Budidaya Bunga Gladiol sebagai Bunga Potong

Bunga gladiol dikenal sebagai bunga potong. Gladiol dapat tumbuh pada ketinggian tempat anatara 600-1400 mdpl sehingga banyak dibudidayakan di dataran rendah. Tumbuh baik dengan lingkungan dengan pH berkisar antara 5,8-6,5 dan suhu 10-250C.

Dilansir dari budidaya-petani.com jenis-jenis bunga gladiol antara lain Gladiolus gandavensis dengan ciri berukuran besar, susunan bunga terlihat bertumpang tindih, dan panjang 90-150 cm. Gladiolus primulinus berciri berukuran kecil, bertangkai halus tetapi kuat, dan panjangnya mencapai 90 cm. Gladiolus ramosus memiliki panjang tangkai bunga 100-300 cm. Gladiolus nanus memiliki tangkai bunga melengkung dan panjang 35 cm.

Bagaimana cara budidaya bunga gladiol?

  • BAHAN TANAM

Bibit gladiol dapat berasal secara generatif dan vegetatif. Namun untuk tujuan produksi bunga potong, banyak digunakan perbanyakan vegetatif. Sedangkan perbanyakan generatif digunakan untuk tujuan pemuliaan.

Menurut Badriah pada penelitian Bunga Gladiol dari Balai Penelitian Tanaman Hias menuturkan bahwa perbanyakan vegetatif menggunakan subang utuh, belah, dan anak subang. Subang merupakan batang tanaman yang termodifikasi menjadi bulat pipih, mengandung buku, ruas, dan mata tunas. Jika menggunakan subang utuh untuk bibit dianjurkan menggunakan subang dengan diameter 2,5 cm agar primordial bunga cepat muncul dan meningkat pula panjang tangkai bunga jumlah kuntum bunga tiap tangkai serta diameter bunga mekar.

[Baca juga: Tips Budidaya Kamboja, Bunga Sejuta Penikmat]

Subang belah didapatkan dengan cara membelah subang menjadi dua bagian (pembelahan tepat di tengah subang) atau dengan membelah subang menjadi tiga bagian. Jumlah anak subang bervariasi tergantung kultivarnya. Anak subang tenbentuk dari stolon mata tunas aksilar di antara subang induk dan subang baru. Anak subang yang berdiameter 1 cm dapat digunakan sebagai bibit.

  • PENGOLAHAN LAHAN

Pengolahan lahan budidaya pada umumnya sama, seperti penggemburan tanah, pengecekan pH tanah, membersihkan lahan dari gulma maupun batu-batuan, pemetaan lahan, serta memberi pupuk dasar. Drainase tanah perlu diperhatikan agar perakaran tidak mudah rusak.

  • PENANAMAN

Sebaiknya lahan untuk pertanaman gladiol harus terkena cahaya matahari langsung. Penanaman dapat dilakukan dengan gundukan atau tidak. Lubang tanam yang dianjurkan dengan kedalaman 10-15 cm untuk subang dengan diameter lebih dari 2,5 cm.

  • PEMELIHARAAN

Dilakukan penyiangan agar tidak menghambat pertumbuhan subang sebanyak tiga kali dalam satu siklus tanaman, selain itu dilakukan pembumbunan atau pemberian ajir (jika dibutuhkan) agar tanaman tidak rebah dan subang tidak muncul ke permukaan. Gladiol membutuhkan unsur nitogen, fosfat dan kalium, oleh karena itu dilakukan pemupukan. Dosis pemupukan gladiol yang disarankan oleh Balai Penelitian Tanaman Hias yaitu sebanyak 90-135 kg/ha Nitrogen (diberikan sebagian dalam bentuk nitrat, sebagian lagi amonium), 90-180 kg/ha Fosfat (sebagai P2O5) dan Kalium 110-180 kg/ha (sebagai K2O).

Kebutuhan nitrogen perlu dicukupi. Apabila kekurangan nitrogen mengakibatkan penurunan panjang malai bunga, jumlah kuntum, dan warna menjadi hijau pucat. Penyiraman dilakukan menyesuaikan dengan melihat kondisi lahan.

Ada beberapa hama penyakit pada Gladiol. Hama yang menyerang Gladiol seperti Thrips Gladiol dapat dikendalikan dengan penyiangan. Kutu putih yang dikendalikan dengan merendam subang dalam larutan insektisida. Sedangkan penyakit yang dapat menyerang seperti layu fusarium, dikendalikan dengan tidak menyimpan subang di tempat lembab pada saat sebelum tanam dan merendam subang pada larutan fungisida.

  • PANEN

Panen dilakukan saat pagi hari secara manual pada saat tanaman gladiol berumur 60-80 hari setelah tanam. Bunga pertama akan mekar sekitar 10 hari setelah primordia bunga muncul. Bunga dapat dipanen setelah 1 atau 2 bunga terbawah sudah berwarna namun belum mekar. Panen dilakukan dengan hati-hati karena bunga Gladiol tergolong bunga yang mudah rusak. Selanjutnya dilakukan penanganan pasca panen seperti disimpan pada suhu rendah.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Ayu Ainullah Muryasani

Agronomi Universitas Gadjah Mada. Untuk sharing dan diskusi: ayumuryasani@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.