Catatan Harian Petani Hidroponik #2: Mengapa Hidroponik?

Kini ibu pertiwi sedang susah.

Demikian keadaan yang harus diterima. Jika dikaitkan dengan sejarah, setelah berakhirnya masa Orde Lama, secara perlahan tapi pasti Indonesia mulai “terjajah” kembali –entah disadari atau tidak, dipercaya atau tidak, dan diakui atau tidak. Namun, hal tersebut tidak perlu menjadi perdebatan panjang, karena masih banyak waktu dan kesempatan untuk terus memperbaikinya.

Faktanya adalah saat ini jumlah penduduk di Indonesia semakin meningkat. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang jumlah penduduk dapat dilihat pada grafik berikut.

Proyeksi penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus penduduk 2010 / BPS
Proyeksi penduduk Indonesia berdasarkan hasil sensus penduduk 2010 / BPS

Berdasarkan grafik di atas, dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Indonesia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2010, jumlah penduduk Indonesia berjumlah 238.518.800 jiwa. Sedangkan pada tahun 2015, jumlahnya mencapai 266.461.700 jiwa. Mengingat bahwa semua penduduk membutuhkan makanan dan tempat tinggal, akan tetapi tidak ada penambahan luas wilayah dari Indonesia.

Dari penjelasan tersebut sudah dapat diasumsikan bahwa luas wilayah pada sektor lain mengalami penurunan. Oleh sebab itu, jika dilihat data dari BPS tentang luas wilayah pertanian, pada tahun 2013 luas lahan untuk sawah sebesar 8.128.499 Ha di seluruh Indonesia. Akan tetapi pada tahun 2014, luas lahan untuk sawah menjadi 8.111.593 Ha.

Dan sekarang, kalimat saya menjadi kenyataan; “kini ibu pertiwi sedang susah”.

Masyarakat  di Indonesia harus mulai sadar dan berbenah. Dimulai dari hal pokok seperti: sektor pangan saja Indonesia belum menguasai. Bagaimana mau maju kalau urusan perut sendiri saja belum beres.

Solusi yang dapat diterapkan untuk mengatasi meningkatnya populasi, konsumsi pangan, dan luas tempat tinggal yang berdampak pada penurunan luas wilayah bercocok tanam adalah meningkatkan produktivitas pada lahan yang tersedia. Peningkatan produktivitas harus terjadi secara signifikan supaya permasalahan yang menumpuk tersebut dapat diatasi dengan sekali dayung.

Berangkat dari hal tersebut, saya mulai mengenal hidroponik. Salah satu teknologi yang sudah banyak diterapkan di Jepang, Amerika, Kanada, Venezuela, Taiwan, Saudi Arabia, dan negara-negara lainnya ini sudah menjadi solusi jitu untuk meningkatkan produktivitas komoditi yang dibutuhkan. Di Indonesia sendiri trend hidroponik cukup baik, namun untuk skala usaha masih jauh dengan negara hebat seperti Jepang maupun Amerika.

Hidroponik berasal dari bahasa Yunani; hidro yang berarti air dan ponos yang berarti daya, atau secara sederhana hidroponik berarti budidaya tanaman tanpa tanah.

Meski demikian, kini hidroponik menjadi sebuah teknologi, bukan hanya rangkaian kata. Dengan kata lain, hidroponik tidak semata-mata tentang bercocok tanam tanpa tanah. Dalam perkembangannya, terdapat banyak sistem penanaman yang menganut asa yang sama dengan hidroponik. Artinya adalah hidroponik memiliki inti yang harus diketahui, supaya dalam pengembangannya inti tersebut dapat tetap terjaga dengan implementasi yang beraneka ragam sesuai yang dibutuhkan.

Inti dari pertanian dengan teknologi hidroponik adalah efisiensi input dan rekayasa lingkungan supaya mendekati kondisi optimal, untuk memperoleh output maksimal secara kualitas dan kuantitas.

Untuk lebih memperjelas pertanian hidroponik, secara sederhana dan secara umum dapat dilihat perbedaanya dengan pertanian konvensional menurut Resh (2013) sebagai berikut:

Parameter Peninjuan Pertanian Konvensional Pertanian Hidroponik
Nutrisi pada tanaman Sangat bervariasi, terbatas secara lokasi, dan tidak stabil Homogen, terkontrol dan relatif stabil
Penempatan tanaman Terbatas oleh nutrisi yang tersedia dan cahaya matahari Terbatas oleh cahaya matahari saja
Eksistensi gulma Terdapat gulma Tidak terdapat gulma
Penyakit dan penyebabnya Terdapat banyak penyakit, nematoda, serangga, dan hewan lainnya Tidak terdapat penyakit, nematoda, serangga, dan hewan lainnya
Ketersediaan air Ketersediaanya terbatas Ketersediaanya tidak terbatas
Pemupukan Kuantitas besar dan tidak efisien Kuantitas kecil dan efisien
Kedewasaan tanaman Relatif lebih lama Relatif lebih cepat
Kondisi media tanam Secara teratur harus diolah Tidak ada pengolahan
Kualitas hasil Kurang baik Sangat baik
Kunatitas hasil Relatif lebih ringan Relatif lebih berat

 

Resh adalah seorang ahli hidroponik, peneliti, dan penulis yang telah menekuni bidang ini dan menulis buku sejak 1978. Buku yang ditulis oleh Resh berdasarkan pengalamannya selama 35 tahun, diskusi dengan berbagai peneliti dan petani, serta partisipasinya terhadap konferensi di berbagai Negara seperti Costa Rica, Brazil, Amerika, Peru, dan negara-negara lainnya.

Pemaparan tabel di atas menjadi cuplikan sedikit tentang kelebihan hidroponik terhadap pertanian konvensional. Karena keterbatasan karakter, penjelasan pada setiap parameter akan dijelaskan di bagian berikutnya dan akan di-posting minggu depan.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Praba Manggala

Mahsiswa jurusan Agribisnis di Universitas Gadjah Mada. Saat ini tengah mengembangkan usaha rintisan berbasis hidroponik. Jika ingin menghubungi untuk sekedar menyapa atau konsultasi seputar hidroponik, bisa melalui 087824363535/085725698935 (WA) prabamanggala (line).

Leave a Reply

Your email address will not be published.