Dinamika Impor Beras Indonesia 2018

Polemik akan adanya kebijakan impor beras sudah terjadi di awal tahun 2018 ini. Kebijakan ini menuai pro dan kontra dari berbagai sudut pandang, baik dari petani maupun pejabat. Permasalahan timbul karena pada tahun 2017 lalu Indonesia sudah berhasil tidak impor beras namun tahun ini kembali gagal.

[Baca juga: Menteri Susi Beri Kompromi Nelayan Cantrang]

Kementerian Perdagangan pada awal tahun ini telah mengeluarkan kebijakan impor beras sebanyak 500 ribu ton. Kebijakan ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan beras nasional. Kementerian tidak ingin mengambil risiko akan kekurangan pasokan beras jika tidak dilakukan impor. Impor ini juga diharapkan mampu menjadi stok cadangan beras pemerintah dan mengendalikan harga beras di pasar yang terus meningkat.

Kebijakan impor beras tentu tidak langsung diterima begitu saja oleh masyarakat. Banyak pemerintah daerah yang masih menanyakan kebijakan tersebut. Salah satunya adalah Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak yang meminta pemerintah pusat mengkaji ulang kebijakan mendatangkan beras impor. Hal ini karena kebijakan tersebut dikeluarkan menjelang panen raya padi di bulan Februari dan Maret mendatang. Impor ini dinilai dapat merugikan petani karena bisa menjatuhkan harga beras di pasaran.

Hal lain yang menjadi perhatian masyarakat adalah jenis beras yang akan diimpor, yaitu beras khusus atau premium. Padahal saat ini yang sedang mengalami lonjakan harga dan menjadi kebutuhan masyarakat umum adalah beras medium. Selain itu, keputusan impor tersebut juga dinilai sudah terlambat karena harga beras di pasar sudah terlanjur tinggi. Setelah panen raya, beras impor bisa saja tidak digunakan karena tidak ada wilayah penyaluran.

Namun dari sudut pandang lain, kebijakan impor beras ini memang perlu dilakukan. Bulog mengatakan jika persediaan beras nasional memang masih sangat kurang. Bulog saat ini hanya memiliki pasokan sekitar 800 ribu ton beras dimana idealnya cadangan beras ini tidak kurang dari 1 juta ton. Kondisi ini terjadi karena sejak November 2017 Bulog sudah mulai gencar melakukan operasi pasar untuk menyetabilkan harga beras di pasar, namun hal ini belum berhasil. Oleh karena itu, kebijakan impor ini muncul di awal tahun 2018 ini.

Selain untuk memenuhi kebutuhan beras nasional, kebijakan impor ini ternyata juga bisa untuk menekan laju inflasi. Bank Indonesia sudah mewaspadai kenaikan harga beras di pasar yang dapat mendorong laju inflasi pada awal tahun ini. Beras dan komoditas hortikultura merupakan dua hal yang menjadi penggerak utama laju inflasi ini. Bank sentral sendiri menargetkan inflasi pada tahun 2018 akan berada pada kisaran 3,5 plus minus 1 persen. Hal ini karena memang pada tiga tahun terakhir, inflasi  terus berada pada level yang rendah dan sesuai dengan target.

Dengan adanya polemik dan dinamika tersebut, diharapkan apapun keputusan yang diambil dapat diterima oleh semua pihak. Pemerintah harus bertanggung jawab dengan impor yang dilakukan dan petani ataupun masyarakat tetap mendukung serta bisa saling bekerja sama agar tidak ada yang dirugikan.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published.