Mengenal Jenis Penyakit Penting Jagung dan Cara Pengendaliannya

Tanaman jagung / Pixabay

Di akhir tahun 2017 Indonesia telah diproyeksikan berada di posisi tujuh sebagai negara penghasil jagung terbesar dunia berdasarkan Organisasi Pertanian Dunia (FAO). Namun, sebenarnya Indonesia mampu untuk lebih banyak memproduksi  jagung. Masih rendahnya hasil jagung di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor, terutama serangan penyakit. Berikut akan dibahas beberapa penyakit penting pada tanaman jagung dan bagaimana cara pengendaliannya.

[Baca juga: Jenis Hama Penting Jagung dan Cara Pengendaliannya]

Bulai (Peronosclerospora maydis)

Gejala penyakit ini terjadi pada permukaan daun jagung berwarna putih sampai kekuningan diikuti dengan garis-garis klorotik dan ciri lainnya adalah pada pagi hari di sisi bawah daun jagung terdapat lapisan beledu putih. Penyakit bulai pada tanaman jagung menyebabkan gejala sistemik yang meluas keseluruh bagian tanaman dan menimbulkan gejala lokal. Tanaman yang terinfeksi penyakit bulai pada umur masih muda biasanya tidak membentuk buah, tetapi bila infeksinya pada tanaman yang lebih tua masih terbentuk buah dan umumnya pertumbuhannya kerdil.

Pengendalian bisa dengan menggunakan varietas tahan, seperti Srikandi, Lamuru, dan Gumarang. Selain itu, bisa dilakukan penanaman serempak dan melakukan periode waktu bebas tanaman jagung minimal dua minggu sampai satu bulan di setiap tahunnya. Jika sudah ada yang terinfeksi bisa dilakukan eradikasi atau pemusnahan total. Untuk pencegahan juga bisa digunakan fungisida metalaksil pada benih tanaman dengan dosis 0,7 gram bahan aktif pada tiap kg benih.

Bercak Daun (Bipolaris maydis Syn)

Gejala penyakit ini terjadi ketika muncul bercak daun berwarna hijau kekuningan atau cokelat kemerahan. Ketika bibit jagung yang terkena bisa layu atau mati dalam waktu 3-4 minggu. Jika tongkol yang terinfeksi akan menyebabkan biji rusak dan busuk, bahkan tongkol dapat gugur. Infeksi penyakit ini bisa terbawa angin atau percikan air hujan dan dapat menimbulkan infeksi pertama pada tanaman jagung.

Pengendalian bisa dengan menggunakan varietas tahan, seperti Bima 1, Sukmaraga, dan Palakka. Jika terlihat tanaman yang sudah terinfeksi maka harus segera dieradikasi. Dapat juga dilakukan pemberian fungisida dengan bahan aktif mancozeb dan carbendazim.

Hawar Daun (Rhizoctonia solani)

Gejala penyakit ini terjadi ketika muncul bercak kerdil berbentuk oval kemudian bercak semakin memanjang berbentuk elips dan berkembang menjadi nekrotik dan disebut hawar. Bercak berwarna hijau keabu-abuan atau coklat dan muncul awal pada daun yang terbawah kemudian berkembang menuju daun atas. Infeksi berat dapat mengakibatkan tanaman cepat mati atau mengering dan cendawan ini tidak menginfeksi tongkol atau klobot.

Pengendalian bisa dengan menggunakan varietas tahan, seperti Bisma, Pioner 2 dan 14, serta Semar 2 dan 5. Jika terlihat tanaman yang sudah terinfeksi maka harus segera dieradikasi. Dapat juga dilakukan dengan menggunakan cendawan antagonis Trichoderma viride dan pemberian fungisida dengan bahan aktif mankozeb dan dithiocarbamate.

Karat Daun (Puccinia polysora)

Gejala penyakit ini terjadi ketika timbul bercak-bercak kecil berbentuk bulat sampai oval terdapat pada permukaan daun jagung di bagian atas dan bawah. Bercak ini menghasilkan uredospora yang berbentuk bulat atau oval dan berperan penting sebagai sumber inokulum dalam menginfeksi tanaman jagung yang lain dan sebarannya melalui angin. Penyakit karat dapat terjadi di dataran rendah sampai tinggi dan infeksinya berkembang baik pada musim penghujan atau musim kemarau.

Pengendalian bisa dengan menggunakan varietas tahan, seperti Lamuru, Sukmaraga, dan Semar 10. Jika terlihat tanaman yang sudah terinfeksi maka harus segera dieradikasi. Dapat juga dilakukan pemberian fungisida dengan bahan aktif benomil.

Busuk Batang (Fusarium sp.)

Gejala penyakit ini umumnya terjadi setelah fase pembungaan. Pangkal batang yang terinfeksi berubah warna dari hijau menjadi kecokelatan, bagian dalam busuk, sehingga mudah rebah, pada bagian kulit luarnya tipis. Pada pangkal batang terinfeksi tersebut ada yang memperlihatkan warna merah jambu, merah kecokelatan atau coklat. Penyakit ini dapat disebarkan oleh angin, air hujan, dan serangga.

Pengendalian bisa dengan menggunakan varietas tahan, seperti BISI-1, Surya, CPI-2, dan Pioneer-8. Selain itu bisa dilakukan pergiliran tanaman, pemupukan berimbang, menghindari pemberian N tinggi dan K rendah, dan drainase yang baik untuk mencegah serangan. Dapat juga dilakukan pengendalian hayati dengan cendawan antagonis Trichoderma sp.