Menengok Lelang Cabai di Kulon Progo, Solusi Sistem Pemasaran bagi Petani

Cabai untuk dilelang / dokumentasi

Kulon Progo merupakan salah satu kabupaten yang terletak di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Daerah ini, tepatnya di Kecamatan Panjatan merupakan salah penghasil cabai, terutama jenis cabai merah besar. Uniknya, tempat budidaya cabai ini tidak di ladang atau lahan pada umumnya melainkan banyak yang di lahan pasir pantai. Hasil yang didapat ternyata cukup memuaskan, sehingga banyak para petani yang membudidayakan cabai di lahan pasir pantai yang sebelumnya belum termafaatkan secara maksimal.

[Baca juga: Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Budidaya Cabai di lahan Pasir Pantai]

Kegiatan budidaya di lahan pasir pantai mulai berkembang di Kulon Progo, tidak hanya cabai tetapi juga ada semangka, melon, dan mentimun. Cabai yang merupakan komoditas pokok yang permintaannya selalu tinggi menjadi primadona petani untuk dibudidayakan. Namun lama-kelamaan petani mulai menemukan masalah, yaitu di akses pasar yang sulit dan terutama pada masa panen dengan harga komoditas yang merosot. Untuk menghindari permainan harga ini, sekitar tahun 2005 para petani dan kelompok tani membentuk sebuah sistem untuk memasarkan hasil panen, yaitu menjual dengan cara lelang.

Lelang cabai merupakan sebuah solusi sistem pemasaran yang dapat meningkatkan pendapatan petani. kegiatan lelang sebenarnya merupakan pasar yang diatur untuk menyeimbangkan pengetahuan antar pelaku, mengurangi kemungkinan terjadinya under value pada suatu barang tertentu, dan dapat menciptakan mekanisme penentuan harga yang terbuka. Dengan demikian, pada dasarnya pasar lelang ditujukan untuk menciptakan transparansi harga melalui mekanisme tawar-menawar langsung antara penjual dan pembeli. Menurut Sudiro, sebagai ketua kelompok tani lelang atau yang sering dikenal sebagai ketua ASPARTAN (Asosiasi Pasar Tani) ini, pasar lelang akan sangat membantu petani dan konsumen, harga cabai tidak akan dipermainkan tengkulak, dan harga di tingkat konsumen pun tidak terlalu tinggi.

Kegiatan lelang cabai diawali dengan pengumpulan hasil petik atau panen para petani. Cabai dibedakan berdasarkan tiap varietasnya, karena harganya pun juga nantinya akan berbeda. Waktu lelang cabai sudah ditentukan dan sudah menjadi kebiasaan sehingga para petani dan pedagang sudah mengetahuinya. Pedagang yang akan membeli juga harus terdaftar terlebih dahulu, jadi tidak sembarang pedagang dapat mengikuti lelang.

Lelang cabai biasanya dilakukan secara tertutup. Para pembeli hanya disediakan kertas untuk menuliskan harga untuk membeli cabainya dan dimasukkan ke dalam kotak yang sudah disediakan. Hal ini dilakukan agar tidak ada pedagang yang bersaing sacara berlebihan. Selanjutnya harga-harga dibacakan dari setiap pedagang yang melelang dan pemenangnya adalah yang menuliskan harga tertinggi untuk membeli cabai para petani.

Para petani yang mengikuti lelang cabai ini merasa puas dan memiliki respon yang positif. Dari hasil penelitian pun menyimpulkan bahwa sebagian besar atau lebih dari 50% petani lahan pasir pantai memiliki respon yang tinggi terhadap sistem lelang cabai. Sistem ini dapat memberikan keuntungan bagi petani dan meningkatkan harga jual cabai. Dengan adanya sistem lelang, petani juga dapat meningkatkan kerjasama anggota sehingga dapat mengembangkan kelompok taninya.

Kegiatan lelang cabai yang dilaksanakan di Kulon Progo dinilai efektif. Dari hasil penelitian sebanyak 88,33% petani menilainya sistem lelang ini sebagai sistem pemasaran yang efektif. Faktor positif yang berpengaruh adalah sikap dari para petani dan peran ketua kelompok. Semakin positif sikap petani, maka lembaga pasar lelang semakin efektif. Semakin tinggi peran ketua kelompok, maka lembaga pasar lelang semakin efektif.

Dari lelang cabai yang sudah terlaksana di Kulon Progo atau Kecamatan Panjatan ini diharapkan dapat diterapkan juga oleh kelompok tani cabai yang lain. Sistem lelang ini sudah terbukti memiliki dampak positif bagi para petani dan mengurangi permainan harga di pasar.