Keniscayaan Kelembagaan Pertanian Koperasi di Indonesia

Diskusi lahan / National Geographic

Skala usaha yang sangat kecil masih menjadi ciri petani di Indonesia. Skala yang sangat kecil atau biasa yang disebut usaha mikro sangat lemah dalam berkompetisi di pasar. Menilik data BPS dan Kementrian KUKM 2012 terdahulu, usaha mikro pada tahun 2011 mencapai angka 54.559. 969 unit. Sangat berbeda dengan usaha dengan level lebih tinggi yakni usaha kecil sebesar  602.195 unit, usaha menengah 44.280 unit dan usaha besar 4.952 unit. Tingkat produktivitas usaha mikro pada tahun 2011 Rp 13,95 juta /unit, sedangkan tingkat produktivitas tenaga kerja di usaha mikro pada tahun 2011 Rp 8,02 juta /orang. Permasalahan tersebut menimbulkan kesenjangan produktivitas. Usaha besar berukuran produktivitas 26 kali dari usaha menengah, 469 kali usaha kecil dan 14.586 kali usaha mikro.

Gap produktivitas antara usaha mikro dan usaha dengan skala yang lebih besar semakin melebar, karena laju pertumbuhan produktivitas per unit usaha mikro pada tahun 2011 (3,3%) lebih rendah dibandingkan dengan laju pertumbuhan produktivitas UMKM secara keseluruhan (4,1%) dan produktivitas usaha besar (5,3%). Kenyataan tersebut perlu diselesaikan dengan akselerasi peningkatan produktivitas usaha mikro. Cara akselerasi tersebut sedang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan membentuk lembaga pertanian terkait. Lembaga pertanian tersebut beraneka wujudnya seperti Koperasi, Gapoktan atau kelompok wanita tani. Peran kelompok pertanian seperti koperasi pertanian sebagai lembaga pertanian di Indonesia di antaranya sebagai bergaining power, market development and penetration, penyesuaian produk, penanganan resiko bersama, pengembangan SDM petani, dan membuka lapangan kerja.

Terlepas dari besarnya skala usaha pertanian yang dimiliki, petani pada umumnya merupakan usaha yang relatif kecil dibandingkan dengan partner dagangnya, sehingga petani pada umumnya memiliki posisi rebut tawar yang lemah. Melalui koperasi petani dapat memperbaiki posisi rebut tawar mereka baik dalam memasarkan hasil produksi maupun dalam pengadaan input produksi yang dibutuhkan. Posisi rebut tawar (bargaining power) ini bahkan dapat berkembang menjadi kekuatan penyeimbang (countervailing power) dari berbagai ketidakadilan pasar yang dihadapi para petani.

Pasar produk pertanian umumnya dikuasai oleh pembeli yang jumlahnya relatif sedikit dibandingkan jumlah petani yang sangat banyak. Besarnya permintaan dari para pembeli produk pertanian ini umumnya baru dapat dipenuhi dari menggabungkan volume produksi banyak petani. Dalam hal mekanisme pasar tidak menjamin terciptanya keadilan, koperasi dapat mengupayakan pembukaan pasar baru bagi produk anggotanya.  Pada sisi lain koperasi dapat memberikan akses kepada anggotanya terhadap berbagai penggunaan faktor produksi dan jasa yang tidak ditawarkan pasar.

Pengaruh aspek biologis produksi pertanian menyebabkan kualitas produksi yang bervariasi.  Hal ini dapat menyulitkan dalam proses pemasaran hasil produksi pertanian.  Di samping itu akan sangat menyulitkan bagi petani yang memasarkan produknya secara individual. Dengan penyatuan sumber daya para petani dalam sebuah koperasi, para petani lebih mudah dalam menangani risiko yang melekat pada produksi pertanian, seperti: pengaruh iklim, heterogenitas kualitas produksi dan sebaran daerah produksi. Dengan bergabung dalam koperasi, para petani dapat lebih mudah melakukan penyesuaian produksinya melalui pengolahan pascapanen sehubungan dengan perubahan permintaan pasar.

Selain itu, karakter sektor pertanian yang secara geografis tersebar menyebabkan hanya sedikit kalangan petani yang berlokasi dekat dengan pasar. Hal ini juga menyebabkan rendahnya kemampuan petani menjangkau berbagai alternatif pembeli. Dengan penyatuan sumber daya para petani dalam sebuah koperasi, para petani lebih mudah dalam menangani risiko yang melekat pada produksi pertanian, seperti: pengaruh iklim, heterogenitas kualitas produksi dan sebaran daerah produksi.

Terlebih lagi, kualitas sumber daya manusia petani umumnya relatif rendah, sehingga relatif sulit untuk meningkatkan usahanya jika dilakukan secara individual. Dalam wadah organisasi koperasi, para petani lebih mudah berinteraksi secara positif terkait dalam proses pembelajaran guna meningkatkan kualitas SDM mereka. Koperasi sendiri memiliki misi khusus dalam pendidikan bagi anggotanya.