Gunakan Pupuk Organik Ini agar Produksi Sawi Optimal

Sawi sudah menjadi konsumsi harian masyarakat Indonesia. Selain mengandung karbohidrat, sawi juga mengandung vitamin dan mineral. Ada beberapa jenis sawi, seperti sawi putih, sawi hijau dan sawi huma. Sawi hijau merupakan jenis sawi yang banyak menjadi pilihan untuk dikonsumsi.

Pengertian pupuk organik itu sendiri ialah tambahan unsur hara untuk tanaman yang berasal dari bahan non kimia yang diperoleh dari daun atau bagian tubuh tumbuhan atau pelapukan sisa-sisa hewan. Selain bermanfaat untuk memperbaiki kesuburan tanah, menggunakan pupuk organik dapat meminimalisasi residu bahan kimia akibat pupuk kimia.

“Ternyata ada pupuk organik dengan bahan dasar tulang sapi, lele, brotowali, dan vinasse,” ungkap Canggih Nailil Maghfiroh, Sarjana Pertanian dari Universitas Gadjah Mada yang meneliti tentang “Pengaruh Takaran dan Jenis Pupuk Hayati terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi Hijau (Brassica rapa L.) pada Sistem Pertanian Organik”. Pupuk-pupuk ini berwujud cair atau lebih dikenal dengan sebutan Pupuk Organik Cair (POC).

[Baca juga: Ternyata Rotan, Tape, Susu, Nasi dan Kulit Telur Bisa Jadi Pupuk]

Jenis-jenis pupuk tersebut telah digunakan oleh petani yang menerapkan pertanian organik di daerah Cangkringan, D.I. Yogyakarta. Namun, belum diteliti kandungan hara maupun kombinasi terbaiknya. Nah, dengan penelitian Canggih ini diharapkan hasil dapat menjadi menjadi tambahan informasi untuk pupuk organik.

Bagaimana cara membuat pupuk organik dengan bahan dasar tulang sapi, lele, brotowali dan vinasse? Untuk lebih lanjut Canggih menjelaskan mekanismenya.

  1. Pupuk organik fermentasi tulang sapi. Cara pembuatannya yaitu siapkan tulang sapi kemudian dilarutkan dalam 1 liter air dan 1 kg gula aren. Gula aren ini berfungsi sebagai penyedia karbohidrat mikroba. Campuran tersebut disimpan dalam wadah tertutup. Wadah dibuka setiap 3 hari sekali agar gas CO2 hasil fermentasi keluar. Selama 1 minggu penyimpanan wadah dibuka dan cairan hasil fermentasi disaring.
  2. Pupuk organik fermentasi lele. Lele dipotong melintang kemudian dicampur dengan 1 liter air dan 1 kg gula aren, kemudian campuran tersebut diletakkan dalam wadah tertutup kemudian dibiarkan 1 minggu. Setiap 3 hari sekali wadah dibuka untuk mengeluarkan gas CO Selama 1 minggu penyimpanan wadah dibuka dan cairan hasil fermentasi disaring.
  3. Pupuk organik fermentasi brotowali. Pembuatannya dengan memotong brotowali menjadi ukuran yang kecil, kemudian dicampur dengan 1 liter air dan 1 kg gula aren. Campuran difermentasikan dalam wadah tertutup. Wadah dibuka setiap 3 hari sekali agar gas CO2 hasil fermentasi keluar. Selama 1 minggu penyimpanan wadah dibuka dan cairan hasil fermentasi disaring.
  4. Pupuk organik vinasse. Vinasse didapatkan dari limbah pabrik gula. Agar dapat diaplikasikan sebagai pupuk organik, vinasse ditambah dolomit sebanyak 250 g setiap liter air untuk menurunkan pH karena pH yang terdapat pada vinasse cukup rendah yaitu sekitar 4,35.

Keempat pupuk tersebut memiliki kandungan N,P, dan K yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil penelitian, pupuk yang berasal dari fermentasi tulang sapi memiliki kandungan N,P, dan K terbaik dibanding ketiga pupuk lainnya.

Setelah dilakukan kombinasi dengan jenis dan dosis pupuk ke tanaman sawi, jenis pupuk yang berasal dari tulang dan lele sapi menunjukkan bobot kering tajuk terbaik. Selain itu, “kombinasi pupuk sapi dengan dosis 5 ml/l dapat meningkatkan bobot segar tajuk sebesar 37,43% dan bobot kering tajuk sebesar 45,54%, sedangkan pada pupuk lele dengan dosis 5 ml/l meningkatkan bobot segar tajuk sebesar 32,36% dan bobot kering tajuk sebesar 42,82%” ujar Canggih.

Itulah beberapa alternatif pupuk organik dan cara membuatnya. Pupuk-pupuk organik tersebut dapat digunakan untuk pendukung pertanian organik.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Ayu Ainullah Muryasani

Agronomi Universitas Gadjah Mada. Untuk sharing dan diskusi: ayumuryasani@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.