Catatan Harian Petani #1: Budidaya Lele Modern yang Menyenangkan

Hai Wargalele (sebutan khas saya untuk para “lele-enthusiast”), perkenalkan saya Andika, seorang petani kampung yang punya visi untuk membawa lele go internasional. Banyubeningfarm adalah peternakan yang saya rintis dari nol, untuk menjadi one stop farming place dengan proses bisnis yang mencakup dari hulu ke hilir. Melalui catatan harian ini, saya akan mulai membagikan bagaimana pengalaman saya –mulai dari tips budidaya, pengalaman suka duka, dan saran—yang mungkin akan bermanfaat bagi pembaca yang memiliki hobi atau minat yang sama.

Di seri ini, saya akan bawa Wargalele masuk ke dunia yang lele menyenangkan. Saya sendiri sebenarnya sudah cukup lama mencintai dunia ini, lantaran hasil budidayanya menjadi salah satu makanan wajib semenjak kuliah dulu, persisnya saat uang jajan sudah mulai menipis. Tapi tahukah Anda bahwa lele yang dimakan itu makanannya apa? Tak sedikit yang menjawab sambil mengerut lantaran jijik, saya maklum kok hahaha karena beberapa memang demikian, namun tidak semua kok.

Nah maka dari itu, di sini saya ingin menceritakan apa yang sejatinya terjadi di dapur peternakan kepada Wargalele sekalian. Salah satu tujuannya agar bisa membedakan lele berdasarkan ciri-cirinya. Selebihnya saya juga ingin mengajak Wargalele yang berminat untuk bertani lele sehat secara organik, tentunya dengan sebuah sistem yang juga modern.

[Baca juga: 5 Jenis Ikan Lele Unggulan]

Sistem modern itu sendiri erat kaitannya dengan menjaga kualitas lele. Kendati terdapat kata “modern”, tidak berarti harus dengan perangkat yang mahal, bahkan hanya perlu dengan peralatan yang ada di sekitar Anda. Contohnya drum bekas, tong bekas, kolam bekas, bekas pacar… #eh hahaha –jangan bekas pacar tak usah dibawa-bawa takut yang jomblo tersungging, intermeso.

Menyatukan hati dan bahagia adalah kunci pertama

Di tulisan ke depan dalam seri ini, saya akan membahas secara rinci tentang bagaimana bertani lele sistem modern yang asyik dan mengasyikkan. Fokusnya juga membuat hati Wargalele senang. Ini beralasan, karena dalam bertani lele perlu adanya “kemistri”, karena lele juga mempunyai jiwa yang menyatu dengan tuannya. Bisa dibuktikan kok.

Sederhananya lele merupakan makhluk hidup, semua keputusan kita dalam hati juga mempengaruhi tumbuh kembang lele itu sendiri, jadi ketika bertani lele ini perasaan Wargalele harus selalu ceria dan bahagia. Itu kunci pertama. Nikmati prosesnya dan Wargalele akan dapat kesenangan yang tiada tara.

Apabila suatu saat ada pertanyaan mendasar maupun kesulitan dalam praktik, Wargalele bisa sharing di sini, Insyaallah akan saya balas satu persatu dan disusun oleh tim menjadi FAQ, agar tidak terjadi double question. Saya akan bercerita santai tentang pengalaman yang saya alami dan bagaimana solusi dari setiap permasalahan yang saya hadapi selama bertani lele modern. Akan saya jabarkan di artikel selanjutnya. Jadi harap Wargalele sabar ya dalam menyimaknya. Nah kemudian apa yang selanjutnya harus Wargalele lakukan? Jawabannya akan segera hadir.

––

Disclosure: Tulisan ini merupakan jalinan kerja sama antara Farming ID dan Banyubeningfarm untuk lanskap perikanan Indonesia. Semua opini yang dituliskan berdasarkan praktik yang ada di lapangan, dialami langsung oleh penulis.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Andika Kairuliawan

Seorang petani desa yang memiliki keyakinan bahwa seharusnya petani Indonesia lebih keren, lebih bersahaja dan lebih makmur dari yang ada sekarang. Saat ini tengah mengembangkan Banyubeningfarm untuk ternak lele, dan sesekali eksperimen bersama sayuran dengan hidroponik.

2 thoughts on “Catatan Harian Petani #1: Budidaya Lele Modern yang Menyenangkan

    Arya Adhitya

    (09/09/2017 - 21:00)

    Hi Mas Andika,

    Saya mau tanya mengenai masalah yang pernah saya hadapi ketika beternak lele. Di tahun 2010 lalu saya pernah ikut membantu ternak lele di sebuah desa dengan menggunakan kolam buatan ukuran 3×5 m2. Didesain dalam bentuk bak menggunakan semen. Ada sekitar 500 lele yang kami taruh. Namun, sayangnya tidak sampai 5 hari, hampir setengah lelenya mati. Kami mengira mungkin karena masih ada aroma semen yang bercampur dengan air kolam tapi padahal semennya sudah kering seminggu sebelum lelenya kami masukkan. Bahkan ketika berikan potongan batang pisang untuk menetralisir aroma semennya juga tidak berpengaruh. Alhasil, semua lelenya mati :(. Mohon pencerahannya.

    Andika Kairuliawan

    (10/09/2017 - 21:10)

    TerimAkasih mas arya atas pertanyaannya, ada beberapa opsi solusi dari masalah yang ada.
    Pertama kemungkinan problem ada di airnya mas, karena air untuk budidaya lele harus difermentasi terlebih dahulu agar lele bisa cepat beradaptasi dengan kondisi air di kolam yang baru
    Kedua bibit lele yang ditebar sudah sakit terlebih dahulu, ini bisa diatasi dengan pemberian fermentasi di kolam tersebut. Materi untuk cara fermentasi bisa disimak di seri kedua dari tulisan ini mas. TerimAkasih dan salam lelesehat indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published.