Efisiensi Pakan Budidaya Ikan dengan Biofloc

Budidaya dengan Teknologi Biofloc / Flickr

Kegiatan budidaya perikanan di Indonesia saat ini mulai menjamur dan dilakukan secara intensif. Hal ini dilakukan karena besarnya peluang pasar ikan hasil budidaya dimana  kebutuhan konsumsi ikan yang terus meningkat. Dalam budidaya intensif, permasalahan yang sering dihadapi yaitu adanya amonia dari sisa pakan dan hasil metabolisme yang mengendap di perairan. Amonia ini bersifat racun dan dapat mengancam tingkat kehidupan ikan. Oleh karena itu, perlu adanya suatu sistem untuk meminimalisasi atau bahkan menghilangkan amonia dalam air budidaya.

Saat ini telah berkembang teknologi budidaya dengan sistem biofloc. Budidaya dengan teknologi biofloc  merupakan teknik pemeliharaan ikan dengan prinsip mengolah limbah air budidaya menjadi pakan alami dengan penambahan probiotik dan dilakukan aerasi secara terus menerus. Aerasi yang dilakukan akan mengaduk perairan sekaligus menyuplai oksigen untuk memacu pertumbuhan mikroorganisme. Mikroorganisme dari probiotik mampu mengurai bahan organik dalam air limbah budidaya menjadi bahan anorganik yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami ikan dalam bentuk floc.

Floc sendiri merupakan gumpalan dari sekumpulan mikroorganisme yang melayang-layang dalam air dan bermanfaat sebagai pakan alami ikan. Terbentuknya floc dalam air budidaya diindikasikan dengan perubahan warna air budidaya menjadi cokelat kemerahan.

Pusat Penyuluhan KKP melansir bahwa Biofloc merupakan agregat diatom, makroalga, pelet sisa, eksoskeleton organisme mati, bakteri, protista dan invertebrata juga mengandung bakteri, fungi, protozoa dan lain-lain yang berdiameter 0,1-2 mm. Bahan-bahan organik itu merupakan pakan alami ikan dan udang yang mengandung nutrisi baik, yang mampu disandingkan dengan pakan alami, sehingga pertumbuhan akan baik bahkan jumlah pakan yang diberikan bisa diturunkan.

Dikutip  dari  Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, teknis budidaya dengan biofloc dimulai dengan tahapan:

  • Persiapan kolam

Persiapan kolam dimulai dengan pengeringan dan pemberian desinfektan, kemudian dilakukan pemasangan perlatan aerasi dan pengisian air setinggi 80-100 cm. Air diberi perlakukan seperti pengapuran (100-200 gr/m3), penggaraman (3 kg/m3) dan pemberian probiotik (5 cc/m3). Air dibiarkan selama 7 hari sampai terjadi perubahan warna air. Sedangkan pengadukan dan aerasi dimulai sejak awal pemeliharaan.

  • Penebaran benih

Setelah persiapan kolam selesai, benih ikan yang akan dibudidayakan ditebar, contohnya pada budidaya lele dengan benih ukuran 7-8 cm dan padat tebar 1000/m3.

  • Manajemen pakan

Setelah penebaran, benih dipuasakan selama 2 hari. Tujuan dari pemuasan ini agar benih beradaptasi dengan lingkungan pemeliharaan. Selanjutnya pemberian pakan dilakukan dengan dosis tertentu mengikuti pertumbuhan beratnya.

Budidaya dengan teknologi biofloc  memiliki berbagai keunggulan jika dibandingkan dengan budidaya konvensional. Dengan budidaya menggunakan teknologi biofloc pemberian pakan yang menggunakan pelet dapat ditekan. Dengan demikian biaya produksi yang dikeluarkan dapat berkurang karena penggunaan pakan berupa pelet berkurang. Selain itu biofloc merupakan salah satu bentuk kegiatan perikanan yang ramah lingkungan, efisien dalam penggunaan air karena penggunaan air tidak sebanyak budidaya konvensional yang harus sering dilakukan pergantian untuk menjaga kualitas air. Saat ini sistem budidaya dengan teknologi biofloc telah diterapkan untuk budidaya lele, udang dan sedang dikembangkan untuk budidaya ikan nila.