Inovasi Budidaya Ikan Terpadu Berbasis IMTA

Budidaya terpadu (Polikultur) berbasis IMTA /researchGate

Pengembangan sektor budidaya perikanan saat ini masih terus dilakukan oleh pemerintah maupun swasta untuk memenuhi permintaan ikan di pangsa pasar yang terus meningkat. Budidaya adalah solusi untuk memenuhi jumlah permintaan terhadap ikan mengingat produktivitas hasil tangkapan di alam tidak dapat diprediksi dan menjadi salah satu solusi untuk mencegah terjadinya keterancaman terhadap ketersediaan ikan di alam. Kelestarian rantai kehidupan di dalam ekosistem perairan alami harus tetap terjaga, maka dengan adanya budidaya, seberapa besar pun jumlah produksi tidak akan mengganggu keberadaan ikan yang ada di perairan alami.

[Baca juga: Budidaya Ikan Efektif dengan Kolam Bulat]

Berbagai sistem budidaya semakin meningkatkan inovasi dan teknologi yang digunakan guna meningkatkan produktivitas dan target produksi yang semakin besar. Salah satu sistem budidaya yang saat ini banyak dikembangluaskan adalah budidaya terpadu berbasis Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA).

Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA)

IMTA adalah pengembangan budidaya polikultur dengan prinsip memelihara beberapa komoditas dalam satu sistem budidaya dengan memperhatikan tingkat trofik, sehingga memungkinkan untuk peningkatan produktivitas dengan tetap mempertahankan kualitas perairan secara berkelanjutan. Aliran nutrisi dan energi pada sistem IMTA dari limbah pakan, misalnya udang/ikan sebagai trofik pertama akan mengalir ke yang lebih rendah tingkatannya seperti kerang atau teripang sebagai trofik menengah atau kedua, kemudian akan mengalir ke yang lebih rendah lagi, misalnya rumput laut sebagai trofik ketiga. Sistem budidaya terpada berbasis IMTA bertujuan untuk memanfaatkan aliran energi dan nutrien sebagai tindakan penghematan penggunaan pakan dan meningkatkan produktivitas dengan diversifikasi komoditas yang ramah lingkungan.

Berdasarkan kajian dari Tim Peneliti BPPAP, Maros, komoditas yang dapat digunakan dalam budidaya terpadu berbasis IMTA adalah udang windu (Penaeus monodon), udang vaname (Lithopenaeus vannamei), nila merah (Oreochromis niloticus), kekerangan (Crassostrea iredalei dan Saccostrea cucullata), dan rumput laut (Gracilaria verrucosa) yang kemudian dipelihara secara bersama di tambak. Hasil kajian tersebut yaitu sintasan udang windu meningkat dari 50,68% dalam sistem monokultur menjadi 71,26% dengan sistem IMTA. Produksi udang windu yang diperoleh dari budidaya dengan sistem IMTA mencapai 1.488 kg per petak atau 3.720 kg per ha.

Penerapan IMTA

BBIL LIPI (Balai Bio Industri Laut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) juga telah mengembangkan budidaya dengan sistem IMTA, yaitu TerBaRu di Lombok, Nusa Tenggara Barat dengan komoditas yang dipelihara terdiri dari teripang pasir, bandeng, dan rumput laut. Rumput laut (Gracilaria sp.) berperan sebagai produsen yang menyerap nutrisi dari perairan, pupuk, dan sisa metabolisme biota dalam tambak kemudian mengonversinya menjadi biomassa melalui proses fotosintesis. Ikan bandeng akan berperan menjadi konsumen sebagai filter feeder yang memakan partikel tersuspensi, fitoplankton dan zooplankton. Sedangkan teripang akan berperan sebagai pemakan detritus yang memanfaatkan bahan organik dalam tambak. Dari budidaya TerBaRu berbasis IMTA tersebut dapat diestimasi pendapatannya per tahun dalam 1 ha tambak lebih tinggi dibanding dengan budidaya monokultur.

Sistem budidaya ini merupakan salah satu inovasi untuk meningkatkan produktivitas dan nilai ekonomi budidaya. Melalui metode ini, daur nutrisi dalam sistem budidaya lebih efisien karena biaya pakan dan kualitas air dapat diminimalisir secara optimal sehingga dapat menurunkan biaya produksi yang digunakan. Selain itu, dapat juga meningkatkan keuntungan produksi dari diversifikasi komoditas yang dipelihara dalam satu sistem budidaya.