Bahaya Penggunaan Pupuk Kimia pada Budidaya Pertanian

Pemupukan lahan / blog.umy.ac.id

Pemupukan merupakan hal yang pasti dilakukan dalam melakukan aktivitas budidaya pertanian. Pupuk merupakan zat yang diberikan ke tanah guna meningkatkan ketersediaan hara maupun nutrisi bagi tanaman. Dengan pemupukan diharapkan mampu meningkatkan hasil budidaya sehingga akan memberikan hasil yang yang optimal dan menguntungkan secara ekonomi.

[Baca juga: Keuntungan Menggunakan Sistem Pertanian Organik]

Namun, proses pemupukan seringkali kurang diperhatikan oleh petani. Banyak dari mereka berlebihan dalam pemberian dosis pupuk ke tanah. Hal ini justru akan menjadi permasalahan yang serius ketika pupuk yang digunakan adalah pupuk kimia atau sintesis. Memang dalam jangka pendek akan meningkatkan hasil, namun perlu diketahui jika dalam jangka panjang hal tersebut justru akan bersifat merugikan. Berikut dampak penggunaan pupuk kimia jika diberikan secara berlebih.

Kerusakan Tanah

Pupuk kimia yang diberikan pada tanah dengan dosis yang berlebih mampu menurunkan kualitas tanah, bahkan bisa sampai tahap merusak. Tanah memiliki batas toleransi dalam menyerap kandungan zat pupuk kimia. Jika diberikan berlebih makan akan ada zat residu atau zat yang tidak bisa diserap oleh tanaman. Residu ini sifatnya beracun dan akan membunuh berbagai organisme tanah seperti cacing, jamur, dan bakteri.

Tanah yang sudah terkontaminasi dan tercemar zat kimia akan merusak struktur tanah, tanah akan menjadi keras dan tandus. Tanah menjadi tidak mampu lagi menyediakan air dan hara bagi tanaman. Femomena ini memang tidak terjadi dalam jangka pendek, namun jika dalam jangka panjang penumpukan zat kimia terus terjadi di tanah maka tidak menutup kemungkinan tanah akan rusak dan tidak mampu lagi berfungsi sebagai lahan budidaya.

Merusak Ekosistem

Selain berdampak pada tanah, penggunaan pupuk kimia juga akan berdampak pada kualitas air yang ada. Pupuk kimia umumnya mengandung zat seperti nitrit dan fosfat dimana ini bersifat racun untuk kehidupan akuatik. Residu zat kimia yang tidak terserap oleh tanaman mampu terbawa aliran air sampai ke sungai bahkan laut dan menjadi sumber pencemaran.

Pencemaran zat kimia dari pupuk dalam air bisa berupa eutrofikasi. Eutrofikasi merupakan kondisi dimana kandungan zat kimia seperti fosfat dalam air sangat berlebih. Fenomena ini tentu sangat berbahaya, terutama bagi manusia. Jika manusia mengonsumsi air yang terkontaminasi tersebut berisiko pada kesehatannya yang terganggu, seperti kerusakan ginjal dan osteoporosis.

Tanaman Menjadi Rentan

Tercemarnya bahan kimia dari pupuk dalam tanah tentu juga akan mempengaruhi kualitas tanamanannya. Rusaknya keseimbangan zat hara dalam tanah akan mempengaruhi tanaman secara langsung. Dampak yang paling mudah dilihat adalah tanaman menjadi mudah terserang hama dan penyakit. Hal ini menyebabkan tanaman menjadi sangat bergantung pada bahan kimia lain, seperti fenomena penggunaan pestisida kimia.

Tanaman tentu juga bisa terkontaminasi zat kimia. Akan terdapat residu bahan kimia pada tanaman yang dapat membahayakan siapa saja yang mengonsumsinya. Tentu dengan kandungan zat kimia dalam tanaman ini kualitas hasil panen jadi menurun, akan memiliki yang jauh lebih rendah dibanding produk tanaman lain yang dibudidayakan secara organik.

Bagaimana Solusinya?

Solusi yang paling tepat adalah dengan penerapan budidaya tanaman secara organik. Memang pada awal aplikasinya hasil yang didapat tidak sebanyak dibanding saat budidaya secara non organik. Dengan menerapkan budidaya organik ini diharapkan mampu mengatasi masalah lingkungan dari pencemaran zat kimia baik dari pupuk maupun pestisida kimia. Hasil yang didapat tentu juga akan memiliki kualitas yang lebih baik, baik dari segi kesehatan maupun jika dipasarkan akan memiliki harga jual yang lebih tinggi.