Kendala TBM Kopi dan Upaya Mengatasinya

Pada tanaman tahunan, khususnya kopi terdapat beberapa tahap persiapan di antaranya adalah Tanaman Tahun Akan Datang (TTAD), Tanaman Tahun Ini (TTI), Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), dan Tanaman Menghasilkan (TM).

Saat TTAD, tahap yang dilakukan adalah pembukaan lahan, pemetaan lahan, pembuatan tata tanam, pembuatan jalan rintisan, pendongkelan pohon sisa, pembuatan petak-petak kebun, penanaman naungan sementara dan naungan tetap. Setelah TTAD dilakukan TTI di lahan perkebunan. Bibit prima yang berumur 12 bulan diambil dari kebun pembibitan untuk ditanam di lahan.

[Baca juga: Mengenal Tanaman Kopi dan Penggunaan “Bokashi” sebagai Pupuk Organik]

Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) kopi dibagi menjadi tiga tahapan yaitu TBM 1, TBM 2 dan TBM 3. TBM 1 merupakan masa awal penyesuaian dengan lahan yang pertumbuhannya masih rentan sehingga perlu pemeliharaan yang intensif.

Beberapa Kendala TBM 1

  • Naungan sementara dan tetap yang tidak tumbuh optimal

Tanaman naungan tetap (lamtoro) akan terlihat meranggas dan tanaman naungan sementara (Theprosia candida) belum menumbuhkan cabang plagiotrof sehingga tidak mampu memberi fungsi naungan kepada tanaman kopi. Selain itu naungan terlihat tidak rapat. Seharusnya naungan tetap dan naungan sementara tumbuh rimbun agar dapat menghalangi sinar matahari langsung ke kopi karena kopi menghendaki intensitas cahaya rendah. Cahaya berlebih dapat mengganggu keseimbangan air tanaman terutama di masa awal pertumbuhannya.

Upaya yang bisa diaplikasikan adalah penanaman naungan sementara seperti Theprosia candida atau Moghania macrophylla di sela tanaman kopi agar naungan rapat. Tanaman sementara akan mati alami setelah berumur dua tahun. Sisa tanamannya dapat menjadi pupuk hijau. Naungan sementara ditanam pada saat TTAD sehingga ketika TTI penaung sudah siap (rimbun).

  • Tanaman terserang uret

Gejala tanaman terserang uret ialah tanaman kerdil, daun layu dan menguning dari cabang paling bawah, batang tidak kuat, bagian pangkal batang, dan perakaran terdapat bekas digerek. Pengendalian uret secara manual dengan mengumpulkan larva uret bersamaan pada saat pengolahan lahan, dapat juga secara kimiawi dengan menggemburkan tanah sekitar perakaran kemudian diberi insektisida.

  • Penggunaan mulsa organik yang belum tepat

Penggunaan mulsa organik dari hasil penyiangan (gulma dan seresah) memerlukan teknis yang tepat. Mulsa organik ini berfungsi sebagai penutup tanah, mengurangi penguapan kerena tanah tidak terpapar sinar matahari secara langsung, sebagai pembenah tanah. Sebaiknya mulsa organik diaplikasikan saat musim kemarau agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit.

Hindari menggunakan daun basah sebagai mulsa organik karena daun tersebut masih aktif sehingga membuat tanah panas. Gunakanlah daun kering. Di samping dapat menekan gulma di sekitar tanaman, mulsa daun kering terutama yang telah hancur dapat menumbuhkan perakaran baru dari bagian batang bawah karena kemampuan akar untuk menyerap unsur hara meningkat.

  • Chemical weeding yang menghambat pertumbuhan bibit.

Chemical weeding untuk mengendalikan gulma di sekitar TBM tentunya memberikan dampak negatif karena dapat mempengaruhi dan merusak akar daun kopi. Sebaiknya pada TBM 1 dan 2 penyiangan dilakukan secara manual karena tanaman belum tumbuh tinggi sehingga rentan terpapar zat kimia yang disemprotkan nozzle dengan ketinggian sekitar 20-30 cm. TBM yang rusak sebaiknya dilakukan penyulaman segera setelah diketahui kerusakan agar populasi dalam suatu luasan terpenuhi.

Itulah berbagai ulasan untuk mencegah maupun menanggulangi kendala pada TMB kopi di perkebunan. Kendala yang ditemukan antara lain naungan yang tidak rimbun, serangan uret, penggunaan mulsa organik yang belum tepat, serta penggunaan zat kimia saat penyiangan yang mempengaruhi pertumbuhan TBM kopi.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Ayu Ainullah Muryasani

Agronomi Universitas Gadjah Mada. Untuk sharing dan diskusi: ayumuryasani@gmail.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published.