Mengenal Kepiting Bakau dan Potensi Usahanya

Kepiting bakau / WWF

Kepiting bakau atau dalam bahasa ilmiahnya disebut Scylla sp. merupakan kepiting yang hidup di perairan payau terutama di kawasan bakau (mangrove). Kepiting bakau memiliki ciri – ciri morfologi sebagai berikut yaitu kepiting ini memiliki lebar karapas lebih besar daripada ukuran panjang tubuhnya dan permukaannya licin. Kepiting bakau jantan memiliki sepasang capit yang lebih panjang dibanding kepiting bakau betina yaitu hampir dua kali panjang karapasnya.

[Baca juga: Mengenal Ikan Gabus sebagai Ikan Banyak Manfaat]

Kepiting bakau mempunyai kaki jalan dan kaki renang sehingga disaat berada di perairan laut untuk memijah kepiting ini menggunakan kaki renangnya untuk menuju lautan sedangkan kaki jalan digunakan pada saat mereka berada di dasar perairan payau yang berlumpur. Perbedaan kepiting bakau jantan dan betina dapat dilihat dari bentuk abdomen bagian bawah tubuhnya yaitu pada kepiting bakau jantan berbentuk segitiga runcing, sedangkan pada kepiting bakau betina berbentuk segitiga melebar.

Kepiting bakau terdiri atas beberapa spesies yang dikenal yaitu Scylla serrata, Scylla tranquebaria, dan Scylla oceanica. Dari ketiga spesies ini yang banyak dibudidayan di Indonesia yaitu jenis Scylla serrata, karena jenis ini memiliki laju pertumbuhan yang lebih cepat dibanding jenis kepiting bakau yang lain dan tingkat ketahanannya pun lebih tinggi serta terutama harganya pun lebih tinggi dibandingkan spesies yang lain.

Kepiting bakau akan hidup di kawasan mangrove untuk berlindung, mencari makan, dan bertumbuhkembang. Kepiting bakau akan melakukan perkawinan di perairan payau (kawasan mangrove) yang kemudian kepiting bakau betina akan melakukan pemijahan di lautan. Setelah telur menetas, fase awal kepiting bakau disebut Zoea yang akan hidup dengan mengikuti arus menuju perairan pantai, setelah itu tumbuh menjadi Megalopa yang akan hidup di perairan estuari (payau) sampai pada kawasan mangrove akan tumbuh berkembang menjadi kepiting muda yang mendapatkan nutrisi di perairan mangrove sehingga tumbuh berkembang menjadi kepiting dewasa.

Kepiting bakau memiliki daur hidup yang mampu menjalani kehidupan di berbagai kondisi perairan. Pada saat kepiting bakau baru menetas, suhu air laut umumnya berkisar 25°C – 27°C dengan salinitas 29 – 33 ppt. Hal tersebut memiliki rentan yang cukup tinggi dari perairan pantai. Pada saat kepiting bakau dalam fase megalopa, dapat mentoleransi salinitas air yang rendah yaitu 10 – 24 ppt dengan suhu diatas 10°C.

Potensi Usaha

Kepiting bakau memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi di pasaran. Produksi kepiting bakau cukup laris di pasaran mancanegara, terutama Amerika Serikat, sebab negara tersebut merupakan konsumen kepiting tertinggi di dunia yaitu mencapai 55% dari total produksi kepiting dunia. Pada awal tahun 2017, harga kepiting bakau mencapai Rp 60.000 – Rp 120.000 tergantung beratnya. Harga kepiting sewaktu – waktu dapat berubah di pasaran yang disebabkan karena pengaruh dari kualitas dan kuantitas hasil produksi kepiting bakau.

Semakin meningkatnya permintaan kepiting bakau di pasaran akan menyebabkan semakin meningkat pula penangkapan yang dilakukan oleh nelayan terhadap kepiting bakau. Oleh karena itu Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengeluarkan peraturan penangkapan kepiting bakau untuk mencegah over-exploited terhadap kepiting bakau yang dapat mengancap ketersedian kepiting bakau di Indonesia.

Berdasarkan Permen Menteri KP No. 56/2016 bahwa kepiting yang boleh ditangkap harus dengan ukuran panjang karapas di atas 15 cm atau dengan berat diatas 200 gram. Adanya peraturan tersebut diharapkan induk kepiting bakau yang siap memijah tidak ditangkap, sehingga mampu menghasilkan telur yang akan meningkatkan jumlah ketersediaan kepiting bakau di perairan Indonesia.