Kedelai Impor, Kedelai Andalan Indonesia

Tanaman kedelai / Pixabay

Kedelai merupakan salah satu komoditas penting pertanian Indonesia. Kedelai menjadi komoditas strategis setelah padi dan jagung. Kedelai merupakan tanaman polong-polongan sebagai sumber protein dan minyak nabati utama dunia. Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya mengonsumsi tahu dan tempe menjadikan permintaan kedelai  terus meningkat. Permintaan yang akhirnya terlalu tinggi menjadikan kedelai lokal tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan, sehingga impor menjadi solusi.

[Baca juga: Dinamika Impor Beras Indonesia 2018]

Kedelai di Indonesia dapat dikatakan akan terus meningkat permintaannya. Peningkatan ini akan terjadi seiring bertambahnya jumlah penduduk, peningkatan pendapatan per kapita, dan kesadaran masyarakat akan kebutuhan gizi. Permintaan kedelai Indonesia setiap tahunnya rata-rata bisa mencapai 2,3 juta ton, sedangkan produksinya baru mencapai 870 ribu ton atau sekitar 37,85% dari permintaan. Hal tersebut menjadikan Indonesia masih tergantung dengan kedelai impor untuk mencukupi kekurangannya.

Kedelai impor juga menjadi andalan pelaku usaha tahu dan tempe Indonesia. Hal ini dikarenakan kedelai impor memiliki harga yang lebih rendah dan persediaan yang stabil. Harga kedelai impor berkisar Rp. 6.600 sedangkan harga kedelai lokal mencapai Rp. 6.650 per kilogramnya. Tingginya harga kedelai lokal dikarenakan produksi yang belum bisa stabil. Petani juga lebih banyak memilih membudidayakan tanaman lain dibanding kedelai karena nilai harga produksinya sering lebih tinggi dibanding harga jualnya di pasar.

Tidak terpenuhinya produksi kedelai lokal membuat konsumsi dan impor menjadi hal yang tidak terpisahkan. Apabila konsumsi masyarakat semain meningkat akan menyebabkan meningkatnya juga nilai impor. Hal ini sangat perlu diperhatikan bagi para pembuat kebijakan ekonomi Indonesia. Impor harus lebih ditata dan bisa meningkatkan nilai produksi kedelai lokal sehingga ketergantungan ini tidak berlanjut terus menerus.

Pengendalian impor kedelai memang harus dengan kerja sama semua pihak yang terkait, mulai petani sampai dengan pemerintah pusat. Dari hasil penelitian, ketergantungan ini dapat dikendalikan dengan peningkatan produktivitas melalui peningkatan kualitas dan kuantitas perbenihan yang kuat, mekanisasi, dan penyuluhan yang tepat. Selain itu, perluasan areal juga harus dilakukan dengan pembukaan lahan dan pemanfaatan lahan yang ada. Penyempurnaan manajemen juga dilakukan dimulai dari tingkat petani atau stakeholder, yang dikhususkan pada kebijakan harga kedelai nasional, hingga penetapan tarif impor untuk membatasi volume kedelai impor.

Pemerintah sebenarnya sudah terus berusaha untuk mengendalikan impor kedelai. Banyak langkah yang sudah dilakukan untuk meningkatkan produksi kedelai nasional dan roadmap pertaniannya untuk bisa swasembada kedelai pada 2020. Salah satu contohnya adalah dengan menyediakan benih bersubsidi bagi para petani dan penambahan luas tanam. Di wilayah Majalengka pemerintah bekerja sama dengan Perum Perhutani untuk memanfaatkan kawasan hutan yang tanahnya dianggap cukup subur untuk ditanami kedelai oleh para petani. Usaha-usaha seperti ini diharapkan mampu meningkatkan produksi kedelai nasional secara signifikan dan mampu sedikit demi sedikit mengurangi impor.