Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan saat Bertani secara Organik

Tanaman strowberry / Pexels

Bertani secara organik merupakan cara budidaya pertanian yang mengandalkan bahan atau input alami tanpa menggunakan bahan kimia. Cara ini sudah mulai banyak diterapkan oleh petani maupun masyarakat yang baru mulai bertani. Hal ini karena dengan cara organik produk yang dihasilkan tanaman akan memiliki kualitas lebih bagus dan sehat. Selain itu lahan dan lingkungan di sekitarnya tidak akan menerima dampak buruk seperti jika menggunakan bahan kimia.

[Baca juga: Sistem Pertanian Organik, Solusi bagi Kesejahteraan Petani?]

Banyak keunggulan yang dimiliki cara budidaya secara organik. Namun di samping itu juga perlu diperhatikan beberapa hal agar tanaman mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang sesuai harapan.

Persiapan Benih atau Bibit

Benih atau bibit yang akan ditanam harus berasal dari tanaman yang dibudidayakan secara organik. Hal ini karena perlu diperhatikan karena benih atau bibit yang akan menentukan kualitas pertumbuhan maupun perkembangan tanaman. Produk organik harus murni dari tanaman yang dibudidayakan secara organik.

Kondisi Lingkungan

Pastikan kondisi lingkungan bebas dari kontaminan bahan kimia. Bertani secara organik tidak boleh bersamaan atau berdekatan dengan pertanian lain yang tidak organik. Hal tersebut karena bahan kimia yang digunakan mampu mencemari ataupun menginfeksi tanaman organik yang dibudidayakan. Lahan yang masih tercemar juga harus melalui tahan konversi sampai lahan bisa dikatakan layak untuk digunakan kegiatan bertani secara organik.

Penanaman

Penanaman juga penting untuk menciptakan pertanian organik yang berkelanjutan. Penanaman bisa dilakukan secara polikultur atau melakukan rotasi tanaman. Selain itu juga bisa ditanam tanaman yang mampu bertumpang sari untuk memaksimalkan pertumbuhan secara alami.

Pengolahan Tanah

Bertani secara organik juga harus diperhatikan akar dapat menjadi media yang memiliki peran optimal. Pengolahan tanah harus seminimal mungkin untuk memperkecil kerusakan tanah, seperti pemadatan karena traktor. Selain itu pengolahan tanah harus mampu memicu perkembangbiakan organisme tanah dan memperhatikan aerasi tanah.

Pemupukan

Pemupukan dilakukan harus dengan pupuk organik. Jenis pupuk organik ini bisa bermacam-macam dan memiliki fungsinya masing-masing. Pupuk organik bisa dibuat dengan bahan organik yang berasal dari kebun, kotoran ternak, atau jerami yang diolah secara organik.

Pengairan

Pengarian pada pertanian organik juga perlu diperhatikan. Air yang digunakan tidak boleh asal-asalan dari sungai atau sumber. Air harus dipastikan bebas kontaminan bahan kimia.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)

Pada kegiatan pengendalian OPT tidak boleh menggunakan pestisida kimia. Pengendalian OPT harus menggunakan pestisida organik atau hayati serta memperhatikan keseimbangan ekosistem sekitar tanaman. Bisa menggunakan pestisida kimia atau buatan namun dengan syarat sudah terdaftar di IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements).

Pascapanen

Kegiatan pascapanen juga akan menentukan produk bisa dikatakan organik atau tidak. Jika menginginkan produk yang organik maka kegiatan pascapanen juga harus dilakukan secara alami atau dengan kata lain tidak menggunakan bahan kimia atau sintesis lainnya yang dapat mencemari produk.