Kultur Chlorella sebagai Pakan Alami Organisme Air

Alga hijau (Chlorella) / Wikiwand

Chlorella merupakan salah satu pakan alami organisme air yang berasal dari jenis alga hijau renik bersel tunggal yang di alam termasuk dalam organisme fitoplankton. Alga ini termasuk ke dalam famili Chlorellacea kelompok Chlorophyceae yang merupakan organisme salah satu jenis pakan alami dalam budidaya ikan dan udang, termasuk lobster dan dapat juga digunakan sebagai pakan alami untuk rotifera.

[Baca juga: Mengenal Azolla sebagai Pakan Alternatif Ikan]

Chlorella memiliki sel yang berdiameter sekitar 4-9 mikrometer dan berwarna hijau karena alga ini memiliki klorofil. Dinding selnya keras, terdiri atas selulosa dan pectin. Alga ini berkembangbiak secara aseksual dengan pembelahan sel, tetapi dapat pula dengan autospora dari sel induknya.

Chlorella dapat hidup di perairan tawar ataupun perairan laut yaitu pada salinitas 0-35 ppt. Salinitas optimum dalam pertumbuhan alga itu yaitu sebesar 10-20 ppt sedangkan suhu optimalnya pada kisaran 2 -35°C. Pada suhu tinggi, chlorella masih dapat hidup hanya saja tidak dapat tumbuh berkembang.

Alga ini termasuk ke dalam alga hijau yang melakukan fotosintesis, sehingga dalam kulturnya alga ini memerlukan pupuk dan sinar matahari yang optimal untuk menunjang proses fotosintesisnya. Pada kultur skala massal atau produksi dengan volume lebih dari 100 liter dibutuhkan jenis pupuk seperti ZA sebanyak 100 mg/liter, urea sebanyak 10 mg/liter, dan TSP (harus dihancurkan terlebih dahulu) sebanyak 30 mg/liter.

Dalam usaha kultur chlorella juga perlu disiapkan aerasi yang sangat diperlukan untuk membantu mempercepat kelarutan oksigen kedalam air dan sekaligus untuk pengadukan yang berguna untuk setiap chlorella dapat memperoleh cahaya yang menunjang proses fotosintesisnya. Aerasi optimal yang digunakan dalam kultur massal chlorella sebesar 10% volume medium per menit.

Teknik Kultur Chlorella

Kultur murni dapat dilakukan di laboratorium. Tujuan dari kultur murni di laboratorium ini adalah memperoleh bibit chlorella yang kemudian dapat dikembangbiakkan secara massal.

  1. Mensterilisasikan alat yang akan digunakan dengan autoclave pada suhu 121°C selama 30 menit atau pemberian klorin 150 ppm yang kemudian dinetralkan dengan natrium tiosulfat 45 ppm, dan setelahnya diisi air laut yang sudah disterilkan dengan sinar ultraviolet.
  2. Pemupukan yang mulanya membuat larutan stok pupuk dengan kosentrasi 1000 kali larutan yang dibutuhkan (pupuk urea 10 gram per liter) yang selanjutnya ditambah setiap media budidaya dengan 1 ml larutan stok pupuk tersebut.
  3. Inokulasikan bibit chlorella pada media budidaya dengan kepadatan 1-2 x 106 sel per ml.
  4. Pemberian aerasi dan pemberian cahaya yang dapat menggunakan lampu neon.
  5. Chlorella skala massal

Setelah bibit dari kultur murni dipanen, lalu diterbar di bak atau kolam untuk dikembangkan secara massal dalam jumlah besar, yaitu dengan cara sebagai berikut :

  1. Mensterilisasikan kolam atau bak pemeliharaan dengan tinggi bak atau kolam tersebut sebesar 0,5-2 meter.
  2. Pengisian air dengan air yang telah disterilkan menggunakan sand filter dan disaring lagi menggunakan plankton net (mesh size 25 µm)
  3. Pemupukan dengan kosentrasi yang sudah dijelaskan diatas
  4. Inokulasi bibit dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 6-7 dengan kepadatan 1-2 x 100 sel per ml.

Chlorella biasanya dapat dipanen setelah 5-7 hari yang selanjutnya dapat digunakan sebagai pakan larva ikan atau zooplankton dan dapat dikembangkan kembali. Namun, waktu panen dapat dipengaruhi pula dengan cuaca. Waktu panen chlorella juga dapat dipengaruhi derngan adanya organisme lain karena apabila terdapat kontaminasi dari organisme lain seperti protozoa akan mengakibatkan terhambatnya perkembangan chlorella. Sehingga untuk mencegah kontaminasi terhadap organisme lain tersebut, dapat digunakan larutan klorin sebanyak 10 gram per m3 dalam air kultur selama 15-30 hari.