Catatan Harian Petani #3: Sangkuriang atau Mutiara?

Andika Kairuliawan, peternak dari Banyubeningfarm Yogyakarta

Istilah apakah gerangan di atas? Nama tempat atau benda? Wargalele jangan bingung dulu, istilah pada judul adalah salah dua dari nama strain atau lebih tepatnya jenis lele dari peranakan indukan. Ada banyak sekali jenis lele dan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Beberapa jenis lele yang populer antara lain Sangkuriang, Masamo, Mutiara, Dumbo, Phyton, Afrika, dan lain sebagainya.

Tentu bagus ketika ada banyak jenis lele, kita bisa mengeksplorasi berdasarkan kebutuhan di pasar, karena tentu setiap daerah mempunyai iklim dan keadaan air yang berbeda yang dapat disesuaikan dengan karakteristik lele. Beberapa petani pemijah (pemijah: pengembangbiakan dari telur atau dengan cara mengawinkan) juga banyak yang melakukan silang genetik ataupun mengawinkan lele yang tidak satu strain. Hal tersebut tentu ada positif dan negatifnya. Ada beberapa yang gagal karena pengetahuan yang minim dan asal coba-coba. Ada juga yang eksperimen untuk keperluan penelitian secara rinci.

Maka kiranya perlu saya jabarkan beberapa pengetahuan yang saya miliki dengan dibantu beberapa referensi dari sumber yang sudah memiliki pengalaman dan pengetahuan di bidang ini. Nah Langsung saja saya mulai untuk review-nya ya:

Mutiara

Strain ini berasal dari brand yang dikenalkan oleh KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) Sukamandi Subang. Jenis ini adalah hasil seleksi dari persilangan antara lele Dumbo Lokal, lele Mesir, lele Phyton, dan lele Sangkuriang. Dilansir dari laman web BPPI Subang, keunggulan lele Mutiara ini antara lain:

  • Laju pertumbuhan 10-40% lebih tinggi daripada benih lele lain.
  • Lama pemeliharaan singkat; lama pembesaran benih tebar berukuran 5-7 cm atau 7-9 cm dengan padat tebar 100 ekor/m2 berkisar 40-50 hari, sedangkan pada padat tebar 200-300 ekor/m2 berkisar 60-80 hari.
  • Rasio konversi pakan (FCR = Feed Conversion Ratio) relatif rendah; 0,6-0,8 pada pendederan dan 0,8-1,0 pada pembesaran.
  • Lebih tahan terhadap serangan bakteri aeromonas.

Mutiara sendiri adalah singkatan dari “mutu tinggi tiada tara”, sebagai gambaran keunggulan varietas lele Mutiara.

Sangkuriang

Lele Sangkuriang adalah jenis lele hasil perbaikan genetik lele Dumbo yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi. Perbaikan ini diawali penurunan kualitas indukan lele Dumbo akibat inbreeding, alias perkawinan dengan kerabatnya sendiri. Perkawinan silang balik (crossback) pun dilakukan dengan cara mengawinkan induk lele dumbo betina generasi kedua (F2) dengan induk jantan generasi keenam (F6), yakni sediaan induk yang ada di BBPBAT Sukabumi.

Sangkuriang sendiri dari tahun 2010 sampai sekarang selalu jadi buah bibir di kalangan para petani pemula karena berita yang menyebut bahwa lele ini tumbuh dengan tubuh gempal berisi dan panjang. Akan tetapi seiring dengan dilahirkannya beberapa strain lele baru maka ketenarannya pun seakan tenggelam. Tetapi tetap saja digemari karena body yang aduhai dengan pakan yang relatif irit.

Masamo

Lele Masamo dikembangkan oleh salah satu pabrikan pakan di Mojokerto, Jawa Timur. Disebutkan dari pengembangnya, lele ini adalah hasil gabungan genetik 7 strain lele yang berasal dari berbagai negara. Hasilnya, lele Masamo memiliki beberapa keunggulan seperti pertumbuhan yang cepat, lebih tahan terhadap penyakit, dan yang paling mencolok adalah rakus dan agresif soal makan tapi memiliki efisiensi pakan tinggi.

Ciri-ciri lele Masamo antara lain kepalanya lonjong seperti sepatu pantofel, adanya pola seperti tahi lalat di sekujur tubuhnya, dan memiliki tonjolan di tengkuk kepala. Lele Masamo sempat menjadi rebutan dengan harga calon indukan yang 2-4 kali lebih mahal dibanding lele jenis lain. Akan tetapi untuk kalangan pengepul biasanya tidak terlalu suka dengan lele strain Masamo ini karena bentuknya yang sedikit buntek (kurang panjang) dan daging yang berisi di bagian depan dekat kepala. Tetapi lele jenis ini indukannya sangat bagus sekali ketika dikawinkan dengan strain lain.

