Inovasi Pemanfaatan Lahan Kering untuk Mendukung Ketersediaan Pangan

Sistem LARGO SUPER di lahan kering / BB Padi Litbang

Banyaknya lahan sawah irigasi subur yang beralih fungsi untuk kepentingan non pertanian karena jumlah penduduk yang terus bertambah, maka potensi lahan kering harus secepatnya dikembangkan untuk budidaya tanaman pangan khususnya untuk mendorong pencapaian program upaya khusus pengembangan padi, jagung, dan kedelai guna memenuhi kebutuhan pangan dimasa depan. Di Indonesia sendiri terdapat lahan kering yang luasnya mencapai 4 juta hektar dan harus dimanfaatkan.

[Baca juga: Rahasia Meningkatkan Produksi dengan Optimalisasi Lahan]

Permasalahan lahan kering biasanya adalah terletak pada kurangnya kesuburan tanah, kemasaman tanah, topografi, dan ketersediaan air. Selama ini, andalan produksi padi nasional terfokus pada lahan sawah irigasi terutama di Pulau Jawa dan sawah tadah hujan, sedangkan sumbangan sawah lahan kering yang tersebar di berbagai pulau di Indonesia yang biasa ditanami dengan padi gogo masih sangat terbatas. Berikut adalah beberapa inovasi yang telah diterapkan untuk pemanfaatan lahan kering.

Irigasi Mikro

Pemanfaatan lahan kering bisa dilakukan dengan teknologi irigasi. Musim tanam untuk tanaman semusim pada sebagian besar wilayah Indonesia tidak terbatas hanya pada musim hujan saja, tetapi bisa diperpanjang sampai pada pertengahan musim kemarau. Hal ini dimungkinkan karena sekitar 83 % wilayah Indonesia mempunyai curah hujan tahunan lebih dari 2.000 mm. Jika teknologi panen hujan dan hemat air serta irigasi suplemen secara teknis dan sosial ekonomis dapat diterapkan, maka masalah kekurangan air, sebagai akibat perubahan iklim, akan dapat diatasi.

Irigasi mikro adalah salah satu inovasi yang bisa dilakukan. Teknologi ini adalah suatu istilah bagi sistem irigasi yang mengaplikasikan air hanya di sekitar zona penakaran tanaman. Irigasi mikro ini meliputi irigasi tetes (drip irrigation), microspray, dan mini-sprinkler. BBP Mekanisasi Pertanian telah melakukan pengembangan sistem irigasi mikro. Pengembangan sistem irigasi tetes atau drip diterapkan untuk budidaya cabai dan jagung manis. Sistem irigasi sprinkler diterapkan pada tanaman kacang tanah.

Hasil uji penggunaan irigasi mikro dapat dikatakan dalam katagori baik. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat keseragaman hasil antara lain adalah kondisi filter air, kondisi lubang emitter yang tersumbat oleh tanah, perubahan koefisien gesek pada pipa lateral karena tumbuhnya lumut. Irigasi ini dapat dinilai sebagai sistem irigasi yang efektif pada lahan kering atau musim kemarau.

Biosilika

Inovasi selanjutnya yang bisa diterapkan di lahan kering adalah pemanfaatan biosilika. Biosilika merupakan pemanfaatan dari sekam padi untuk bahan bakar dan energi panas dari pembakaran tersebut digunakan untuk mengeringkan gabah, dan abu sekam hasil pembakaran digunakan sebagai bahan produksinya. Biosilika sangat dibutuhkan untuk jenis tanaman Graminiae seperti padi, walaupun silika hanya unsur mikro bagi tanaman. Padi yang diberi silika akan lebih kuat, tidak mudah rebah, serta lebih tahan terhadap serangan hama  penyakit dan dampak kekeringan. Ke depan, biosilika menjadi salah satu unsur hara yang sangat perlu diberikan ke tanaman agar potensi produktivitas padi dapat tercapai.

LARGO SUPER

Inovasi pertanaman LARGO SUPER (Larikan Gogo Super) juga menjadi inovasi pada pemanfaatan lahan kering. Penanaman padi dengan sistem ini menerapkan sistem tanam larikan jajar legowo 2:1 dan telah berhasil meningkatkan produktivitas padi di lahan kering secara nyata. Pertanaman LARGO SUPER yang bahwasannya provitas padi gogo ini dapat mencapai produksi 7,9 ton/ha dengan varietas Inpago 8 5.00 t/ha, Inpago 9 6.14 t/ha, Inpago 10 7.93 t/ha, dan Inpago 11 7.10 t/ha. Capaian ini meningkat hampir 3 ton dibandingkan rata-rata di tingkat petani yang hasilnya sekitar 4 ton/ha.

Teknologi LARGO SUPER ini dapat terus dikembangkan di seluruh lahan kering di Indonesia yang potensinya masih sangat besar. Sehingga pertanian padi di lahan kering  yang tangguh berbasis inovasi teknologi dapat terwujud dan menjadi harapan kita semua untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045.