Gunakan Esktrak Bunga Telang sebagai Pewarna Alami

Bunga telang / Pixabay

Pewarna alami kini mulai tergeser penggunaannya oleh pewarna sintesis yang lebih praktis, mudah didapatkan, tahan lama, warna yang stabil, absorbansi yang tinggi, dan penampilan warna yang menarik. Banyak makanan di Indonesia menggunakan pewarna sintesis dalam pembuatannya seperti cenil, kolang-kaling, kue lumpur, kue mata sapi, gethuk, dan lain sebagainya.

Perlu diketahui bahwa penggunaan pewarna sintesis untuk makanan yang terus-menurus dapat membahayakan kesehatan karena pewarna ini bersifat karsinonegik. Selain itu pada pewarna sintesis mengandung logam berat di antaranya adalah raksa, arsen, dan timbal. Padahal di sekitar kita banyak tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alami yang apabila digunakan tidak mengganggu kesehatan. Tumbuhan tersebut adalah bunga kembang sepatu, daun suji, pandan, bunga rosella, dan bunga telang.

[Baca juga: Bungakan Amaryllis di Luar Musim]

Bunga pada tumbuhan memiliki pigmen organik yang disebut antosianin yang dapat mengubah warna bunga seperi merah, hijau, biru pada perubahan pH, tak terkecuali pada bunga telang.

Bunga telang (Clitoria ternatea L.) termasuk dalam suku Febaceae atau polong-polongan, dapat tumbuh pada ketinggian sekitar 700 mdpl. Bunga ini banyak ditanam sebagai tanaman hias di pekarangan dan tumbuh merambat di pagar. Bunga telang dapat dijumpai pula tumbuh liar di semak belukar, pertumbuhannya cepat. Sehingga butuh pemangkasan teratur apabila ditanam di pekarangan rumah.

Bunga telang mengandung antosianin yang memberi warna ungu kebiruan pada mahkota bunga. Perasan bunga tersebut dapat digunakan untuk pewarna makanan alami.

Bagaimana cara membuat pewarna makanan alami dari bunga telang?

Cara membuatnya adalah dengan cara mengekstrak bunga telang ini. Kuntum bunga telang dipetik dalam kondisi baik, tentunya yang mekar sempurna. Kuntum bunga segar maupun kering dipetik kemudian dipotong-potong atau langsung ditumbuk dan ditambah larutan air.

Perasan air akan berwarna biru gelap, kemudian bunga disaring sehingga akan menyisakan airnya saja. Setelah disaring, perasan dapat digunakan sebagai pewarna alami. Contohnya sebagai pewarna alami kue, agar-agar atau minuman. Selain itu, ekstrak bunga ini tidak mengubah aroma dan rasa makanan. Dibutuhkan kuntum bunga yang cukup banyak agar menghasilkan warna biru yang diinginkan.

Penyimpanan ekstrak berdasarkan hasil penelitian Mastuti dkk tentang “Ekstraksi dan Uji Kestabilan Warna Pigmen Antosianin dari Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Sebagai Bahan Pewarna Makanan”, sebaiknya disimpan pada suhu rendah sekitar 6 derajat celcius agar mempertahankan stabilitas warna biru keunguan bunga telang, hindari dari sinar matahari yang berlebih dan pemanasan ekstrak yang terlalu lama. Apabila ekstrak disimpan pada suhu ruangan (sekitar 30 derajat celcius) terlalu lama, maka intensitas warna bunga telang dan absorbansinya dapat berkurang.

Dilansir dari sehatalami.com bunga telang dapat dikonsumsi sebagai minuman sehat. Penyajiannya dengan menyiapkan air sebanyak 500 ml, bunga telang segar atau kering sebanyak 12 kuntum bunga, sari dari jeruk nipis (setengah bagian), satu daun sereh, dan madu. Kemudian bahan dicampur dan direbus hingga warna menjadi biru tua, kemudian diseduh dan Teh Bunga Telang siap diminum. Khasiatnya untuk meningkatkan daya ingat dan dapat sebagai anti depresi.

Penggunaan tumbuhan seperti bunga telang untuk pewarna makanan alami memang membutuhkan treatment khusus dan jumlah yang banyak agar memberikan warna yang diinginkan. Oleh karena itu, agar dapat memenuhi kebutuhan bunga telang ini dapat dibudidayakan dengan cara generatif. Secara generatif buah pada bunga diambil, dikeringkan, kemudian biji disebar di media tanam.

Cukup mudah bukan membuat pewarna alami dari bunga telang?