Cara Tepat Memilih Lokasi Budidaya Lobster

Budidaya lobster laut / maritimindonesia.co.id

Lobster salah satu komoditas perikanan yang memiliki nilai jual tinggi di pasar domestik maupun mancanegara. Akibat usaha penangkapan lobster yang semakin meningkat diiringi dengan meningkatnya pula permintaan lobster di pangsa pasar, membuat para entrepreneur memiliki peluang besar untuk membuka usaha budidaya lobster. Dalam membuka usaha budidaya lobster perlu memperhatikan dan merancang konstruksi budidaya agar kelak menghasilkan panen lobster sesuai yang diharapkan.

[Baca juga: 5 Jenis Ikan Lele Unggulan]

Salah satu yang perlu diperhatikan dalam membuka usaha budidaya lobster adalah menetapan lokasi budidaya. Lokasi yang dijadikan tapak usaha merupakan salah satu faktor yang harus diperhatikan secara matang karena apabila terjadi kesalahan dalam pemilihan lokasi budidaya, dapat menyebabkan kegagalan usaha. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan lokasi budidaya lobster adalah sebagai berikut:

Lokasi budidaya lobster / shrimpnews.com

Faktor Ekologis

Faktor ekologis merupakan faktor utama yang sangat perlu diperhatikan untuk membuat kondisi lingkungan dalam budidaya dapat sesuai dengan kondisi lingkungan kehidupan lobster di alam. Dalam memilih kondisi ekologis yang tepat, harus dikembangkan beberapa parameter yang dapat digunakan untuk mengkaji dan menilai lokasi pengembangan lobster.

a. Kondisi lingkungan fisik

Habitat asli lobster adalah berada perairan pantai. Hal itulah menetapkan lokasi yang cocok untuk usaha budidaya lobster adalah berada di daerah pantai yang terletak di sekitar teluk, atau selat di antara pulau yang berdekatan agar terhindar dari ombak dan gelombang yang besar. Kecepatan arus yang sesuai dengan kehidupan lobster sebesar 20 – 50 cm per detik dengan kedalaman perairan 7 – 15 meter. Lokasi usaha budidaya lobster juga harus terhindar dari lalu lintas laut karena aktivitas kapal dapat menyebabkan limbah yang menyebabkan perubahan kualitas air sehingga dapat mempengaruhi kehidupan lobster.

b. Kondisi lingkungan kimiawi

Lobster sangat sensitif terhadap perubahan suhu dan salinitas yang mengalami fluktuasi yang tajam. Sehingga pemilihan tepat lokasi budidaya adalah perairan yang tidak mengalami fluktuasi tajam terhadap salinitas dan suhu pada perairan tersebut. Fluktuasi yang tajam dapat mengakibatkan lobster menjadi stress yang ditandai dengan sulitnya lobster tersebut mengalami pergantian kulit (moulting). Kisaran salinitas yang optimal bagi kehidupan lobster adalah 25 – 45%.

Lobster sangat rentan terhadap perubahan kualitas airnya sehingga lobster tidak dapat bertahan hidup apabila perairan tersebut mengalami pencemaran. Oleh karena itu, pemilihan lokasi budidaya lobster harus bebas dari pencemaran, baik dari pertanian, pemukiman, maupun industri.

Faktor teknis

Teknis budidaya lobster lebih ditekankan pada kondisi lokasi budidaya untuk mengetahui teknologi yang sesuai yang dapat digunakan dalam sistem budidaya tersebut. Lokasi yang cocok untuk budidaya lobster adalah lokasi yang dapat menyediakan pasokan air laut dan air tawar yang cukup. Air laut digunakan untuk media budidaya lobster sedangkan air tawar digunakan untuk mengontrol kadar garam. Air yang digunakan harus bebas dari bahan pencemar atau zat – zat tersuspensi yang membahayakan lainnya.

Faktor Sosial dan Ekonomi

Lokasi budidaya yang dipilih harus mudah dijangkau agar mudah dalam pengadaan saran maupun prasarana yang akan menunjang proses produksi sampai pemasaran pada budidaya lobster tersebut. Usaha budidaya lobster membutuhkan tenaga kerja yang dapat menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar sehingga dapat meningkatkan perekonomian daerah. Selain itu, apabila hasil panen di ekspor dapat meningkatkan pula pendapatan negara sehingga perekonomian negara dapat meningkat.

Aspek Peraturan dan Undang-Undang

Dalam menentukan lokasi usaha budidaya harus melakukan izin usaha sesuai dengan peraturan pemerintah sehingga lokasi tersebut tidak bertentangan dengan peraturan pemerintah.