Lima Hal Penting dari Cacing Anisakis dalam Produk Ikan Kaleng

Cacing Anisakis Simplex / depositphotos.com

Cacing Anisakis menjadi marak diperbincangkan akhir-akhir ini dikarenakan telah ditemukan dalam produk ikan kaleng beberapa merek ternama. Cacing ini ditemukan setelah pengujian yang dilakukan oleh Badan POM. Berikut terdapat 5 hal penting yang perlu Anda ketahui mengenai cacing Anisakis.

Sifat Fisik

Cacing Anisakis (Anisakis) merupakan cacing parasit dari keluarga Anisakidae yang terdiri dari beberapa spesies. Beberapa spesies yang sudah ditemukan telah menyerang manusia adalah spesies Pseudoterranova sp., Contracaecum sp., dan Anisakis simplex. Namun, dari spesies-spesies tersebut yang paling banyak menyerang manusia adalah spesies Anisakis simplex. Larva cacing Anisakis memiliki panjang sekitar 11-35 mm, dan lebar 0,4-0,6 mm. Untuk panjang cacing Anisakis dewasa jantan mencapai panjang 38-60 mm, dan cacing Anisakis betina mencapai panjang 45-80 mm.

Membutuhkan Inang

Cacing Anisakis merupakan cacing parasit yang membutuhkan inang untuk kelangsungan hidupnya. Sebaran cacing parasit ini tergantung pada ketahanan inangnya, yaitu mamalia laut. Daya tahan inang yang rendah akan meningkatkan ketahanan hidup dan sebaran cacing ini di dalam tubuh mamalia laut sebagai inangnya. Mamalia laut yang merupakan inang dari cacing Anisakis adalah paus dan lumba-lumba. Pola penyebaran cacing ini tergantung dari pola migrasi yang dilakukan oleh inangnya.

[Baca juga: Mengenal Pakan Ikan Alami dan Karakteristiknya]

Penyebaran cacing Anisakis di perairan Indonesia adalah di daerah perairan yang menjadi pola migrasi paus dan lumba-lumba, seperti di perairan sekitar Taman Nasional Komodo, Pulau Alor, Pulau Antar, Lembata, dan Nusa Tenggara Timur. Selanjutnya larva-larva dari cacing ini akan menyebar ke ikan-ikan karnivora yang biasanya menjadi ikan konsumsi bagi manusia, seperti salmon, cod, makarel, kakap, kerapu, kembung, kuwe, dan ikan-ikan karnivora lainnya. Sebaran cacing ini dalam tubuh ikan dapat ditemukan di mulut, lambung, usus, hati, rongga tubuh, gonad, dan ginjal serta beberapa dapat ditemukan di otot ikan (daging ikan).

Siklus Hidup

Siklus hidup cacing Anisakis sebelum dapat menyerang kedalam tubuh manusia adalah berasal dari mamalia laut. Anisakis dewasa hidup di dalam tubuh mamalia laut seperti paus dan lumba-lumba. Kemudian cacing tersebut akan berkembang biak dalam usus mamalia laut. Telur cacing tersebut akan dikeluarkan dari tubuh mamalia laut bersamaan dengan feses, yang kemudian menetas menjadi larva di perairan laut. Larva cacing ini akan dimakan oleh crustacea, seperti udang Thysanoessa yang selanjutnya crustacea tersebut akan dimakan oleh ikan-ikan karnivora yang menjadi ikan konsumsi bagi manusia. Manusia yang mengonsumsi ikan atau cumi dalam bentuk mentah atau kurang masak dapat terserang cacing Anisakis yang menyebabkan penyakit Anisakidosis (Infeksi cacing Anisakis).

Penyebab Infeksi

Cacing Anisakis merupakan salah satu cacing parasit dalam tubuh ikan yang dapat ditularkan ke manusia dan mampu menyebabkan infeksi. Gejala terserangnya infeksi cacing Anisakis dalam tubuh manusia adalah merasa nyeri perut, mual, muntah, reaksi alergi, demam, diare, dan adanya darah pada feses. Gejala infeksi cacing ini pada lambung akan terlihat 12-24 jam setelah mengonsumsi ikan mentah atau kurang masak yang masih mengandung larva cacing Anisakis hidup.

Pencegahan Infeksi

Infeksi cacing Anisakis dapat dicegah dengan tidak mengonsumsi ikan dalam bentuk mentah ataupun kurang masak. Penggaraman, pengasapan, dan pembekuan ikan yang tidak sempurna dapat mengakibatkan larva cacing Anisakis dalam tubuh ikan masih bertahan hidup. Larva cacing Anisakis akan mati seluruhnya apabila ikan dimasak pada suhu 70°C, disimpan dalam suhu -20°C selama 24-72 jam, atau dengan penggaraman dengan kosentrasi garam 25% merata di seluruh permukaan daging ikan selama 48-72 jam.

Tidak perlu takut untuk mengonsumsi ikan. Ikan memiliki gizi yang sangat baik terutama kandungan proteinnya tinggi dan berguna bagi tubuh manusia. Apabila ikan disimpan dan dimasak dengan baik sebelum dikonsumsi, kita akan dengan aman mendapatkan gizinya tanpa khawatir akan adanya mikroorganisme yang hidup didalamnya.