Jenis-Jenis Tanah untuk Pertanian

Tanah dan tanaman / Pixabay

Tanah merupakan bagian dari kerak bumi yang tersusun dari bahan organik dan mineral. Tanah tidak tercipta dengan sendirinya, melainkan dari proses pelapukan batuan maupun sisa tumbuhan dalam jangka waktu yang sangat lama. Banyak faktor dalam pembentukan tanah, seperti bahan induk, iklim, organisme yang berperan dan juga waktu. Faktor-faktor tersebut yang akan membuat sifat masing-masing jenis tanah berbeda.

Tanah memiliki peran penting untuk keberlangsungan makhluk hidup di bumi. Dari sektor pertanian dapat dikatakan tanah merupakan kebutuhan utama bagi tanaman, walau sudah ada pengembangan sistem penanaman tanpa penggunaan tanah. Namun tanah ini mampu menyediakan bahan makan dan mineral guna pertumbuhan tanaman tersebut.

Tanah mampu menyediakan kebutuhan hara bagi tanaman, tetapi tidak semua cocok untuk pertumbuhannya. Dari setiap jenis tanah memiliki karakteristik dan kegunaan tersendiri yang bisa dimanfaatkan oleh tanaman.

Tanah Regosol

Tanah regosol terbentuk dari material yang dikeluarkan letusan gunung berapi yang belum mengalami perkembangan sempurna. Tanah jenis ini bertekstur kasar dan berbahan organik rendah. Sifat demikian membuat tanah tidak dapat menampung air dan mineral yang dibutuhkan tanaman dengan baik. Tanah regosol lebih cocok untuk tanaman palawija dan tanaman yang tidak membutuhkan banyak air. Tanah ini tersebar di Jawa, Sumatera dan Nusa Tenggara.

Tanah Litosol

Tanah litosol hampir mirip dengan tang regosol karena sama-sama terbentuk dari aktivitas gunung Merapi. Tanah ini memiliki kedalaman yang dangkal dan peka terhadap erosi. Kandungan bahan organik tanah ini masih rendah. Tanah litosol cocok untuk tanaman seperti palawija dan tanaman keras. Tanah ini tersebar di Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara, Maluku Selatan dan Papuan.

Tanah Latosol

Tanah latosol terbentuk dari pelapukan batuan sedimen dan metamorf. Tanah ini sebagian besar terbentuk dan berkembang di daerah yang lembab. Kandungan bahan organik tanah ini bisa berubah-ubah dari sedang sampai tinggi. Tanah latosol mampu menyerap air dengan baik sehingga bisa menahan erosi. Tanah latosol lebih cocok untuk tanaman seperti tebu, cokelat, kopi dan karet. Tanah ini tersebar di Jawa, Sumatera, Bali dan Sulawesi.

Tanah Organosol

Tanah organosol terbentuk dari pelapukan bahan organik. Tanah ini biasa ditemui di daerah rawa atau daerah yang bayak tergenang air. Tanah organosol ini terbagi menjadi dua macam, yaitu tanah humus dan tanah gambut.

Tanah humus adalah tanah hasil pelapukan bahan organik, khususnya dari tanaman yang sudah mati. Humus sangat subur untuk pertanian karena memiliki kandungan bahan organik tinggi sehingga warna tanah ini menjadi hitam. Humus cocok untuk tanaman seperti kelapa, nanas dan padi. Tanah gambut  adalah tanah hasil pembusukan bahan organik. Gambut tidak sesubur humus. Pembusukan bahan organik pada tanah gambut berlangsung dalam keadaan tergenang sehingga tanah menjadi anaerob dan terlalu masam. Gambut cocok untuk tanaman seperti kelapa sawit.

Tanah Grumusol

Tanah grumusal terbentuk di ketinggian tidak lebih dari 300 m di atas permukaa laut dengan topografi yang berbukit. Tanah ini sangat lekat ketika basah dan menjadi pecah-pecah ketika kering. Tanah ini mampu menyerap air yang tinggi dan juga mampu menyimpan hara yang dibutuhkan tanaman. Tanah grumusol cocok untuk tanaman seperti rumput-rumputan dan jati. Tanah ini banyak ditemui di Jawa, Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Timur.

Tanah Alluvial

Tanah alluvial terbentuk dari material halus yang diendapkan di aliran sungai. Tanah termasuk jenis tanah muda karena belum mengalami perkembangan. Tanah ini memiliki ciri-ciri berwarna kelabu dengan struktur sedikit lepas-lepas. Kesuburan tanah alluvial tergantung pada sumber bahan asal aliran sungai, namun biasanya memiliki kandungan hara yang tinggi. Tanah alluvial cocok untuk tanaman seperti padi, tebu, kelapa dan buah-buahan. Tanah ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki sungai-sungai besar seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Papua.