Catatan Harian Petani Hidroponik #1: Pengantar

Bagaimana Indonesia mau maju, kalau perutnya saja lapar

Terkesan cukup menyedihkan, namun setidaknya kalimat tersebut memotivasi saya untuk terus menekuni bidang pertanian. Saya banyak mendengar berbagai pujian tentang Indonesia, tetapi di saat yang bersamaan banyak juga “celaan” yang diterima. Masih ada masyarakat Indonesia yang kelaparan di negerinya sendiri yang makmur.

Menurut Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau lebih dikenal dengan Food and Agriculture Organization (FAO), dikutip dalam Koran Tempo (2015), dituliskan bahwa belasan juta penduduk Indonesia masih kelaparan. Lebih tepatnya sebanyak 19,4 juta jiwa penduduk Indonesia tidur dalam kondisi perut lapar setiap hari. Pada skala yang lebih luas, menurut FAO jumlah penduduk dunia yang kekurangan gizi di tahun 2015 berkisar 777 juta jiwa dan diprediksi meningkat menjadi 815 juta jiwa di tahun 2016.

Jumlah penduduk kekurangan gizi di dunia / FAO, 2017

Perubahan yang mengarah ke percepatan produksi di sektor pertanian dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Cara yang mungkin untuk dilakukan dengan meningkatkan metode intensifikasi, bukan ekstensifikasi. Hal ini disebabkan karena metode ekstensifikasi untuk masa depan dinilai tidak tepat dan cenderung sulit dilakukan. Populasi manusia semakin meningkat, sedangkan luas wilayah yang dihuni tetap. Oleh sebab itu, cara intensifikasi dengan menerapkan inovasi dan introduksi teknologi-teknologi baru menjadi titik berat dari percepatan pembangunan.

Hal ini sama dengan yang diutarakan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, menurutnya tidak mungkin pertanian Indonesia akan maju tanpa teknologi. Di sisi yang lain, salah satu contoh teknologi yang dapat diterapkan pada metode intensifikasi adalah pertanian hidroponik, yang memungkinkan banyak lini masyarakat dapat terlibat dalam sistem produksinya.

Percepatan harus dimulai dari sekarang, karena Indonesia sudah jauh tertinggal dari negara-negara lainnya. Sebagai contoh di Jepang, lebih tepatnya di kota Izu, terdapat pertanian hidroponik dalam ruangan yang tidak membutuhkan cahaya matahari lagi. Kegiatan tersebut dimulai pada tahun 2013 yang mengembangkan ruangan terbatas untuk mendesain semiconductor menjadi kebun hidroponik. Di sisi lain, di Indonesia hidroponik mulai terangkat akhir-akhir ini dan secara dominan perkembangannya masih sejauh hobi saja. Oleh sebab itu, saat ini menjadi saat yang tepat untuk berupaya membangun negeri ini. Setidaknya untuk menjadi hijau melalui ruang rumah tangga.

Perubahan yang besar, heroik, dan bergelora terjadi dari hal-hal kecil yang terkadang disepelekan dan tidak dianggap. Hal-hal kecil yang dilakukan dengan maksimal, konsisten, dan terus berkembang, perlahan-lahan menjadi hal besar yang heroik, dan bergelora. Demikian juga dalam sektor pertanian. Hal besar akan datang dari hal kecil yang dilakukan dengan maksimal, konsisten, dan terus berkembang.

Nama saya Praba Manggala, mahasiswa Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Saya bukanlah seorang expert yang akan memberikan segala solusi dari permasalahan teman-teman pembaca. Tetapi, saya akan bercerita tentang pengalaman berbisnis hidroponik yang dipadukan dengan logika, teori, dan ajaran dari ahli bisnis dan pertanian.

Saya diberi kesempatan menulis karena pengalaman yang pernah saya alami, dan rencana saya ke depan, mungkin dapat menginspirasi dan menjadi sedikit pedoman bagi teman-teman pembaca. Saya memulai semuanya dari kondisi nol, minim pengetahuan, modal pengalaman di bidang pertanian, terlebih lagi modal finansial untuk memulai usaha. Pada awalnya yang saya punya hanya niat. Jika teman-teman pada kondisi yang sama, maka bacaan ke depan akan sangat berguna bagi teman-teman.

Tulisan yang saya buat akan menjadi panjang, mulai dari hal-hal umum sampai hal-hal khusus seperti konsep dan teknis akan dibahas. Oleh sebab itu, tulisan saya akan dibuat menjadi beberapa bagian. Teman-teman pembaca dimohon memberikan komentar dan tanggapan, bahkan request pembahasan yang masih masuk dalam topik besar pembahasan. Setiap hari Senin, akan di-posting tulisan baru dari saya dengan aturan sekitar 600 kata per tulisan.

Di fase awal, akan dibahas secara bertahap mengenai bisnis pertanian dengan hidroponik. Ulasan yang akan saya buat pada 4 tulisan awal adalah sebagai berikut:

  • Teknologi hidroponik; mengapa harus hidroponik, perbedaan dengan pertanian konvensional.
  • Berbagai jenis hidroponik; jenis-jenis instalasi dan penerapannya, kelebihan dan kelemahan dari masing-masing instalasi, instalasi mana yang saya pilih.
  • Bisnis hidroponik bagian I; dari mana saya harus memulai.
  • Bisnis hidroponik bagian II; membentuk tim bisnis yang kuat.

Disclosure: Tulisan ini merupakan kerja sama dari Farming ID dan HidroponikGan!

Mahsiswa jurusan Agribisnis di Universitas Gadjah Mada. Saat ini tengah mengembangkan usaha rintisan berbasis hidroponik. Jika ingin menghubungi untuk sekedar menyapa atau konsultasi seputar hidroponik, bisa melalui 087824363535/085725698935 (WA) prabamanggala (line).
SHARE