Catatan Harian Petani #2: Mengapa Harus Lele?

Salam jumpa kembali Wargalele, semoga kabarnya baik dan senantiasa bersemangat ya. Pernahkah Wargalele melihat menu eksklusif di resto ternama –semacam Sushi Tei, Ikan Bakar Cianjur, Bumbu Desa dll—dan mengusung lele menjadi menu andalan?

Sayangnya sulit sekali ditemui, ada pun minimal menu lele tersebut ditaruh di halaman tengah, yang mana sudah pasti akan sering terlewat karena konsumen sudah buru-buru ingin membuka pilihan menu minuman. Atau bahkan yang lebih “horor” lagi menu lele sengaja ditiadakan, padahal kadang resto tersebut hampir 80% menyajikan pilihan makanan olahan ikan.

Ya wajar saja, masyarakat kita masih banyak yang paranoid dengan yang namanya lele. Semacam binatang berenang yang menjijikkan. Hmmm kadang memang demikian adanya dan inilah visi utama saya selama menghabiskan sisa hidup. Mengangkat harkat martabat lele ke level yang lebih tinggi. Minim bisa masuk ke jajaran menu di resto atau jadi hot thread menu di bagian menu rekomendasi atau chefs choice.

Dengan sedikit sentuhan kreativitas koki, bukan tak mungkin lele menjadi menu yang digemari. Misalnya olahan simpel dengan teknik fillet diolah menjadi menu unagi/labasaki (kalau di Jepang sana memakai bahan ikan sidat). Tapi ya sebelas dua belas lah rasanya. Asal juru masaknya jago mengolahnya pasti kalangan awam pasti mau membayar dan memakannya.

“Sekedar info, menu lele goreng seporsi di Korea mencapai 200 ribu rupiah lho!”

Nah sampai sini tentunya Wargalele penasaran kenapa sih saya kok amat cinta sama lele? Oke saya akan jabarkan poinnya ya, berdasarkan skala prioritas.

  1. Lele itu sehat, mengandung banyak sekali kandungan Omega 3 dan DHA, dan tentunya juga Vitamin B Komplek yang berguna sekali untuk tubuh.
  2. Lele ketika sebelum diolah hampir semuanya dalam keadaan fresh (masih hidup), ini juga menjauhkan kita dari kekhawatiran bahwa makanan tersebut mengandung bahan pengawet (Nah ini yang tidak kita temui di ikan laut, paham maksud saya? Atau perlu saya bahas di satu judul dikemudian hari?)
  3. Lama siklus panen yang relatif singkat dibandingkan ikan air tawar lainnya yang rata-rata membutuhkan waktu lebih dari 6 bulan. Lele hanya membutuhkan siklus dalam jangka kurang lebih 4 bulan dari larva penetasan atau 2 bulan dari benih siap tebar ukuran 79.
  4. Mudah dalam perawatannya, dan mudah dalam pembesarannya. Asal diberi pakan dengan komposisi protein cukup banyak. Beda dengan gurami/nila yang matanya akan lepas atau organ dalamnya akan rusak ketika diberi banyak protein.
  5. Harga yang relatif stabil, kisaran 20-24 ribu di pasar domestik pulau Jawa. Beda dengan gurami yang saat ini kebetulan harganya anjlok sampai 17ribu per kilogram, di bawah harga ikan nila.
  6. Saya yang menjadi penggemar lele, begitu pula keluarga saya, bahkan ponakan saya paling doyan lele.
  7. Bisa diolah menjadi ragam masakan nusantara, mangut lele/pepes lele dll.

Nah beberapa poin di atas baru sebagian saja, sebenarnya masih banyak lagi, menyusul ya. Lele dilihat dari segi kemanfaatan maupun dari sisi bisnis akan sangat renyah untuk dibudidayakan. Apakah untuk skala coba-coba maupun untuk skala bisnis besar. Bayangkan saja, di Jogja sendiri –tempat saja bertani—masih ada kekurangan stok lele 4 ton per harinya di pasar (dari beberapa sumber online maupun pengepul harian di pasar).

Nah bagaimana? Sekarang langkah pertama apa yang saya lakukan jika ingin menjadi Wargalele seutuhnya? Tentu dengan menyantap dan “meleleisasi” (baca: membudidayakan) lele yang sudah dengan cara dan teknik yang benar.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Andika Kairuliawan

Seorang petani desa yang memiliki keyakinan bahwa seharusnya petani Indonesia lebih keren, lebih bersahaja dan lebih makmur dari yang ada sekarang. Saat ini tengah mengembangkan Banyubeningfarm untuk ternak lele, dan sesekali eksperimen bersama sayuran dengan hidroponik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.