Indonesia sebagai Produsen dan Eksportir Karet Belum Maksimal

Pohon karet / Jantanpb

Karet merupakan salah satu komoditas yang terkenal di Indonesia. Karet berasal dari pohon karet yang akan menghasilkan getah dimana bisa dimanfaatkan untuk bahan industri berbagai produk dan menjadi salah satu komoditas ekspor andalan. Sebenarnya terdapat dua tipe karet, yaitu karet alam dan karet sintesis. Karet alam dibuat dari getah pohon karet, sementara sintetis dibuat dari minyak mentah. Kedua tipe ini dapat saling menggantikan dan karenanya mempengaruhi permintaan masing-masing komoditas dan ketika harga minyak mentah naik, permintaan karet alam akan meningkat. Indonesia sendiri adalah salah satu produsen dan eksportir karet alam terbesar.

Sebagai salah satu produsen karet terbesar di dunia tentu jumlah suplai karet Indonesia sangat penting dan berpengaruh untuk pasar global. Karet Indonesia lebih besar di produksi oleh petani-petani kecil dibanding perkebunan pemerintah dan swasta. Daerah penghasil karet utama adalah Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat. Indonesia dikenal mempunyai produksi karet terbesar setelah Thailand, kemudi disusul oleh Malaysia, Vietnam, dan India.

Pohon karet tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. Pohon karet membutuhkan suhu tinggi yang konstan berkisar dari 260C sampai dengan 320C dan lingkungan yang lembab untuk dapat berproduksi maksimal dan kondisi ini berada di kawasan Asia Tenggara. Sehingga sekitar 70% dari produksi karet dunia berasal dari Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Pohon karet ini membutuhkan waktu minimal mencapai 6 tahun untuk mencapai usia produktifnya. Setelah itu pohon karet mampu menghasilkan getah yang dijadikan karet selama 15 sampai 20 tahun. Oleh karena itu untuk komoditas karet dari pohon ini tidak bisa dilakukan suplai jangka pendek karena memiliki siklus yang panjang.

Dengan potensi yang dimiliki seharusnya Indonesia mampu memberikan hasil yang lebih banyak. Seperti dapat dilihat juga jika harga karet internasional telah melemah beberapa tahun ke belakang. Pemerintah Indonesia dipandang perlu melakukan riset and development di bidang industri perkaretan karena hingga kini kemampuan R&D karet Indonesia masih sangat lemah bahkan tertinggal dari negara ASEAN lainnya yang sama-sama sebagai produsen karet dunia. R&D sangat penting dalam menunjang kemajuan industri karet di tingkat nasional maupun internasional karena jika dilihat Indonesia masih sangat kurang dalam industri karet sehingga perlu mengimpor produk karet olahan. Oleh karena itu dengan kuatnya R&D, industri olahan bahan baku karet akan semakin bervariasi dan tidak terlalu sulit lagi untuk melakukan diversifikasi karet.

Rendahnya Industri hilir karet membuat Indonesia tergantung dari harga ekspor karet internasional. Namun mulai tahun 2017 ini harga karet diprediksi akan mengalami kenaikan namun tidak signifikan. Hal ini dikarenakan seiring dengan tren kenaikan minyak dunia. Kenaikan harga ini akan berimbas pada perekonomian masyarakat, terutama yang bergantung dengan hasil perkebunan karet. Awal Februari harga karet sudah mencapai USD2,29 per kg. Namun untuk harga karet ekspor masih di angka USD2 per kg karena ketatnya produksi karet di tengah permintaan karet yang stabil.

Jika melihat dari potensi dan keadaan pasar dunia tentang karet sebenarnya Indonesia memeliki peluang yang besar untuk memanfaatkannya. Pemerintah harus terus mendorong hilirisasi karet dalam negeri sehingga karet Indonesia tidak lagi ditentukan oleh pasar global. Jutaan petani pohon karet juga akan lebih tenang untuk memasarkan hasil karetnya. Indonesia memang dinilai sangat kurang dalam fasilitas pengolahan domestik dan kurangnya industri manufaktur yang  berkembang baik.