Cara dan Beberapa Keuntungan dalam Budidaya Bambu

Bambu / Pixabay

Setelah mengetahui bahwa potensi bambu di Indonesia begitu besar pada artikel sebelumnya, kini akan dibahas bagaimana cara untuk menghasilkan atau mebudidayakan bambu agar dapat dijadikan peluang usaha yang banyak menguntungkan. Memudidayakan bambu ini bisa dibilang tidaklah sulit setelah mengetahui bagaimana dasar teknik dalam budidaya bambu tersebut. Bambu merupakan jenis tanaman rumput-rumputan yang memiliki rongga dan ruas pada bagian batangnya. Pertumbuhan permintaan bambu semakin meningkat baik di Indonesia maupun secara global. Hal ini yang menyebabkan peluang bisnis bambu masih sangat besar dan terbuka.

Kini banyak orang yang membudidayakan bambu untuk mendapat penghasilan, baik itu menjual bambu dalam bentuk batangan atau sudah dalam bentuk lain, seperti kerajinan atau furnitur. Bambu memiliki banyak kelebihan, seperti batang yang tidak mudah patah dan lentur, serta memiliki dinding kayu yang keras. Tanaman bambu selama masih hidup dapat terus dimanfaatkan dalam jangka waktu yang lebih lama dibanding dengan tanaman lainnya. Selain untuk dibudidaya untuk usaha bisnis, tanaman bambu juga memiliki manfaat untuk menjaga alam. Bambu mampu menyerap karbondioksida dan mengeluarkan oksigen lebih baik dibanding dengan tanaman lain.

Banyak cara dalam budidaya bambu, namun berikut cara yang tepat sebagai dasar bagaimana agar budidaya bambu mampu menghasilkan produk lebih banyak.

  1. Persiapan Bibit Bambu

Bibit bambu dapat diperoleh dengan teknik stek batang, cabang atau rizhoma. Namun persiapan bibit pada setiap jenis bambunya memiliki cara yang berbeda, seperti bambu kuning yang hanya dapat diperoleh dengan cara stek rhizoma, bambu petung yang bisa didapatkan dari 3 cara tersebut, dan bambu apus yang bisa diperoleh dari stek cabang dan rhizoma.

Namun dalam satu rumpun tanaman bambu mampu meregenerasi dirinya secara alami. Setelah bambu dipanen, maka tunas bambu akan muncul dan menggantikannya dalam beberapa bulan. Bambu mampu dipanen secara rutin tiap tahunnya.

  1. Persiapan Lahan Tanam

Lahan tanaman sudah ideal dipersiapkan 3 bulan sebelum tanam. Pertama ahan dibersihkan dari gulma dan kemudian dibuat lubang tanam. Selanjutkan lubang digunakan untuk pengomposan dengan mencampurkan tanah galian dengan seresah organik. Pengomposan ini minimal terjadi selama 2 bulan. Lubang untuk menanam bibit bambu yang sudah dipersiapkan bisa berukuran 50 cm x 50 cm x 75 cm untuk bibit dari tunas atau rebung dan 150 cm x 150 cm x 75 cm untuk bibit dari stek batang.

  1. Penanaman Bambu

Bibit bambu yang sudah dipilih dimasukkan ke dalam lubang yang sudah dikomposkan lalu ditimbun kembali dengan tanah. Waktu penanaman ideal yaitu pada musim penghujan. Bambu dapat ditanam di dataran rendah maupun tinggi. Bambu mempunyai kemampuan adaptasi yang tinggi.

  1. Perawatan Bambu

Perawatan pertama yaitu setelah 1 bulan setelah penanaman jika ada tanaman yang tidak tumbuh maka perlu adanya sulaman atau tanaman diganti dengan yang baru. Setelah itu dilakukan juga pemupukan minimal 2 kali dalam setahun yang tergantung tingkat kesuburan tanah yang ditanami. Pemupukan dilakukan menjelang musim hujan dan menjelang musim kemarau. Pupuk yang digunakan bisa sekitar 0,5 kg untuk setiap rumpun dengan komposisi campuran 1 urea : 2 TSP : 1 KCl. Pemupukan untuk meningkatkan kualitas bambu yang dihasilkan. Perawat biasa seperti penyiangan dan pengendalian hama juga peru dilakukan.

Kendala dalam budidaya bambu ini adalah pada saat pemanenan. Manajemen bambu hanya dapat dilakukan dengan jalan tebang pilih, akan tetapi cara ini kuang efektif karena sulit untuk dilakukan dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Panen lebih efektif dilakukan dengan cara tebang habis seluruh tanaman. Namun panen juga bisa disesuaikan dengan permintaan pasar dan juga kondisi kebun bambu.

Bambu yang besar peluang usahanya karena dinilai sebagai sumber pengganti kayu yang baik dan untuk mengurangi penebangan liar pada hutan hujan yang ada. Hal yang sering kurang diketahui masyarakat luas adalah bahwa bambu merupakan tanaman yang tumbuh dari bawah dan tidak memiliki poros sebagai pusat pertumbuhan serta tidak ada pertumbuhan sekunder. Oleh karena itu pertambahan umur tidak dapat diukur dari pertambahan diameter batang. Selain itu budidaya bambu mampu bertahan selama 50 tahun dan panen bisa dilakukan setelah 5-7 tahun dari penanaman.