Mengatasi Masalah Perbenihan, 2018 Menjadi Tahun Perbenihan Indonesia

Tahun 2018 ini menjadi tahun perbenihan Indonesia. Masalah perbenihan akan lebih diprioritaskan pada tahun ini, setelah tahun lalu berhasil menghentikan ketergantungan terhadap impor tanaman pangan strategis seperti padi dan jagung. Berbagai langkah dan strategi sudah dipersiapkan pemerintah untuk mendukung pengembangan perbenihan ini. Hal ini karena sudah sejak lama perbenihan menjadi masalah sektor pertanian Indonesia.

[Baca juga: Menengok Komoditas Unggulan Pertanian Indonesia ]

Masalah perbenihan selalu muncul karena Indonesia masih belum bisa memproduksi benih, bagi secara kuantitas maupun kualitas. Benih sangat menentukan hasil budidaya, oleh karena itu jika benih yang diproduksi belum memiliki kualitas terbaik maka hasil produksinya pun tidak akan maksimal. Dengan adanya benih yang berkualitas akan sangat mendukung terjaganya ketahanan pangan Indonesia.

Belum semua petani di Indonesia menggunakan benih yang berkualitas. Petani di Jawa memang mayoritas sudah menggunakan benih unggul, namun di luar Jawa dan daerah terpelosok sangat banyak yang hanya mengandalkan benih produksi sendiri. Contoh kasusnya adalah pada komoditas padi yang membutuhkan sekitar 400 ribu ton benih dan baru 60%-nya yang telah bersertifikat atau unggul. Begitu pula dengan jagung dan kedelai yang masing-masing membutuhkan 60 ribu ton dan 35 ribu ton benih unggul.

Perbenihan Hortikultura dan Perkebunan

Perbenihan tanaman hortikultura dan perkebunan juga akan secara besar-besaran dikembangkan. Pemerintah sudah menganggarkan dana senilai 2,1 triliun rupiah untuk memproduksi benih unggul dan akan diberikan kepada petani secara gratis. Hal ini dilakukan karena tanaman perkebunan sudah seharusnya menjadi harapan hidup sebagian besar masyarakat Indonesia, apalagi komoditas jenis rempah-rempah yang seluruhnya dikelola oleh perkebunan rakyat. Langkah ini diharapkan juga mampu mengembalikan kejayaan rempah-rempah Indonesia.

Ditjen Perkebunan pada tahun ini akan berfokus dalam pengembangan perbenihan lahan seluas 140.892 hektar dengan kebutuhan benih 42,54 juta batang. Untuk mendukung langkah ini akan mengembangkan instalasi perbenihan oleh BPTP, inisiasi desa mandiri benih, penyempurnaan regulasi perbenihan, sertifikasi, dan mendorong produksi benih penjenis atau breeder seed serta usaha mandiri dari produsen benih. Selain itu, juga akan dilakukan pendekatan kawasan serta difokuskan pada peningkatan mutu dan daya saing melalui upaya penyediaan sarana pengolahan dan pascapanen terpadu, fasilitas pemasaran, dan standarisasi mutu produk.

Untuk realisai tahun perbenihan ini, Balitbang Kementerian Pertanian siap mengembangkan benih komoditas strategis. Komoditas tanaman pangan yang akan lebih dikembangkan adalah padi, jagung, dan kedelai. Bawang putih, bawang merah, kentang, petai, jengkol, dan beberapa jenis buah seperti mangga, jeruk, manggis, salak, durian, pisang, apel, sukun, dan pepaya adalah untuk komoditas hortikultura. Sementara, untuk perkebunan adalah tebu, kopi, kakao, kelapa, jambu mete, karet, cengkeh, pala, dan kayu manis.

Dalam mendukung terciptanya banyak inovasi, pemerintah juga tebuka dalam upaya pengembangan perbenihan ini. Pemerintah mengajak para peneliti dari lembaga manapun maupun perguruan tinggi yang mampu memproduksi benih tanaman dengan kualitas tinggi akan didanai hingga penelitiannya selesai. Hal ini dilakukan untuk mendukung terciptanya benih berkualitas yang merupakan hasil anak bangsa.

Dengan adanya upaya bantuan dan pengembangan benih unggul dari pemerintah yang nantinya disalurkan kepada petani, diharapkan mampu membantu perekonomian petani dengan memberikan jaminan akan hasil panen yang menguntungkan. Selain itu, juga dapat mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.