah mampu menghasilkan biodiesel yang dapat langsung digunakan pada mesin diesel karena sifat fisika maupun kimia sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia.

Tantangan saat ini adalah bagaimana semua penelitian itu diaplikasikan dalam sebuah industri yang besar sehingga selain akan berdampak pada kesehatan lingkungan juga bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Kajian rancang bangun pabrik biodiesel yang sesuai untuk pengolahan limbah perikanan, supply chain system yang kuat untuk mendukung ketersediaan bahan baku dan investasi atau permodalan yang cukup menjadi hal yang perlu diselesaikan secara bersama-sama. Pemerintah harus mampu menunjukkan komitmen di bidang energi alternatif ini dengan membuat kebijakan yang mendukung serta menjadi fasilitator bagi seluruh stakeholder yang akan terlibat.

Referensi:

Hariyadi, P., N. Andarwulan, L. Nuraida & Y. Sukmawati. 2005. Kajian Kebijakan dan Kumpulan Artikel Penelitian Biodiesel. IPB. Bogor.

Schuchardt, U. Ricardo & S. Regerio, M.V.. 1998. Transesterification of Vegetable Oils: a review. J. Braz. Chem. Soc. Vol 9, 199-210

Samosir, B.G.I., Fadriyan A. 2012. Pengaruh Katalis Asam (H2SO4) dan Suhu Reaksi dalam Pembuatan Biodiesel dari Limbah Minyak Ikan, Sikripsi, SEMARANG: Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, UNDIP.