Mengenal Jenis Hama Penting Jagung dan Cara Pengendaliannya

Penggerek Batang (Ostrinia furnacalis)

Gejala akibat larva hama ini mempunyai karakteristik kerusakan berupa lubang kecil pada daun, lubang gorokan pada batang, dan kondisi parahnya batang akan mudah patah. Pada umumnya jumlah telur mencapai 90 butir dan diletakkan pada tulang daun bagian bawah dari tiga daun teratas. Ulat yang keluar dari telur menuju bunga jantan dan menyebar bersama angin dan ada yang langsung menggerek tulang daun yang telah terbuka, kemudian menuju batang dan menggerek batang tersebut serta membentuk lorong mengarah ke atas.

[Baca juga: Jenis Penyakit Penting Jagung dan Cara Pengendaliannya]

Pengendalian dapat dengan melakukan tumpang sari tanaman jagung dengan kedelai atau kacang tanah. Selai itu bisa juga dengan memanfaatkan musuh alami parasitoid Trichogramma spp. yang dapat memarasit telur dan predator Euborellia annulata yang akan memangsa larva dan pupa hama ini. Dapat juga dengan cara kimia menggunakan insektisida Carbofuran 3% di pucuk tanaman sebanyak 2-3 gram tiap tanaman.

Ulat Grayak (Spodoptera litura F.)

Gejala Serangan larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas, transparan, dan bisa sampai tinggal tulang-tulang daun saja. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun, umumnya berkembang pada musim kemarau. Ulat ini muncul di pertanaman setelah 11-30 hari setelah tanam. Serangan pada tanaman muda dapat menghambat pertumbuhan tanaman bahkan dapat mematikan tanaman.

Pengendalian dilakukan dengan pengolahan tanah yang intensif dan memusnahkan tanaman yang memiliki gejala serangan. Dapat juga menggunakan perangkap feromonoid seks untuk ngengat sebanyak 40 buah per hektar atau 2 buah per 500 m2 dipasang di tengah pertanaman sejak tanaman berumur 2 minggu. Pemanfaatan musuh alami bisa menggunakan predator Sycanus sp. dan Andrallus spinideus. Pengandalian kimia bisa dengan insektisida Carbofuran 3% dan diberikan pada pucuk tanaman.

Penggerek Tongkol (Helicoverpa armigera Hbn.)

Hama ini berupa serangga yang akan meletakkan telur pada silk jagung dan sesaat setelah menetas larva akan menginvasi masuk kedalam tongkol dan akan memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Serangga ini akan menurunkan kualitas dan kuantitas tongkol jagung. Serangan biasanya muncul di pertanaman pada umur 45-56 hari setelah tanam, bersamaan dengan munculnya rambut-rambut tongkol.

Pengendalian dilakukan dengan pengolahan tanah yang baik karena mampu merusak pupa serangga ini. pengendalian dengan musuh alami bisa dengan parasit Trichogramma sp. yang merupakan parasit telur hama ini. pengendalian kimia bisa dengan penyemprotan insektisida Decis setelah terbentuknya rambut jagung pada tongkol dan diteruskan selama 1-2 hari hingga rambut jagung berwarna coklat.

Lalat Bibit (Atherigona sp.)

Hama ini berupa serangga yang jika dewasa sangat aktif terbang dan sangat tertarik pada kecambah atau tanaman yang baru muncul di atas permukaan tanah. pada umumnya kelembaban yang tinggi sangat mendukung perkembangan spesies ini. Jika kondisi sangat kering, telur akan gagal menetas atau larva mati sebelum dia mampu melakukan penetrasi batang. Larva yang baru menetas melubangi batang yang kemudian membuat terowongan hingga dasar batang sehingga tanaman menjadi kuning dan akhirnya mati. Jika tanaman mampu bertahan setelah serangan, maka pertumbuhan tanaman menjadi kerdil.

Pengendalian dilakukan dengan mengubah waktu tanam karena lalat bibit hanya beraktivitas selama satu sampai dua bulan musim hujan dan dengan pergiliran tanaman dengan tanaman bukan padi tanaman dengan tanaman bukan padi. Pengendalian musuh alami bisa dengan Trichogramma spp. yang akan memarasit telur hama dan Clubiona japonicola yang merupakan predator imagonya.

Pengendalian dengan insektisida dapat dilakukan dengan perlakuan benih (seed dressing), yaitu Thiodikarb dengan dosis 7,5-15 gram per kg benih. Selanjutnya, setelah tanaman berumur 5-7 hari, tanaman disemprot kembali dengan Thiodikarb 0,75 kg per ha. Penggunaan insektisida hanya dianjurkan di daerah endemik.


Baca Artikel Lainnya:

Post Author: Arinda Dwi Yonida

Editor - Mahasiswa Agribisnis UGM - arinda@farming.id.