Mengenal Good Agricultural Practices (GAP) sebagai Sistem Pertanian Terbaik

Safe farming / Vietnam Insider

Pada umumnya masyarakat hanya memahami pertanian organik sebagai sistem budidaya tanaman terbaik yang ramah lingkungan sekaligus menghasilkan produk makanan yang aman dikonsumsi. Namun, sistem pertanian organik ternyata bukan merupakan satu-satunya yang terbaik dalam teknis budidaya. Food and Agricultural Organization (FAO) sebagai organisasi pangan dan pertanian dunia menyusun sebuah sistem pertanian yang banyak memiliki keuntungan, yakni Good Agricultural Practices (GAP).

[Baca juga: Sertifikasi Produk Pertanian]

Good Agricultural Practices (GAP) berkesinambungan dengan sistem pertanian terpadu. GAP diterapkan sebagai pedoman dalam teknis budidaya tanaman dalam skala luas. Apabila pertanian organik hanya mengatur penggunaan bahan kimia, GAP secara menguntungkan mengatur praktik pertanian yang mencakup seluruh aspek, mulai dari teknis budidaya, hingga aspek manajemen petani yang terangkum dalam Standard Operational Procedure (SOP). Terdapat empat prinsip utama dalam sistem GAP, (1) penghematan dan ketepatan produksi untuk ketahanan pangan, keamanan pangan, dan pangan bergizi, (2) berkelanjutan dan bersifat menambah sumber daya alam, (3) pemeliharaan kelangsungan usaha pertanian dan mendukung kehidupan yang berkelanjutan, serta (4) kelayakan dengan budaya dan kebutuhan suatu masyarakat.

Penerapan sistem pertanian yang baik ini akan mengarahkan bagaimana melakukan praktik budidaya yang mempengaruhi kualitas produksi, lingkungan, serta kesehatan dan keselamatan kerja. GAP mengupayakan hubungan positif antara manusia dan lingkungan tanpa mengabaikan keuntungan ekonomis. Korelasi ini mendukung pembangunan jangka panjang atau berkelanjutan, bukan hanya mengejar produktivitas tinggi tanpa mempertimbangkan kondisi lingkungan sebagai penyedia sumber daya maupun kesejahteraan dan kesehatan petani sebagai produsen, serta keamanan dan hak perolehan gizi konsumen.

Sertifikasi GAP

Beberapa negara maju telah menetapkan GAP sebagai sistem pertanian mereka, seperti Amerika Serikat, negara-negara Uni Eropa, dan Australia. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), selain menetapkan pedoman pertanian GAP, juga mengeluarkan sertifikat produksi pertanian pangan yang aman untuk produk pertanian hasil praktik GAP. Tanpa sertifikat tersebut, produk GAP tidak dapat dipasarkan. Di Indonesia, sistem GAP masih sangat awam bagi petani maupun konsumen. Umumnya hanya perusahaan pertanian skala besar yang memahami, serta memiliki sertifikasi GAP. Namun, khusus di Yogyakarta, GAP telah merambah produsen komoditas salak pondoh di Kabupaten Sleman.

Petani salak pondoh di Kabupaten Sleman sudah sejak lama menerapkan GAP, sebagian juga sudah memiliki nomor registrasi kebun dari dinas terkait. produsen yang memiliki nomor registrasi dapat memasarkan produk salak pondohnya ke pasar internasional. Rata-rata harga jual ekspor salak pondoh mencapai Rp 6.000/kg, jauh lebih tinggi dari harga jual domestik yang saat ini cenderung rendah, yakni berkisar antara Rp 2.000 – 2.500/kg. Setelah melengkapi registrasi kebun dan SOP, produsen dapat menerima sertifikat prima untuk produk pangan segar. Sertifikat GAP global akan melegalkan produsen untuk memasarkan produknya dan bersaing dengan produk dari negara lain. Sertifikasi merupakan jaminan terhadap konsumen mengenai produk pangan bersangkutan bahwa produk tersebut aman dikonsumsi. Sertifikasi yang menguntungkan ini diharapkan dapat memotivasi produsen untuk menerapkan sistem pertanian yang baik.

Kajian lebih lanjut dibutuhkan dalam menganalisis bagaimana pengaruh GAP terhadap pendapatan dan kondisi rumah tangga petani, produktivitas, hingga kelestarian lingkungan mengingat minimnya informasi untuk produsen maupun konsumen pada sistem pertanian ini, serta perbedaan penerapan GAP untuk komoditas yang berbeda. Selanjutnya, diharapkan GAP dapat mulai menyentuh komoditas tanaman pangan sebagai sektor penting di bidang pertanian dengan tujuan utama menjaga ketahanan pangan nasional.

Referensi:

Effendi, B. S. 2009. Strategi pengendalian hama terpadu tanaman padi dalam perspektif praktek pertanian yang baik (Good Agricultural Practices). Jurnal Pengembangan Inovasi Pertanian 2(1): 65-78.

Kasryno, F., dan Haryono. 2014. Praktek Pertanian yang Baik Sebagai: Implementasi Politik Pertanian Indonesia. Balai Litbang Pertanian, Jakarta.