Dua Hal yang Perlu Diperhatikan untuk Menanam Cabai di Lahan Pasir Pantai

Melanjutkan artikel sebelumnya mengenai potensi produktivitas cabai merah, Indonesia memiliki lahan panen yang luas namun potensi produktivitas yang ada masih di bawah kemampuan optimal cabai. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh serangan hama penyakit tanaman dan pemilihan varietas yang belum sesuai dengan kondisi area pertanaman. Perluasan area tanam juga dapat digunakan untuk meningkatkan produktivitas tanaman, contohnya dengan memanfaatkan lahan marginal seperti lahan pasir pantai.

Tanaman yang dapat diusahakan di lahan pasir pantai selain cabai yaitu kangkung darat, terong, tomat, kacang tanah atau bawang merah, tanaman pangan seperti jagung, padi, kedelai, kacang hijau, dan dapat juga ditanami tanaman buah-buahan seperti melon, semangka, dan papaya. “Pantai Samas dan Pantai Bugel , Daerah Istimewa Yogyakarta didominasi oleh tanaman cabai”, ujar Kuni Saffana, Sarjana Pertanian UGM yang telah melakukan penelitian di lahan pasir pantai. Banyak petani yang memanfaatkan tumpang sari dengan tanaman lain seperti cabai dengan kangkung darat, atau cabai dengan bawang merah.

Nah, apa saja yang perlu diperhatikan agar tanaman dapat tumbuh di lahan pasir pantai?. Pada dasarnya budidaya tanaman cabai di lahan sawah atau konvensional dengan lahan pasir pantai tidak jauh berbeda, namun “Ada dua hal yang utama dalam melakukan budidaya di lahan pasir pantai” tambah Kuni.

  1. Penggunaan Pupuk

Bahan organik yang terdapat pada pupuk, khususnya pupuk kandang sangat dibutuhkan untuk pengolahan lahan. Pupuk kandang dapat mempertahankan kelembaban tanah lebih lama, terutama tanaman cabai dengan fase pertumbuhan yang cukup panjang. Selain itu, menurut Karsidi, Petani Cabai di Pantai Samas,”kesuburan tanah di lahan pasir pantai sangat rendah, pasir sebagai media tanam sangat porous sehingga air mudah terserap”. Oleh karena itu digunakan pupuk kandang untuk meningkatkan daya simpan lengas tanah.

Aplikasi pupuk kandang saat pengolahan lahan / Kuni Saffana

Bahan organik berguna sebagai cadangan unsur-unsur mineral, mensuplai makanan untuk organisme tanah, mengurangi erosi, limpasan dan meningkatkan kelengasan tanah. Berdasarkan hasil penelitian Saffana (2017), rerata dosis pupuk kandang optimal yang dibutuhkan petani sebanyak 5,02 kg/m2.

2. Penyiraman

Air dibutuhkan tanaman untuk siklus hidupnya. Adanya pasokan air yang cukup, akar dapat menyerap air dengan baik menuju daun kemudian digunakan untuk fotosintesis, menjaga suhu tanaman agar tetap konstan dan memberikan turgor pada sel untuk proses pembelahan dan perbesaran sel. Pasir yang porous mudah kehilangan air, “perlu dilakukan penyiraman secara intensif, minimal satu kali dalam satu hari” ujar Kuni.

Penyiraman juga berfungsi menghilangkan kandungan garam (salin) di tanah dan tanaman agar tidak menghambat pertumbuhan akibat kemampuan penyerapan air terhalangi. Supaya lebih efisien, air diberikan secara langsung ke daerah perakaran. “Saat ini, sebagian petani di Pantai Samas menggunakan air tanah yang diambil melalui penggalian dan pompa, kemudian disebarkan dengan alat yang disebut shower.” lanjut Kuni. Penelitian Agil (2002) melaporkan, pemberian air optimal sebanyak 1,2 l/hari

Itu yang utama, tetapi ada hal-hal lain yang harus diperhatikan untuk keberhasilan budidaya di lahan pasir pantai. “Penggunaan mulsa seperti mulsa plastik warna hitam perak untuk menutupi permukaan tanah yang panas serta menjaga kelembaban tanah” ujar Karsidi. Penyiangan gulma dilakukan secara rutin agar gulma tidak menjadi inang vektor pembawa penyakit tanaman, serta yang tidak kalah penting penanaman Tanaman border seperti jagung atau cemara udang dibutuhkan untuk memecah angin yang kencang di daerah pantai dan menjerap udara salin.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Ayu Ainullah Muryasani

Agronomi Universitas Gadjah Mada. Untuk sharing dan diskusi: ayumuryasani@gmail.com.