Fokus Pembangunan Sektor Pertanian Indonesia Tahun 2018

Indonesia terus berusaha mengembangkan sektor pertaniannya dengan potensi yang dimilikinya. Setelah kinerja tahun lalu yang bisa dibilang sangat bagus, tahun ini Indonesia masih terus berusaha untuk mencapai target-target pengembangan sektor pertaniannya. Banyak langkah dari Kementerian Pertanian yang nantinya akan dijalankan di tahun 2018 ini.

[Baca juga: Dinamika Impor Beras Indonesia 2018]

Kementerian Pertanian sebagai pusat dan ujung tombak dalam pembuatan kebijakan pertanian di Indonesia terus berusaha dalam melakukan inovasi dan pengembangan kinerja guna meningkatkan kualitas sektor pertanian dalam negeri.

Pengembangan 4 Komoditas Pertanian

Setelah suksesnya swasembada produk pertanian seperti beras, bawang merah, cabai dan jagung, tahun ini Kementerian Pertanian akan lebih fokus untuk mengembangkan rempah-rempah, bawang putih, gula, dan kedelai. Kementerian menilai jika produk-produk tersebut dapat berkembang, maka komoditas strategis lain juga akan ikut berkembang. Langkah yang akan diambil adalah meminta pemerintah provinsi untuk mengembalikan luas tanam yang luasnya lebih rendah dibanding luas tanam tahun lalu.

Revitalisasi KRPL dan TTIC

KRPL (Kawasan Rumah Pangan Lestari) juga akan menjadi fokus pengembangan pemerintah tahun ini. KRPL sebenarnya sudah berjalan cukup lama, namun sempat terhenti dan tidak berjalan maksimal. Tahun ini jumlah KPRL akan ditambah dan dikembangkan. Indonesia memiliki lahan pekarangan sekitar 10,4 juta hektar. Sejak 2010 hingga saat ini ada 18.000 titik lokasi KPRL dan akan ditingkatkan hingga 23.000 titik di tahun 2018. KPRL akan sangat membantu ekonomi rumah tangga di sekitar lokasi karena akan menghemat pengeluaran biaya 750.000 hingga 1,2 juta rupiah, di setiap rumah tangganya.

Untuk TTIC (Toko Tani Indonesia Center), BKP (Badan Ketahanan Pangan) akan me-launching TTIC Digital (e-commerce) yang dimana nantinya berfungsi sebagai distributor TTI. Sampai akhir tahun 2017, sudah dibangun 1.800 unit TTI dan target di tahun 2018 sudah ada 3000 unit TTI di daerah penyangga pasar. Fungsi TTIC nantinya sebagai koordinator distributor kebutuhan komoditi TTI yang akan bekerjasama dengan gapoktan sebagai produsen kebutuhan komoditi TTI.

Mengangkat Kesejahteraan Petani

Dalam rakernas Kementerian Pertanian awal tahun 2018, sudah dibahas bagaimana program-program yang mampu menyentuh langsung para petani dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Salah satunya adalah dengan mekanisasi pertanian untuk mendorong produksi komoditas strategis Indonesia. Petani yang kurang mampu akan diberi alsintan gratis untuk usahataninya.

Selain itu, kementerian juga akan melanjutkan dan mengembangkan bentuk kerja sama dengan TNI AD yang bernama Satgas Pangan yang berfungsi untuk penegakan hukum di bidang pangan, pemberian binaan, dan tindakan pencegahan pelanggaran. Sejak mei 2017, Satgas Pangan sudah berhasil menangani 169 kasus dengan 185 tersangka untuk pelanggaran komoditas beras, bawang, cabai, minyak goreng, sampai tepung terigu. Langkah ini diharapkan akan mampu lebih melindungi petani-petani Indonesia.

Regenerasi Petani

Jumlah dan kualitas petani sebagai sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam mengoptimalkan pembangunan pertanian. Oleh karena itu, tahun ini kementerian juga akan berfokus dalam regenerasi petani dengan cara melakukan transformasi pendidikan pendidikan tinggi pertanian yang semula program studinya hanya penyuluhan, ditambah dengan harus berorientasi agribisnis hortikultura, agribisnis perkebunan, dan mekanisasi pertanian. Untuk pembinaan lebih lanjut, penyuluh dan pendamping pertanian dari mahasiswa juga diharapkan mampu terjun langsung ke masyarakat. Perguruan tinggi pertanian di Indonesia dinilai memiliki peran penting dalam pengembangan sumberdaya manusia pertanian dan perkembangan masyarakat Indonesia pada umumnya.

Produksi Benih

Kementerian Pertanian dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 akan memprioritaskan program perbenihan. Pihak kementerian sudah menganggarkan dana sebesar 2,1 triliun rupiah untuk program perbenihan ini di sektor hortikultura dan perkebunan. Dana tersebut akan dialokasikan untuk memproduksi benih-benih unggul yang diberikan secara gratis kepada para petani. Hasil yang berkualitas unggul nantinya diharapkan mampu menambah kuantitas produk ekspor Indonesia.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published.