Ironi: Indonesia Kaya Lautan tapi Miskin Garam

Ilustrasi garam / Flickr

Indonesia merupakan negara memiliki luas lautan yang mencapai 70% dari total luas wilayahnya. Itu berarti luas laut Indonesia lebih besar dibanding luas daratannya. Dengan demikian laut sudah seharusnya menjadi sumber daya yang melimpah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat Indonesia, termasuk kebutuhan akan garam.

Pada kenyataannya Indonesia belum mampu mencukupi kebutuhan garamnya sendiri dan masih melakukan impor garam. Sebagai negara yang memiliki panjang pantai nomor dua di dunia, bukankah sudah seharusnya kebutuhan garam nasional dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri? Hal tersebut tentu menjadi sebuah ironi bagi bangsa ini. Bagaimana negara dengan lautan yang begitu luas tidak mampu mencukupi kebutuhan garamnya sendiri, tetapi justru mengimpor garam dari negara yang lautnya tidak sebegitu besar.

[Baca juga: Mengenal Ikan Segar Bermutu Bagus]

Sempat mencapai puncak produksi selama 4 tahun (2012-2015) dan berada di titik puncak pada tahun 2015 dengan produksi garam rakyat yang mencapai 2,9 juta ton, produksi garam rakyat tergelincir ke titik terendah pada tahun 2016 hingga 2017. Beberapa waktu yang lalu (7/17) sempat heboh mengenai langkanya garam dan meroketnya harga garam. Harga garam melonjak hingga lebih dari 100% di beberapa daerah di Indonesia.

Kelangkaan garam disinyalir karena kurangnya stok garam nasional akibat terjadinya cuaca yang kurang baik pada tahun 2016. Anomali cuaca mengakibatkan penambak garam gagal panen selama 2016 dan saat ini di penambak garam di beberapa daerah sentra penghasil garam belum mulai panen. Di sisi lain, pemerintah dianggap kurang mengantisipasi berbagai kemungkinan karena bagaimanapun kondisi alam tidak dapat dijadikan kambing hitam.  Akibat kelangkaan garam yang terjadi, pemerintah kembali membuka keran impor garam konsumsi yang mencapai 75.000 ton.

Saat ini produksi garam rakyat oleh penambak lokal mulai digarap meskipun kemarin sempat mengalami gangguan produksi. Oleh karena itu pemerintah sebaiknya melakukan pengkajian ulang tentang kebijakan impor garam agar kedatangan bantuan garam impor tidak bersamaan dengan panen garam rakyat. Apabila hal itu terjadi, maka penambak garam rakyat akan semakin dirugikan karena garam rakyat akan bersaing dengan garam impor dan dihargai lebih murah dari garam impor.

Dilansir dari beritajatim.com, harga garam rakyat di Sumenep pada awal Agustus berkisar Rp 3.500, kemudian merosot pada pertengahan Agustus menjadi Rp 2.000 per kg. Kini harga garam tersebut kembali anjlok ke harga Rp 1.200 hingga Rp 1.700 per kg. Harga tersebut memang masih lebih tinggi bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya berkisar Rp 400 hingga Rp 600 per kg. Namun masuknya garam impor ke Indonesia dinilai membuat semakin anjloknya harga garam rakyat di tingkat petani garam.

Di beberapa daerah lainnya harga garam konsumsi yang sempat turun setelah izin impor dikeluarkan, kini kembali meningkat. Hal tersebut dikarenakan distribusi garam yang belum sepenuhnya lancar sehingga harga garam cenderung fluktuatif. Harga garam sewaktu-waktu dapat naik ketika pasokan berkurang karena distribusi dari pabrikan tidak lancar. Oleh karena itu tata niaga garam di Indonesia rasanya perlu dibenahi agar harga garam dapat kembali stabil dan tidak merugikan penambak garam rakyat.

Keterpurukan produksi garam rakyat sepanjang 2016 hingga 2017 akibat cuaca buruk yang menjatuhkan produksi garam rakyat hingga titik terendah sudah seharusnya dapat menjadi pelajaran berharga. Pelajaran berharga tentang bagaimana mengatur dan mengelola stok garam rakyat yang ada dan tetap menggenjot produksi garam rakyat agar tetap berjalan baik dalam kondisi cuaca apapun.