Hama Ulat Bawang Merah dan Berbagai Cara Pengendaliannya

Bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki peranan penting dalam menentukan kondisi perekonomian nasional Indonesia. Komoditas ini berperan dalam menyumbangkan angka inflasi terutama pada saat produksinya menurun di musim-musim tertentu. Salah satu penyebab menurunnya produksi bawang merah adalah serangan hama ataupun penyakit yang tidak terkendali.

[Baca juga: Tantangan dan Prospek Budidaya Bawang Merang terhadap Perubahan Iklim]

Ulat bawang (Spodoptera exigua) merupakan hama utama yang umum merusak tanaman bawang merah. Serangan hama ini dapat menyebabkan penurunan produksi bawang merah yang tidak sedikit jika tidak dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian. Agar pengendalian hama ulat bawang dapat dilakukan secara tepat, maka harus dikenali terlebih dahulu morfologi, gejala serangan, tanaman inang, dan cara pengendaliannya.

Gejala Serangan

Bagian tanaman yang terserang terutama daunnya, baik daun pada tanaman yang masih muda ataupun yang sudah tua. Setelah menetas dari telur, ulat muda segera melubangi bagian ujung daun lalu masuk ke dalam daun bawang, sehingga ujung daun tampak berlubang/ terpotong. Ulat akan menggerek permukaan bagian dalam daun, sedang epidermis luar ditinggalkannya. Akibat serangan tersebut daun bawang terlihat menerawang tembus cahaya atau terlihat bercak-bercak putih, akhirnya daun menjadi terkulai. Awalnya ulat berkumpul. Setelah isi daun habis, ulat segera menyebar dan jika populasi besar, ulat juga memakan umbi.

Tanaman Inang

Tanaman yang dijadikan inang hama ulat bawang diantaranya adalah bawang daun, kucai, jagung, cabai, kapas dan tanaman kacang-kacangan seperti kacang tanah, kapri, dan kedelai. Oleh karena itu perlu diperhatikan populasi tanaman inang ini di lingkungan budidaya bawang merah agar tidak menjadi sumber serangan hama.

Cara Pengendalian

Pengendalian hama ulat pada bawang merah bisa dilakukan dengan berbagai cara, baik secara mekanis, penggunaan perangkat, dan secara kimiawi jika itu memang diperlukan.

Secara Mekanis

Pengendalian pertama bisa dilakukan secara mekanis yang bertujuan untuk mematikan hama secara langsung, baik dengan tangan maupun bantuan alat atau bahan lain. Penanganan dengan tangan, yaitu dengan mengumpulkan kelompok telur pada daun bawang yang menunjukkan gejala serangan ini dipetik dan dikumpulkan, kemudian dimusnahkan.

Dengan Perangkap

Pertama, dengan menggunakan perangkap feromon seks. Feromon seks adalah senyawa kimia yang dibuat secara sintetik sebagai media komunikasi antara serangga jantan dan betina yang digunakan untuk mengendalikan hama ulat bawang. Dalam 1 ha dibutuhkan 12-24 buah.

Kedua, penggunaan lampu perangkap/light trap. Perangkap ini didesain sedemikian rupa secara sederhana dengan cara kerja menarik ngengat melalui cahaya lampu dengan waktu nyala yang efektif dan efisien jam 18.00-24.00. Dalam satu hektar dibutuhkan 25-30 unit perangkap lampu.

Ketiga, penggunaan kelambu kasa/shading net. Penggunaan kelambu kasa akan mencegah ngengat masuk ke areal pertanaman. Kelambu kasa dibuat dari bahan khusus yang tahan cuaca dan bisa dipakai hingga 6-8 kali musim tanam.

Keempat, melakukan pemasangan perangkap likat kuning untuk menangkap kupu-kupu yang beterbangan di sekitar lahan pertanian agar tidak sempat berkembang biak.

Secara Kimiawi

Pengendalian secara kimiawi dilakukan dengan insektisida apabila hasil pengamatan telah mencapai atau sekurangnya 1 kelompok telur/10 rumpun contoh atau 5 % daun terserang/rumpun contoh pada musim kemarau. Selain itu, jika 3 kelompok telur/10 rumpun contoh atau 10 % daun terserang/rumpun contoh pada musim penghujan. Pengendalian secara kimiawi harus dilakukan secara tepat.

Insektisida yang bisa digunakan seperti profenofos, betasiflutrin, klorfluazuron, lufenuron, spinosad, dan insektisida efektif sejenis. Penyemprotan insektisida dianjurkan menggunakan flat-nozzle karena butiran semprotan lebih halus dibandingkan dengan spuyer holocone empat lubang dan dapat menghemat penggunaan insektisida. Penyemprotan insektisida dianjurkan pada sore hari karena hama ini aktif pada malam hari.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan aplikasi insektisida chlorfenapyr 1 l/ha + flufenoxuron 1 l/ha lebih efektif dalam menekan intensitas kerusakan tanaman oleh larva ulat dan menunjukkan produksi bawang merah tertinggi. Sedangkan perlakuan insektisida dengan bahan aktif flufenoxuron 0,5 l/ha + chlorfenapyr 1 l/ha mengakibatkan fitotoksik tertinggi pada tanaman bawang merah.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published.