Diversifikasi Pangan: Menjemput Tuah yang Tak Sampai

Diversifikasi pangan / Pixabay

Indonesia adalah negeri yang ramah, bahkan tanah pun ramah dengan kita. Lagu rayuan pulau kelapa karya Ismail Marzuki era 1940-an sudah mengilhami keadaan Indonesia saat dulu hingga kini. Dari sekian macam benda yang bisa tumbuh di tanah kita, terbesit makhluk hidup yang selalu diharapkan tumbuh subur sepanjang tahun: tanaman pangan. Pangan adalah soal hidup dan matinya suatu negara, secara harfiah. Pangan adalah soal isi dari perut. Sebuah kegiatan dasar manusia untuk tetap bertahan hidup. Pulau melati sang pujaan bangsa ini memiliki keanekaragaman hayati kedua terbesar di dunia dengan 77 spesies tanaman sumber karbohidrat seperti serealia; jagung, sorghum, hotong, jali, jawawut dll), ubi-ubian yang termasuki didalam keluarga ini ialah singkong, ubi jalar, talas, sagu, ganyong, garut, gembili, gadung dll; dan keluarga sukun, pisang, labu kuning, buah bakau (Data Kementrian Pertanian, 2014).

[Baca juga: Dinamika Impor Beras Indonesia 2018]

Dari sekian macam pangan, beras masih menjadi primadona. Total permintaan akan beras selalu meningkat berbanding lurus dengan pertambahan penduduk, yaitu 1,49 persen per tahun. Hal ini diperkuat dengan adanya adagium “belum makan hari ini kalau belum makan nasi”. Beras seakan-akan wajib dikonsumsi, entah satu atau dua kali, dalam sehari. Kontribusi beras dalam konsumsi kelompok padi-padian sebesar 996 kkal/kap/hari atau mencapai 80.6 persen terhadap total energi padipadian (1.236 kkal/kap/hr) pada tahun 2011 (Roadmap Diversivikasi Pangan, 2011).

Tingginya dominasi beras dalam pola konsumsi pangan penduduk Indonesia hingga saat ini merupakan salah satu penyebab utama masih rendahnya kualitas konsumsi pangan nasional, yang belum beragam dan bergizi seimbang yang diindikasikan oleh skor Pola Pangan Harapan, ditambah lagi dengan menggiatnya keinginan negara untuk mengurangi beban pengeluaran rumah tangga sasaran dalam memenuhi kebutuhan pangan pokok dalam bentuk beras lewat  Kementrian Koordinasi Kesejahteraan Rakyat dalam mengampanyekan “Program Raskin” yang dimana menurut Menteri Sosial Khofifah diganti beras sejahtera di setiap daerah negeri ini. Memunculkan pertanyaan dalam permasalahan: sampai kapan beras ini akan cukup buat seluruh perut masyarakat?

Solusi: Diversifikasi Pangan Lewat Pangan Lokal

Diversifikasi lazim dikenal dengan pelapangan, yang merupakan salah satu prioritas dari empat target sukses pertanian, karena itu program atau gerakan percepatan diversifikasi konsumsi pangan harus dilaksanakan secara terstruktur  dan terukur, dengan kegiatan, sasaran, dan ukuran kinerja yang jelas. Diversifikasi bahkan menjadi cita-cita yang selalu disusun dalam sebuah roadmap Kementrian Pertanian setiap periode menterinya. Namun bagaimana mencapai diversifikasi tersebut? Salah satu objek utamanya adalah dengan memaksimalkan tanaman pangan yang ada dan menjadi ciri di setiap daerah di negeri ini. Ya. Pangan lokal.

Pangan sumber karbohidrat tersebut tersedia dan tumbuh subur di seluruh Indonesia, saat dan secara tradisional dikonsumsi sebagai pangan pokok maupun kudapan.   Tanaman-tanaman yang dikemudian hari diagungkan dalam pangan lokal tersebut kini lambat laun sudah mulai diusahakan dengan berbagai program dari pemerintah pusat dan daerah. Sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden No. 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal, bahwa upaya penganekaragaman konsumsi pangan harus berbasis sumber pangan setempat atau khas daerah.

Menurut Ahmad Suryana, Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian tahun mengabdi 2010-2014, Upaya penganekaragaman konsumsi pangan harus berbasis sumber pangan setempat atau khas daerah. Seperti keladi yang dapat dibuat keladi sebagai makanan khas di beberapa daerah di Sulawesi, sagu yang dapat dibuat berbagai makanan khas dari masyarakat Maluku, jagung yang dahulu merupakan makanan pokok di Pulau Madura, atau singkong dan kentang yang kandungan karbohidratnya tidak kalah dari beras yang juga terdapat di Nusa Tenggara. Dari beberapa tanaman tersebut masih bisa diberikan contoh masakan dengan kandungan gizi yang tidak jauh dari beras seperti sawit singkong kuning, nasi jagung campur, keladi isi ubi ungu, mie sagu, atau nasi keribang jali.

Bagaimana caranya?

Untuk mencapai kualitas konsumsi pangan yang lebih baik, perlu ditingkatkan beberapa aspek. Pertama, tentu saja budidaya. Umbi-umbian, pangan hewani, kacang-kacangan, buah/biji berminyak, gula serta sayur, dan buah atau dikenal sebagai keanekaragaman konsumsi secara horizontal harus disesuaikan dengan teknologi terbaru sehingga produksi jauh lebih maksimal. Hal ini dimaksud agar masyarakat khususnya petani juga memiliki keinginan untuk membantu mencapai target yang disokong bersama dengan penyuluh, lembaga pertanian pemerintah maupun swadaya masyarakat.

Kedua, peningkatan kualitas produksi hulu akan diikuti dengan konsumsi horizontal dan diakhiri dengan penganekaragaman konsumsi vertikal, yaitu konsumsi aneka ragam jenis pangan sumber karbohidrat dan olahannya atau hilirnya (jenis padi-padian: jagung dan olahannya, hotong, sorghum, biji jali, dan jenis padi-padian lainnya), aneka pangan sumber protein dan olahannya (aneka pangan hewani dan aneka kacang-kacangan), serta aneka pangan sumber vitamin dan olahannya (beragam jenis sayur dan buah-buahan).

Ketiga, keseriusan untuk selalu branding dan mewartakan pangan lokal tidak selamanya “kurang” dari beras. Karena saat ini kekuatan media sangat sayang untuk tidak dipertajam di era digital saat ini. Keempat, mulailah dari sekarang untuk mengganti salah satu kegiatan memakan nasi (pagi, siang, atau malam) dengan non-nasi dan non-terigu. Bila tidak dimulai dari hari ini, mungkin kedaulatan pangan dan cita mulia diversifikasi hanya mimpi belaka dan tidak pernah terwujud rimbanya.