Melestarikan Keberadaan Teripang yang Kian Terancam

Teripang merupakan salah satu jenis timun laut (sea cucumbers) yang termasuk kedalam kelompok Holothuroidea yang dikomersialkan untuk konsumsi. Tidak semua jenis timun laut adalah teripang. Istilah dalam penyebutan oleh masyarakat teripang dan timun laut adalah sama, namun yang benar adalah teripang merupakan salah satu jenis dari timun laut yang dapat dikonsumsi. Penyebutan teripang dikenal setelah jenis timun laut ini populer di pangsa pasar internasional.

[Baca juga: Ikan Capungan Banggai sebagai Ikan Endemik Indonesia]

Teripang hidup di habitat perairan laut dangkal dengan substrat dasar pasir, lumpur ataupun terumbu karang. Teripang merupakan hewan bentik yang gerakannya sangat lambat. Dalam rantai makanan (food chain) di daerah terumbu karang, teripang merupakan komponen penting karena berasosiasi dengan ekosistemnya pada berbagai tingkat trofik. Teripang berperan penting sebagai pemakan deposit (deposit feeder) dan pemakan suspensi (suspensi feeder). Peran teripang hampir mirip dengan peran yang dilakukan cacing tanah di daratan yaitu teripang mencerna sejumlah besar sedimen, sehingga terjadi pengadukan lapisan atas sedimen di tempat teripang tersebut berada yang kemudian memungkinkan terjadinya oksigenisasi. Proses tersebut dapat mencegah terjadinya penumpukan busukan benda organik dan sangat mungkin membantu mengontrol populasi hama dan organisme patogen termasuk bakteri tertentu.

Pemanfaatan Teripang

Berdasarkan yang dipaparkan Darsono (2003) dalam tulisannya dengan judul “Sumber Daya Teripang dan Pengelolaannya” di jurnal LIPI, bahwa selain memiliki fungsi ekologis seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, teripang juga memiliki fungsi ekonomis. Teripang termasuk timun laut yang popular di pangsa pasar terutama Cina, Taiwan dan Hongkong. Hal tersebut dikarenakan teripang dimanfaatkan menjadi jenis bahan makanan tradisional di negara – negara tersebut. Teripang memiliki kandungan gizi yang tinggi untuk digunakan sebagai makanan berkhasiat obat. Komposisi daging teripang yaitu terdiri atas 43% protein, 2% lemak, 17% kadar air, dan 21% mineral. Kandungan lemak yang rendah yang dimiliki teripang membuat teripang menjadi bahan makanan yang berkhasiat terutama untuk penderita kolesterol.

Akibat peningkatan permintaan terhadap pasok teripang di pangsa pasar menyebabkan stok teripang di alam kian menyusut seiring terjadinya peningkatan jumlah penangkapan terhadap teripang di alam. Apabila tidak dikelola dengan baik, hal tersebut dapat mengakibatkan terancamnya keberdaan teripang di alam terutama untuk jenis – jenis teripang yang termasuk dalam kategori relatif mahal seperti teripang pasir atau teripang putih, Holothuria scabra, teripang susuan, H. nobilis dan H fuscogilva, teripang nenas, Thelenota ananas.

Pelestarian Teripang

Pengendalian terhadap penangkapan teripang di alam dapat didukung dengan upaya lain untuk tetap bisa memproduksi teripang demi memenuhi permintaan di pangsa pasar. Menurut Darsono (2003) dalam tulisan yang telah dijelaskan sebelumnya juga telah memaparkan upaya perlindungan dan pelestarian stok teripang di alam yaitu dengan pengayaan stok teripang dan budidaya teripang. Pengayaan stok teripang harus didukung pula akan kelestarian habitatnya terutama yang sangat krusial yaitu terumbu karang. Hal tersebut juga harus didukung dengan berbagai penelitian hasil rekayasa yang dapat menghasilkan benih terbaik teripang guna mewujudkan usaha pembenihan teripang. Hal tersebut akan mendorong usaha budidaya teripang. Di Indonesia, budidaya teripang sudah dikembangkan untuk jenis – jenis teripang tertentu terutama yang populer di pangsa pasar.

Pelestarian teripang harus diperhatikan seiring dengan peningkatan permintaan teripang di pasaran sehingga mengakibatkan peningkatan penangkapan pula terhadap teripang di alam, karena teripang memiliki peranan penting di habitat alaminya dan rantai makanan yang berlangsung dalam ekosistem tersebut. Perlu adanya pengendalian pula terhadap penangkapan teripang jenis tertentu yang sudah sulit ditemukan di alam sehingga diperlukan dukungan dari hasil penelitian – penelitian ilmiah terhadap stok teripang di alam.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Fantria Imrantika

Student of Fisheries Resources Management at Universitas Gadjah Mada.