Dumbo

Lele Dumbo diperkenalkan di Indonesia dari Taiwan pada tahun 1985. Ikan persilangan antara Clarias Gariepinus dan Clarias Fuscus ini memiliki keunggulan yang disukai pembudidaya, di antaranya dapat dipijahkan sepanjang tahun, fekunditas telur yang besar, tahan penyakit, pertumbuhan cepat, dan efisiensi pakannya tinggi. Lele Dumbo memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dari lele lokal. Tapi dari segi rasa, beberapa menganggap daging lele dumbo yang teksturnya lembek masih kalah dengan lele lokal.

Lele strain ini masih jadi kegemaran oleh beberapa warung makan tradisional. Misal mangut lele, sang empunya warung terkenal di daerah Pabelan Magelang selalu mencari lele dengan strain ini, karena badannya yang gempal dan rasanya yang mantap.

Phyton

Asal-usul lele Phyton awalnya adalah banyaknya petani ikan di Pandeglang yang mengeluhkan adanya kematian massal pada benih lelenya. Ternyata, benih lele yang digunakan tidak cocok dengan iklim desa setempat yang dingin. Sekelompok petani pun bereksperimen untuk melakukan penyilangan antara indukan lele betina dari Thailand dengan induk jantan lele Dumbo F6. Hasilnya, varietas lele baru yang tahan terhadap cuaca dingin sehingga SR (Survival Rate) lebih tinggi, mencapai 90%.

Lele Phyton memiliki kepala mirip kepala ular Phyton, memiliki sungut dan ukuran tubuh lebih panjang, dan ekornya lebih bulat. Lele jenis ini juga sangat digemari untuk kemudian dijadikan indukan pejantan oleh para petani pemijah, dikarenakan ukuran badan yang sedikit lebih panjang daripada jenis lainnya dan bentuk kepala yang pipih bisa dikatakan sedikit kecil memudahkan untuk eksplor pada bagian badan oleh gen sang indukan betina.

Afrika

Secara fisik tubuh lele Afrika sama dengan lele lokal. Namun warna lele Afrika lebih hitam kelam jika sudah menjadi indukan. Dan lele Afrika tidak menyengat seperti halnya lele lokal. Lele Afrika memiliki kontur hampir sama dengan lele Phyton, hanya saja lele Afrika masih jarang dijumpai di peternak lele bersertifikasi karena memang masing-masing balai pengembangan ikan mempunyai strain unggulannya masing-masing.

Lele Lokal

Lele spesies Clarias Batrachus ini adalah lele asli perairan Indonesia. Dikenal dari tahun 1975, lele lokal masih banyak penggemarnya karena dagingnya gurih dan tidak banyak lemak. Kelemahannya, pertumbuhannya lambat sehingga FCR-nya pun tinggi. Untuk mencapai 500 gram, lele lokal butuh waktu hingga 1 tahun. Lele lokal ini yang biasanya ketika ukuran sudah mendekati konsumsi sekitar 7-10 ekor per kilo mempunyai kemampuan mematil yang dia anggap sebagai lawannya, alhasil banyak yang menganggap kesulitan untuk mengembangkan lele strain ini.

Mana yang terbaik?

Dari beberapa penjelasan jenis lele di atas, banyak petani yang melakukan uji coba dengan mengawinkan beberapa strain yang ada. Beberapa banyak yang berhasil dan ada pula yang berujung pada kegagalan. Karena berdasarkan genetik tidak semua lele bisa dipijahkan bersamaan.

Saya sendiri pernah mencoba untuk memijahkan (baca: mengawinkan) strain lele Mutiara jantan dengan lele Masamo betina. Karena latar belakang saya ingin mendapatkan ketahanan tubuh dan bentuk Mutiara tetapi dengan nafsu makan Masamo. Tetapi setelah 8 hari saya beri pakan cacing sutera, 80% benih mati secara bersamaan. Ini menandakan bahwa unsur coba-coba dan spekulasi sangat berisiko sekali. Apalagi dengan kemampuan pengetahuan yang belum mumpuni.

Kemudian banyak pertanyaan lanjutan. Lha bagaimana cara saya agar mendapatkan bibit yang varietas bagus dan gradingan unggul. Maka saran saya carilah pembenih yang mempunyai banyak petani plasma dan memiliki sertifikat asal indukan. Itu menjadi nilai lebih untuk wargalele yang masih awam dan belajar. Biasanya tidak terlalu menjanjikan hasil yang muluk-muluk tetapi memberikan bukti yang mutlak, yaitu lele dengan kualitas bagus.

Dan pesan terakhir saya, ada harga ada rupa, hati-hati apabila menemui petani pembenih yang memberikan harga tidak wajar (terlalu murah/terlalu mahal).

Seorang petani desa yang memiliki keyakinan bahwa seharusnya petani Indonesia lebih keren, lebih bersahaja dan lebih makmur dari yang ada sekarang. Saat ini tengah mengembangkan Banyubeningfarm untuk ternak lele, dan sesekali eksperimen bersama sayuran dengan hidroponik.
SHARE