Cara Budidaya Kakao, Si Penghasil Cokelat

Sebelum menjadi olahan cokelat yang dapat dikonsumsi. Biji kakao ternyata melewati berbagai proses loh. Proses yang paling utama ialah budidaya tanaman kakao itu sendiri. Apa saja tahapan budidayanya? Yuk simak ulasan berikut.

[Baca juga: Tips Cara Budidaya Kedelai dengan Produktivitas yang Tinggi]

Tanaman kakao (Theobroma cacao) termasuk tanaman tahunan yang diusahakan dalam sektor perkebunan. Kakao berasal dari Amerika Selatan yang banyak di budidayakan di Indonesia dengan produktivitas mencapai 777.500 ton (FAO,2013). Perkebunan kakao didominasi perkebunan rakyat, yang terdapat di daerah Kalimantan Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan lainnya. Salah satu perkebunan kakao Indonesia dikelola PT. Perkebunan Nusantara XII.

Kakao dibagi menajdi dua jenis yaitu kakao jenis mulia dan lindak. Kedua jenis ini memiliki asal pohon yang berbeda. Klon kakao lokal unggul yang dimiliki Indonesia yaitu MCC 01 dan MCC 02 asal Sulawesi Utara. Potensi produksi berkisar 3,69 ton/ha dengan ukuran biji yang relatif besar dapat mencapai 1,75 gram.

Kakao menghendaki ketinggian tempat kurang dari 800 mdpl, curah hujan 1.100-3.000 mm per tahun, suhu udara maksimal 30oC-32oC. kakao dapat tumbuh baik di berbagai jenis tanah dengan sifat fisik dan kimia tanah yang sesuai.

Bahan Tanam

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian memaparkan melalui buku Budidaya Kakao bahwa, awal mula tanaman budidaya berasal dari pembibitan. Asal bahan tanam yang baik akan menentukan pertumbuhan tanaman di masa yang akan datang karena umur tanaman kakao dapat mencapai 37 tahun. Pembibitan dapat berasal dari benih ataupun teknik okulasi.

Bibit yang telah berumur 8 bulan dapat dipindahkan ke lahan. tanaman kakao yang masih muda membutuhkan naungan seperti glirisidia, lamtoro atau sengon untuk menghindari intensitas cahaya matahari yang tinggi. Selain itu juga menjaga kelembaban dan menjaga ketersediaan bahan organik tanah. Saat penanaman dibuat lubang tanam yang diberi pupuk kandang dan pestisida.

Pemeliharaan

Pemeliharaan yang dilakukan antara lain pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta pemangkasan. Pupuk yang digunakan antara lain urea, TSP, KCL dan Kieserit. Kebutuhan pupuk tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM) berbeda. Tanaman yang masih muda, membutuhkan frekuensi yang cukup banyak dengan dosis rendah hingga umur 1 tahun, namun setelah itu dosis pupuk ditingkatkan dengan pengurangan frekuensi.

Hama yang kerap menyerang tanaman ialah ulat, Penggerek Batang Kakao (PBK). Pengendaliannya dengan memberikan pestisida sistemik. Selain itu penyakit phytopthora sering menyerang perkebunan kakao yang menyebabkan kerusakan parah. Penyakit ini menyarang batang dan buah muda kakao. Penyakit Vascular Streak Dieback (VSD) atau pembuluh kayu juga berakibat buruk pada pertumbuhan kakao, yang menyebabkan gugur daun dan mati ranting yang menjalar sampai cabang dan batang pokok. Pengendalian penyakit-penyakit tersebut ialah menggunakan klon toleran, pemangkasan ranting yang sakit, serta pengendalian hayati dengan Trichoderma sp.

Pemeliharaan selanjutnya ialah pemangkasan. Hal ini sangat penting dilakukan, untuk menyediakan cabang-cabang produktif. Tidak hanya tanaman kakao, tanaman naungan juga dipangkas. Saat berbunga tanaman hanya membutuhkan 25 % naungan saja.

Penyiangan gulma juga perlu dilakukan di sekitar tanaman kakao agar tidak mengganggu pertumbuhan. Penyiangan mulai dilakukan saat bibit di tanam di lahan.

Panen

Membutuhkan waktu minimal 3 tahun, agar tanaman kakao dapat berbunga kemudian menjadi buah setelah 6 bulan. Saat perkembangan bunga menjadi buah, kakao mengalami masa krisis karena saat 2-4 bulan mengalami layu buah. Hal ini menyebabkan tak lebih dari setangah jumlah buah yang berhasil berkembang hingga panen. Buah yang telah masak ditandai dengan perubahan warna yang semula hijau menjadi kekuningan atau merah menjadi jingga.

Kakao dapat bertahan hingga 75 tahun dengan perawatan dan pemupukan yang baik serta peremajaan tanaman agar produktivitas buahnya normal.

Perjalanan bibit menjadi buah siap panen tanaman kakao cukup panjang bukan?

Semoga bermanfaat!


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Ayu Ainullah Muryasani

Agronomi Universitas Gadjah Mada. Untuk sharing dan diskusi: ayumuryasani@gmail.com.

2 thoughts on “Cara Budidaya Kakao, Si Penghasil Cokelat

    Amarilis Setyanti

    (17/07/2017 - 13:26)

    Mau tanya, untuk potensi produksi 3,69 ton/ha itu dalam kurun waktu berapa lama? Apakah seumur hidup atau satu musim panen?
    Untuk pemangkasan daun pada tanaman kakao biasanya dilakukan berapa kali dalam satu tahun? Untuk mengurangi kerontokan pada bunga sehingga kehilangan hasil yang besar apakah ada solusi yang bisa dilakukan?
    Untuk tanaman muda pada kakao sering sekali tampak kurang sehat, apakah yang paling perlu diperhatikan dalam tahap pembibitan?
    Terima kasih

    Ayu Ainullah Muryasani

    (28/07/2017 - 10:10)

    Terimakasih atas pertanyaannya,

    1. Potensi produksi 3.69 ton/ha untuk satu tahun.
    2. Pemangkasan rutin pada tamaman kakao yg telah berumur 3 tahun keatas dilakukan pemangkaaan pemeliharaan setiap bulan untuk menghilangkan wiwilan. Sblmnya saat TBM ada pemangkasan bentuk saat umur dbwah 1 tahun. Kemudian setelah TM (mulai 3 thn keatas) ada pangkas produksi setelah panen
    3. Untuk kerontokkan bunga saat awal pembentukan, untuk saat ini sy belum menemukan solusi yg tepat, namun ada referensi dari penelitian Hidayati tentang “Pengaruh dosis pyracloatrobin terhadap gugur bunga dan layu pentil tiga klon kakao (Theobroma cacao L.) asal sambung pucuk”, dengan menggunakan pyraclostrobin sampai dengan 150 gr/ha belum mampu memperbanyak jumlah bunga di pohon, menekan gugur bunga dan layu pentil pada klon kakao.
    Semoga kedepannya ada penelitian terbaru,
    4. Tanaman kakao membutuhkan naungan karena syarat tumbuh menghendaki sinar matahari yg rendah. Oleh karena itu pada saat pembibitan diperhatikan kerapatan naungannya (paranet) sekitar 60%. Benih dipilih yg prima (sehat dari hama dn penyakit). Media tanam (pupuk kandang pastikan sudah matang). Pengairan dijaga agar tidak defisit atau kelebihan air krn bibit bisa stress.

    Sekian,
    Semoga dapat membantu

Leave a Reply

Your email address will not be published.