Budidaya Tanaman Obat sebagai Usahatani yang Berpotensi

Potensi alam yang dimiliki Indonesia sangat luas. Tidak hanya tanaman pangan yang memiliki potensi untuk dikembangkan, namun tanaman obat juga memiliki potensi yang besar. Walaupun era globalisasi membuat semua serba modern, namun jumlah permintaan tanaman obat secara luas tetaplah tinggi. Tanaman obat bisa dijadikan sebagai obat herbal atau obat tradisional yang sering dijumpai di masyarakat. Seperti artikel sebelumnya yang membahas tentang manfaat daun binahong. Oleh karena itu tidak ada salahnya jika ingin membudidayakan tanaman obat untuk dijadikan usahatani yang peluangnya masih terbuka luas.

Perningkatan permintaan tanaman obat disebabkan adanya isu back to nature dan krisis ekonomi yang menyebabkan turunnya daya beli masyarakat terhadap obat-obatan modern yang mahal. Budidaya tanaman obat juga lebih menguntungkan karena hampir seluruh bagian tanaman obat biasanya bisa diambil manfaatnya terutama untuk kepentingan kesehatan, mulai dari akar, batang, daun, hingga bunganya. Tanaman obat biasanya juga bisa dijadikan food supplement dan kosmetik. Banyak juga tanaman obat yang menjadi komoditas ekspor negara baik dalam bentuk segar, kering dan olahan, seperti jahe dan kunyit. Permintaan ekspor ini sangat tinggi, terutama ke negara Hongkong, Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan.

Dalam budidaya tanaman obat, Indonesia memiliki keunggulan dengan mempunyai iklim tropis dan memiliki keanekaragaman hayati terbesar di dunia setelah Brazil. Menurut peneliti, terdapat sekitar 9.606 spesies tumbuhan yang mengandung khasiat tinggi untuk pengadaan obat-obatan alami untuk menangani berbagai jenis penyakit. Kekayaan hayati tersebut belum dimanfaatkan secara optimal, karena menurut European Journal of Medicinal Plants tercatat bahwa hanya 283 jenis tanaman obat yang terdaftar di Bada Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia.

Indonesia yang menjadi lahan subur untuk tanaman obat, maka tidak menutup kemungkinan akan ditambah jenis tanaman obat yang dirilis BPOM Indonesia. Dengan latar belakang inilah, dibutuhkan riset dan teknologi lebih lanjut dan kesinambungan. Hal itu dibutuhkan juga karena melihat tuntutan populasi penduduk dan kebutuhan yang semakin meningkat. Tanaman obat menjadi potensial di Indonesia juga karena masyarakat sudah sadar akan kelebihan produk dari tanaman obat ini yang hampir tidak memiliki efek samping.

Beberapa contoh tanaman obat dan bagian yang dapat dimanfaatkan.

  1. Akar (radix), misalnya pacar air, dan cempaka.
  2. Rimpang (rhizome), misalnya kunyit, jahe, dan temulawak
  3. Umbi (tuber), misalnya bawang merah, bawang putih, dan teki
  4. Bunga (flos), misalnya jagung, piretri, dan cengkih
  5. Buah (fruktus), misalnya delima, kapulaga, dan mahkota dewa
  6. Biji (semen), misalnya saga, pinang, jamblang, dan pala
  7. Kayu (lignum), misalnya secang, bidara laut, dan cendana jenggi
  8. Kulit kayu (cortex), misalnya pule, kayu manis, dan pulosari
  9. Batang (cauli), misalnya kayu putih, turi, dan brotowali
  10. Daun (folia), misalnya saga, landep, miana, ketepeng, pegagan, dan sembung
  11. Seluruh bagian tanaman (herba), misalnya sambiloto, patikan kebo, dan meniran

Bagaimana budidaya tanaman obat bisa sebagai pengembang perekonomian adalah melalui penyedia bahan baku, penggerak berkembangnya sektor ekonomi pedesaan, pemanfaatan sumber daya domestik, penyerapan tenaga kerja, dan menghasilkan devisa. Dalam proses pengembangan budidaya tanaman obat harus memperhatikan beberapa hal penting, seperti pengembangan sentra produksi, pengembangan benih, pengembangan penangkar bibit, pemanfaatan teknologi, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan penguatan modal agar usahatani tanaman obat dapat menguntungkan.

Namun dalam budidaya tanaman obat ini juga perlu memperhatikan beberapa hal, seperti harus menjaga eksistensi, kelestarian, dan keaslian jenisnya dari tanaman terbut. Jangan sampai ketersediaan bahan baku menjadi semakin terbatas dikarenakan eksploitasi sumber daya alam. Dalam proses eksplorasi dan pegembangan tanaman obat juga akan memerlukan biaya yang tinggi. Tantangan yang ada juga dalam bagaimana bisa menciptakan bahan baku dan produk obat yang terstandarisasi serta teruji denga baik dan tepat. Permintaan tanaman obat sebagai bahan baku juga dipengaruhi beberapa faktor, seperti tren permintaan dan stok yang tersedia di pasar yang akan mempengaruhi harga.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.

Comments are closed.