Beragam Pengelolaan Lahan Ultisol untuk Optimalisasi Lahan Pertanian

Modifikasi lahan kerap dilakukan untuk optimalisasi lahan pertanian. Alih fungsi lahan subur di perkotaan yang menjadi perumahan atau perkantoran membuat pakar pertanian mulai membuat inovasi agar produksi tanaman tetap berlangsung. Salah satu upaya ialah menyulap lahan tidak subur, seperti lahan bekas pertambangan, lahan dengan tanah keras atau lahan pasir pantai.

Perlu diketahui sebanyak 25 % dari dataran tanah di Indonesia berjenis tanah Ultisol, khususnya daerah Sumatera dan Kalimantan. Jenis tanah ini tidak diperuntukkan untuk lahan pertanian karena daya resap air yang rendah, peka terhadap erosi, jumlah bahan organik dan hara yang minim, kadar Al yang tinggi, kapasitas tukar kation yang rendah, serta pH yang masam (pH 5-3,10).

[Baca juga: Dua Hal yang Perlu Diperhatikan untuk Menanam Cabai di Lahan Pasir]

Ultisols / Youtube

Tanah Ultisol dapat dimanfaatkan untuk tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, karet, dan tanaman pangan, namun pemanfaatan untuk pengembangan tanaman pangan masih mengalami banyak kendala.

Budidaya tanaman di lahan Ultisol / commons.wikimedia.org

Mengapa tanah Ultisol tidak subur?

Prasetyo dan Suriadikarta (2006) menuturkan bahwa tanah Ultisol dicirikan oleh adanya akumulasi liat pada horizon bawah permukaan sehingga mengurangi daya resap air dan meningkatkan aliran permukaan dan erosi tanah. Aliran permukaan dan erosi tanah ini menyebabkan proses dekomposisi berjalan cepat sehingga bahan organik rendah. Tanah yang padat membuat pertumbuhan akar terhambat sehingga daya tembus akar ke dalam tanah rendah.

Pengelolaan Lahan Ultisol

Ada tiga cara yang dapat dilakukan yaitu perbaikan tanah atau ameliorasi, pemupukan, dan pemberian bahan organik

1.   Perbaikan tanah dengan pengapuran

Pengapuran bertujuan untuk mengatasi kendala kemasaman dan kejenuhan Al yang tinggi. Kapur bertujuan untuk meningkatkan pH tanah dan menurunkan kadar Al.

  1.   Pemupukan

Tanah Ultisol memberikan respon yang baik terhadap pemupukan P (Fosfat) dari TSP atau P alami. Residu pupuk P dari pertanaman sebelumnya pada tanah Ultisol dapat memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman selanjutnya (Suriadikarta dan Widjaja-Adhi 1986).

  1.   Pemberian bahan organik

Penelitian Kurnia dkk tahun 2000 menyimpulkan bahwa bahan organik berupa sisa tanaman jagung, F. congesta dan Mucuna sp. sebagai mulsa efektif mencegah erosi. Selain itu dapat digunakan pupuk kandang. Penambahan bahan organic dapat memperbaiki sifat fisik tanah seperti pori air tersedia, indeks stabilitas agregat dan kepadatan tanah (Prasetyo dan Suriadikarta 2006).

4. Pemilihan media tanam yang sesuai

Selain ketiga hal di atas, diperlukan pemilihan media tanam yang tepat untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Penambahan serbuk sabut kelapa pada penelitian Hasriani dkk tentang Kajian Serbuk sabut Kelapa sebagai media tanam menghasilkan bahwa media serbuk sabut kelapa memiliki daya simpan air yang tinggi dan lebih cocok digunakan untuk kegiatan rehabilitasi lahan kritis di daerah beriklim kering. Sabut kelapa dengan kemampuan daya simpan air yang tinggi dapat menjadi pilihan untuk menutupi kekurangan tanah Ultisol yang mudah meloloskan air. Nah, berdasarkan hal tersebut, media tanam dari sabut kelapa untuk pengelolaan tanah Ultisol patut dicoba.

Media tanam selain sabut kelapa yang dapat digunakan, yaitu kombinasi pupuk P sebanyak 40 kg/ha, kapur 6,5 t/ha dan bahan organik (menggunakan pupuk kandang) 4,8 t/ha sebagai media tanam oleh penelitian Suriadikarta dkk tahun 1986 pada tanah Ultisol memberikan hasil jagung yang tinggi yaitu 3,6 t/ha.

Itulah beberapa informasi mengenai pengelolaan lahan dengan jenis tanah Ultisol. Tanah ini memerlukan modifikasi lahan agar dapat dimanfaatkan yaitu modifikasi dari segi pemupukan, pengapuran, pemberian bahan organik, serta komposisi media tanam yang baik. Dengan demikian tanah menjadi subur dan mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman budidaya.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Ayu Ainullah Muryasani

Agronomi Universitas Gadjah Mada. Untuk sharing dan diskusi: ayumuryasani@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.