Kendalikan Layu Bakteri pada Cabai dengan Bacillus Subtilis

Cabai / Pixabay

Layu Bakteri merupakan penyakit pada tanaman cabai yang cukup serius menyerang areal pertanaman dan menyebabkan tanaman cabai layu dan mati. Penyebab penyakit ini ialah bakteri Pseudomonas solanacearum. Bakteri ini menyerang bagian perakaran tanaman cabai.

Gejala penyakit layu bakteri pada tanaman cabai antara lain bagian pucuk tanaman, daun tua, dan tunas akan layu, kemudian menyebar ke bagian lain dan akhirnya mati. Penyebarannya melalui air, tanah, maupun benih hasil pertanaman sebelumnya yang sudah terserang penyakit layu bakteri.

[Baca juga: Cara Meningkatkan Hasil Panen Tanaman Cabai]

Melalui Program Upaya Khusus (UPSUS) yang salah satunya dilaksanakan di Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang selama tiga bulan, alumni Fakultas Pertanian Universitas Gajdah Mada, Ratnasani Ambarwati Siniwi menceritakan tentang pengalamannya mengikuti program tersebut.

“UPSUS ini merupakan program pendampingan mahasiswa maupun alumni ke kelompok tani dan membantu kinerja penyuluh pertanian di tingkat kecamatan” ujar wanita yang akrab disapa Sani.

“Pada kegiatan UPSUS ini kami mengembangkan teknologi Bacillus subtilis untuk pengendalian layu bakteri pada tanaman cabai dengan sasaran Kelompok Wanita Tani (KWT) setempat” lanjutnya.

Pengendalian penyakit dengan Bacillus subtilis merupakan salah satu cara pengendalian hayati yang dimana menggunakan musuh alami hama atau penyebab penyakit tanaman cabai.

Percobaan ini menggunakan pekarangan rumah warga. Sebelumnya pindah tanam ke pekarangan, dilakukan pembibitan tanaman cabai rawit sebanyak 250 polybag di lahan kecamatan. Dengan adanya program ini diharapkan warga dapat secara mandiri mengenal dan mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman khususnya cabai.

Bagaimana cara mengendalikan penyakit layu bakteri tanaman cabai?

Pertama, siapkan isolat bakteri Bacillus subtilis. Isolat ini bisa didapatkan di toko pertanian atau melalui Balai Penelitian Pertanian terdekat.

“Secara alami bakteri ini bisa didapatkan di wilayah yang masih asri. Bakteri ini dapat ditemukan di sekitar perakaran bambu. Bagian serabut akar terluar dan tanah sekitar perakaran diambil untuk isolat bakteri” terang Sani.

Kedua, siapkan wadah air seperti drum atau jerigen kapasitas 30 liter, air kelapa yang dapat disubstitusi dengan air leri, air rebusan taoge ataupun air rebusan ketela sebanyak 20 liter, santan sebanyak satu buah, dan satu kaleng susu kental manis putih.

Siapkan juga aerator dengan selang benih ukuran kecil fungsinya agar bakteri dapat terfermentasi sempurna karena bakteri Bacillus subtilis  tergolong aerob sehingga membutuhkan udara. Selain menggunakan aerator untuk menyediakan udara, cara lain ialah mengganti tutup plastik jerigen dengan koran atau kertas agar sirkulasi udara tetap terjadi.

Ketiga, campurkan berbagai bahan tersebut, kocok hingga homogen selama beberapa saat. Setelah itu larutan didiamkan selama kurang lebih tujuh hari.
Indikator fermentasi Bacillus subtilis yang siap digunakan ialah larutan tidak mengeluarkan aroma yang tidak sedap, melainkan seperti aroma tape. Bentuk fisik jerigen berubah menjadi agak menggembung.

Bagaimana aplikasi Bacillus subtilis pada tanaman cabai?

Larutan yang sudah jadi langsung dapat diaplikasikan. Caranya dengan melarutkan 1 liter Bacillus subtilis dengan 10 liter air. Kemudian larutan disiram atau disemprotkan pada tanaman cabai, namun yang lebih efektif dengan menyiram pada daerah perakaran tanaman cabai dengan dosis 250 cc tiap tanaman atau sekitar satu gelas kecil. Penyiraman dapat dilakukan sebanyak satu kali dalam satu minggu.

Bacillus subtilis dalam larutan dapat dipanen berulang kali. Larutan Bacillus subtilis sebanyak 20 liter tadi, dipanen atau digunakan sebanyak 10 liter dengan menyisakan 10 liter. Sisa 10 liter dalam jerigen ditambahkan air kelapa lagi dan gula jawa kurang lebih 500 gram untuk makanan bakteri. Begitu seterusnya. Sehingga larutan tetap tersedia jika sewaktu-waktu dibutuhkan.