Jenis-Jenis Penyakit Penting pada Cabai dan Cara Pengendaliannya

Cabai termasuk dalam tanaman yang paling banyak dibudidayakan oleh petani. Penyakit yang bisa menyerang tanaman cabai, terutama cabai merah memiliki jenis yang beragam. Penanganan penyakit pada tanaman cabai harus sangat diperhatikan, mulai dari pencegahan sampai dengan pengendaliannya. Penyakit yang menyerang ini dapat mengakibatkan tanaman rusak atau bahkan gagal panen. Berikut beberapa jenis penyakit penting yang menyerang cabai dan bagaimana cara pengendaliannya.

Layu Fusarium (Fusarium oxysporum f.sp)

Penyakit ini memiliki gejala daun yang terserang mengalami kelayuan dan menguning mulai dari bagian bawah tanaman kemudian menjalar ke atas menuju ranting muda. Tempat luka infeksi akan tertutup hifa putih seperti kapas serta warna jaringan akar dan batang tanaman menjadi cokelat. Dampak dari serangannya adalah cabai yang masih kecil akan rontok apabila serangan sudah sampai pada batang.

Pengendalian yang dapat dilakukan:

  1. Mencabut dan memusnahkan tanaman terserang.
  2. Dapat memanfaatkan agen antagonisnya, yaitu Trichoderma sp. Dan Gliocladium spp. Yang dapat diaplikasikan saat pemupukan dasar.
  3. Alternatif terakhir adalah menggunakan fungisida, namun dalam dosis yang diperlukan saja.

Layu Bakteri Ralstonia (Ralstonia solanacearum)

Gejala terserangnya penyakit ini ditunjukkan jika pada tanaman tua, layu pertama biasanya terjadi pada daun yang terletak pada bagian bawah tanaman. Pada tanaman muda, gejala layu mulai tampak pada daun bagian atas tanaman.

[Baca juga: Kendalikan Layu Bakteri Cabai dengan Bacillus Subtilis]

Setelah beberapa hari tanaman akan mengalami layu tiba-tiba dan seluruh daun tanaman menjadi layu permanen, sedangkan warna daun akan tetap hijau dan kadang-kadang sedikit kekuningan. Bila batang atau akar tanaman dipotong melintang dan dicelupkan dalam air jernih, maka akan keluar cairan keruh yang merupakan koloni bakteri yang menyerupai kepulan asap. Penyakit ini berkembang cepat saat musim hujan.

Pengendalian yang dapat dilakukan:

  1. Mencabut dan memusnahkan tanaman terserang.
  2. Penggunaan bibit sehat dan melakukan pergiliran tanaman.
  3. Dapat memanfaatkan agen antagonisnya, yaitu Trichoderma sp. Dan Gliocladium spp. Yang dapat diaplikasikan saat pemupukan dasar.
  4. Bisa dengan memanfaatkan Bacillus subtilis sebagai penawarnya.
  5. Alternatif terakhir adalah menggunakan fungisida, namun dalam dosis yang diperlukan saja.

Busuk Buah Antraknosa (Collectrotichum gloeospoiroides)

Gejala penyakit ini adalah ditandai dengan munculnya bercak agak mengkilap, sedikit terbenam dan berair, bisa berwarna hitam, oranye (apabila lingkungan lembab), dan cokelat pada buah cabai yang terserang. Luka akan semakin melebar dan membentuk lingkaran. Dalam waktu yang tidak lama buah akan menjadi cokelat kehitaman dan membusuk. Penyakit ini menyerang pada buah cabai yang masih muda maupun sudah tua. Penyakit ini dapat menular melalui satu patogen yang terbawa benih dan menyebar melalui percikan air. Penyakit akan berkembang pesat pada suhu rendah dan musim hujan.

Pengendalian yang dapat dilakukan:

  1. Mencabut dan memusnahkan tanaman atau buah terserang.
  2. Seleksi benih atau menggunakan benih yang tahan terhadap penyakit ini.
  3. Kultur teknis dengan pergiliran tanaman.
  4. Alternatif terakhir adalah dengan fungisida, namun dengan dosis yang sesuai dan hindari penggunaan alat semprot.

Kuning (Gemini virus)

Gejala penyakit kuning ini terlihat pada helai daun yang mengalami veiin clearing, dimulai dari daun pucuk berkembang menjadi warna kuning jelas, tulang daun menebal dan daun menggulung ke atas. Serangan yang sudah lanjut akan mengakibatkan daun mengecil dan berwarna kuning terang, tanaman kerdil dan tidak berbuah. Tanaman ini disebabkan oleh virus Gemini yang juga dapat menyerang tanaman tobat dan buncis.

Pengendalian yang dapat dilakukan:

  1. Dengan memanfaatkan predator alami, seperti Menochilus sexmaculus atau jamur patogen serangga seperti Beauveria bassiana atau Verticillium lecani.
  2. Dengan varietas tahan, seperti hotchilli.
  3. Dengan sanitasi lingkungan yang Sia dijadikan inang, seperti ciplukan, terong, dan gulma bunga kancing.
  4. Dengan pemupukan tambahan agar tanaman tetap mampu berproduksi.

Bercak Daun (Cercospora sp.)

Penyakit bercak daun dapat menimbulkan kerusakan pada daun, batang, dan akar. Gejala yang dapat terlihat mulai dari munculnya bercak bulat berwarna cokelat pada daun dan kering. Bercak yang tua dapat menyebabkan daun berlubang-lubang, sehingga daun akan layu dan rontok.  Penyakit ini cenderung menyerang tanaman yang sudah tua, tetapi tidak menutup kemungkinan tanaman muda juga terserang. Pada kondisi parah tanaman akan kehilangan semua daunnya dan akan mempengaruhi kemampuan cabai dalam menghasilkan buah. Penyakit ini dapat berkembang pesat saat musim hujan.

Pengendalian yang dapat dilakukan:

  1. Mencabut dan memusnahkan tanaman terserang.
  2. Menanam bibit bebas patogen pada lahan yang tidak kontaminan.
  3. Perbaikan drainase untuk mengurangi perkembangbiakan penyakit.
  4. Waktu penanaman yang tepat, yaitu saat musim kemarau dengan irigasi yang baik.
  5. Pergiliran tanaman dengan tanaman non solanaceae.
  6. Alternatif terakhir dengan fungisida, namun dengan dosis dan cara yang tepat.

 

Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.

Leave a Reply

Your email address will not be published.