Kualitas Tebu sebagai Penghasil Gula Perlu Ditingkatkan

Tebu / Pixabay

Tebu termasuk salah satu komoditas yang menyumbang pengaruh besar ke perekonomian Indonesia. Olahan utama dari tebu ini adalah untuk menghasilkan gula, dimana gula merupakan salah satu komoditas bahan pangan yang strategis. Gula memiliki peran penting untuk memenuhi kebutuhan masyarakat maupun industri makanan dan minuman. Di sisi lain perkebunan tebu memikul nasib jutaan petani maupun tenaga kerja di sektor perkebunan tebu nasional.

Gula sebagai bahan pangan utama terus mengalami peningkatan permintaan. Hal ini karena meningkatnya jumlah penduduk, pendapatan masyarakat, dan semakin berkembangnya usaha industri makanan dan minuman yang menggunakan bahan baku gula. Namun meningkatnya permintaan ini telah menyebabkan pemenuhan produk aula dalam negeri tidak tercukupi. Dari data BPS tahun 2015 menunjukkan produksi gula nasional hanya mencapai 2,497 juta ton yang dihasilkan dari areal perkebunan tebu sebesar 446.060 hektar. Sedangkan angka kebutuhan konsumen gula nasional setiap tahunnya sekitar 5 juta ton. Dapat dilihat jika peningkatan permintaan gula tidak diimbangi dengan produksi gula dalam negeri sehingga harus mengimpor untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Pada tahun 2016 menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan tercatat luas areal perkebunan tebu adalah 445.520 hektar dengan nilai produksi 2,222 juta ton. Nilai ini menunjukkan perlunya upaya untuk meningkatkan produksi gula dalam negeri. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi adalah dengan perluasan areal perkebunan beserta peningkatan produktivitas dan pengembangan pola usahatani yang diakukan oleh para petani tebu. Petani harus mampu meningkatkan rendemen tebu yang tinggi. Selain itu juga perlu dikembangkan peningkatan efisiensi teknologi di bagian pabrik.

Rendemen tebu merupakan perbandingan kadar gula yang ada di dalam tebu dan dinyatakan dengan persen, jika dikatakan rendemen tebu sebesar 10%, artinya dari 100 kg tebu yang digiling atau di olah di pabrik gula akan diperoleh gula sebanyak 10 kg. Kecilnya tingkat rendemen tebu yang dihasilkan di tingkat petani disebabkan ketidakpahaman para petani dalam melakukan budidaya tebu. Rendemen tebu standar minimal untuk gula sebesar 12% namun di tingkat petani rata-rata hanya menghasilkan rendemen sekitar 7,5%. Hal ini karena tanaman kerasan tebu yang seharusnya dipanen maksimal 3-4 kali, oleh petani dijadikan 8-12 kali panen. Bagi petani itu akan menghemat biaya dalam hal pembibitan dan tenaga kerja bongkar maupun tanam.

Rendahnya produksi gula nasional mengakibatkan pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk impor gula mentah tanpa bea masuk agar pabrik-pabrik tebu yang ada tidak gulung tikar. Namun hal ini menyebabkan permasalahan lain, yaitu jatuhnya harga gula dalam negeri dengan gula impor yang harganya murah. Oleh karena itu pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga telah menetapkan kebijakan pembangunan perkebunan agar mengarah pada peningkatan produktivitas gula nasional. kebijakan tersebut antara lain,

  1. Proyeksi gula nasional, yaitu kenaikan produksi gula selama 2 tahun (2017-2019) diperkirakan akan mengalami kenaikan sebanyak 3%.
  2. Penambahan luas areal perkebunan tebu di luar Pulau Jawa, yaitu dengan mengadakan lahan untuk pengembangan tebu seluas 600 ribu hektar tiap tahunnya.
  3. Penetapan 10 provinsi pengembang tebu di luar Pulau Jawa, yaitu kawasan yang akan dijadikan sentra perkebunan tebu seperti Aceh, Sumatera Selatan, Lampung, NTB, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku, Gorontalo, dan Papua.
  4. Revitalisasi on Farm dan off Farm, yaitu dengan peremajaan mesin produksi yang sudah tua.
  5. Pembangunan 10 pabrik gula, dengan harapan mampu mendorong rendemen tebu secara bertahap.

Pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2019. Pada tahun ini ditargetkan produksi gula akan naik karena faktor iklim yang akan mendukung petani tebu. Perluasan lahan juga akan dilakukan pemerintah melalui lahan masyarakat dan PT Perkebunan Nusantara dengan memanfaatkan lahan PT Perhutani seluas 67. Ribu hektar. Namun di samping itu terdapat lemahnya pembinaan petani yang menyebabkan kualitas tebu turun sehingga tidak dianggap menguntungkan. Sehingga petani petani tidak bersemangat untuk menanam tebu.