Berkenalan dengan Permakultur

Pertambahan jumlah penduduk dunia meningkatkan kebutuhan ekonomi yang harus terpenuhi, mulai dari pangan, sandang, ruang, energi, dan sebagainya. Pola dan budaya hidup manusia yang terus berkembang seiring majunya peradaban tidak diimbangi oleh kualitas lingkungan yang menjadi penopangnya. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan usaha pemenuhan kebutuhan hidup manusia masih mengacu etika antroposentrisme (manusia sebagai pusat alam semesta). Akibatnya, perlindungan terhadap lingkungan semakin terabaikan, menjadi suatu krisis global yang mulai dirasakan kini serta mengancam kehidupan di masa mendatang.

[Baca juga: Microgreens: Sayuran Mini, Khasiat Maksi]

Usaha-usaha untuk menanggulangi serta mencegah kerusakan lingkungan hendaknya diawali dengan pergeseran paradigma manusia dari antroposentrisme menuju ekosentrisme (seluruh makhluk hidup berkaitan satu sama lain dan sama-sama bertanggung jawab terhadap alam). Paradigma tersebut perlu diterapkan menyeluruh terhadap aspek-aspek kegiatan manusia guna menjaga keseimbangan ekosistem, termasuk kegiatan pertanian. Oleh karena itu, pengembangan pertanian diarahkan pada pertanian yang berkelanjutan, seperti pertanian organik dan permakultur.

Sejarah Permakultur

Pada tahun 1929, Joseph Russell Smith memperkenalkan istilah permaculture sebagai permanent agriculture dalam bukunya Tree Crops: A Permanent Agriculture. Buku tersebut berisi hasil penelitiannya yang melihat dunia sebagai sebuah hubungan yang menyeluruh, kemudian mengusulkan penggunaan sistem tanaman pertanian yang bernaung di antara pepohonan. Selanjutnya, pada tahun 1978 Bill Mollison dan David Holmgren menggunakan istilah “permaculture, yang awalnya  “Permanent Agriculture” berkembang menjadi “Permanent Culture” sebagai suatu metode yang sistematis dan filosofis. Permakultur dipandang tidak hanya dapat diterapkan dalam pertanian, tapi juga sebagai budaya hidup manusia. Permakultur kemudian diartikan sebagai cabang ilmu desain ekologis, teknik ekologis, dan desain lingkungan yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan dan sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam.

Etika Permakultur

Etika permakultur terdiri dari tiga, yaitu care for Earth (peduli terhadap Bumi), care for people (peduli terhadap manusia)dan fair share (berbagi adil). Ketiga etika tersebut berpadu sebagai adab manusia terhadap lingkungan dan sesamanya yang membentuk tatanan kehidupan harmonis, adil dan berkelanjutan. Etika care for Earth diterapkan dalam kegiatan pertanian sebagai sikap untuk melindungi dan menyelaraskan dengan alam, membuat sistem yang tidak merusak dan menyehatkan ekosistem. Adapun etika care for people menerangkan bahwa praktik permakultur mudah diakses untuk memenuhi kesejahteraan manusia, yang tidak bertentangan dengan care for Earth. Etika fair share melengkapi kedua etika tersebut, yaitu permakultur mengatur pemerataan hasil yang dikonsumsi dan pengembalian ke alam agar bermanfaat bagi kehidupan kini dan mendatang. Selain ketiga etika tersebut, terdapat 12 prinsip yang memadukan kreativitas, efisiensi, dan terintegrasi, yang menjadi panduan penting dalam melakukan praktik permakultur.

Praktik Umum Permakultur

Beberapa praktik permakultur pada umumnya telah lama dilakukan jauh sebelum istilahnya ditemukan. Bahkan, sebagian praktiknya mudah dijumpai sebagai kearifan lokal di beberapa daerah. Beberapa contoh praktik permakultur adalah agroforestri, hügelkultur, bangunan alami, panen air hujan, pemulsaan, rotasi penanaman dan penggembalaan, dan masih banyak lagi.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Fridia Nur Sofiarani

Mahasiswi Agronomi Universitas Gadjah Mada - freelance content writer

Leave a Reply

Your email address will not be published.